Bagikan, Selagi Hangat..

27 September 2012 03:13:45 Dibaca :

Ada satu pelajaran kehidupan berharga yang bisa kupetik dari ibuku sedari kecil, dia suka berbagi. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat ibuku sibuk menjelang hari raya atau menjelang tahun ajaran baru.
Menjelang hari raya, aku sibuk menemani ibu membeli baju, sarung, peci, beras, mi instan, minyak goreng, sirup dan biskuit, untuk dibagikan kepada tukang sampah, tukang becak langganan dan hansip di kampung kami. Ada suatu kenikmatan sendiri saat memilih dan membungkus barang-barang itu, membayangkan wajah gembira para penerimanya.
Menjelang tahun ajaran baru, aku menemani ibuku membeli baju seragam, tas, buku, alat tulis dan sepatu untuk anak-anak orang tak punya yang tinggal di kampung kami. Kebetulan ibuku mempunyai beberapa anak asuh yang berasal dari kampung sendiri, tepatnya tinggal di perkampungan di depan rumah kami. Anak-anak itu kini sudah dewasa dan sudah memilih jalan hidup masing-masing. Yang rajin sekolah, sukses bekerja. Sedangkan anak asuh yang dulunya bandel banget, saat ini menjadi tukang becak . Tak masalah sih menjadi tukang becak, tapi sayang sekali, ibuku sudah membiayai dan mengejar-ngejar supaya mau sekolah dengan cara diiming-imingi uang jajan dan hadiah jika nilainya bagus, tapi malah akhirnya sama miskinnya dengan orangtuanya, tak ada perbaikan kehidupan. Yah, sudahlah, toh ibuku tak bisa memaksa anak orang lain.

Ada lagi satu hal yang aku suka. Ibuku suka sekali berbagi makanan. Jika pulang dari bepergian, tak lupa membagi oleh-oleh ke tetangga kiri kanan depan belakang (eh, gak ding, belakang rumah ibuku tanah kosong). Begitu juga jika sedang masak banyak atau ada acara, ibuku tak lupa membagi kue atau masakan buatannya.
Satu hal yang aku suka, ibuku membagikannya begitu masakan selesai dibuat.
Kata ibuku, “Bagikan selagi hangat, biar mereka ikut merasakan nikmatnya makanan ini hangat-hangat. Jangan sampai mereka mengira ini makanan sisa yang sudah tak dimakan lalu dibagikan. Gak ilok, nduk”.
“Berikan yang terbaik, nduk, jangan berikan bagian yang kurang enak atau yang sisa-sisa yang kamu gak suka. Dulu ada tetangga mama yang kaya tapi terkenal pelit. Di depan rumah mama ada janda miskin sekali. Tetangga yang pelit itu jika hari raya hanya mengirim ceker atau kepala ayam untuk ibu miskin itu. Kasihan tho, nduk. Memang jaman dulu, makan ayam itu mewah, tapi mbok ya jangan sio-sio...masa orang miskin kok dikasih ceker atau kepala aja, kasihan tho. Mbok sekali-kali dikasih pupu atau dada ayam, biar ikut merasakan enaknya daging ayam.” Sambung ibuku lagi.

Pelajaran hidup ini ingin kutularkan pada anakku. Sudah menjadi kebiasaan kami saat di Suriah, setiap pagi memberi kopi hangat dan roti bakar pada penyapu jalan yang selalu bertemu Chubby saat ia menunggu bis sekolahnya di halte di depan apartemen kami.
Setiap pagi, sambil membuat sarapan, aku juga menyiapkan sarapan untuk pak tua itu. Dan menitipkan sarapan hangat itu pada si mbak, saat ia mengantar Chubby turun ke bawah menunggu bis sekolah.
“Untuk apa sih, bu, tiap hari kasih ammu (paman) itu kopi sama roti?” tanya Chubby suatu ketika.
“Nak, kamu lihat gak? Ammu itu miskin sekali, bajunya kotor, giginya kuning jarang disikat, bekal makanannya hanya sekerat khubs (roti gepeng ala Arab) dan sebotol besar air putih yang ditaruh di botol bekas softdrink. Dia gak makan pakai apapun, padahal kerjanya capai dan panas seharian. Makanya ibu buatkan dia sarapan, roti isi jubneh (keju), selai, martadella (daging kaleng) atau telur orak-arik, biar dia makan makanan bergizi. Apalagi kalau musim salju, kasihan kalau dia tidak minum minuman hangat, ya kan.” Jawabku.
“Hmmm...gitu ya Bu..” sambung Chubby dengan tampang agak mikir-mikir.
“Ya nak, kalau bisa berbagi, bagikan hangat-hangat. Jangan bagikan sisa.” Kataku sambil senyum melirik tampang lucu si Chubby.
**^^**
Siang kemarin saat pulang sekolah...
“Bu, tabunganku hari ini berkurang, gak apa-apa ya..?” tanya Chubby.
“Emang kenapa?” aku balik bertanya.
“Tadi aku beliin Amos, anak panti, kerupuk harga gopek. Kasihan dia lapar. Dia juga aku kasih separo kue isi kejuku, katanya dia pengen banget makan roti keju.”jawab Chubby.
“Oh...iyaa....gak apa2, nak. Kasihan ya Amos. Mungkin dia jarang jajan, karena tinggal di panti asuhan. Gak apa-apa. Asal kamu cerdas dalam berbagi ya nak. Bedakan memberi untuk orang yang membutuhkan atau memberi karena temanmu maksa. Itu namanya preman kecil, tukang todong.”tambahku.
“Apaan sih preman tukang todong, bu?” tanya Chubby.
“Itu namanya anak nakal. Suka maksa-maksa anak lain untuk kasih uang atau barang ke dia. Kalau ada yang suka maksa kayak gitu, laporin ke bu guru, ya nak.”jawabku.
“Oke, bu...”

Hmm....agak lega, pelajaran kehidupan untuk saling berbagi dari ibuku sudah kutularkan ke anakku. Hanya ada pelajaran lain yang mesti aku ajarkan ke dia, yaitu untuk lebih hati-hati dan cerdas dalam memberi.

Kebiasaan berbagi seperti ini kuterapkan juga dalam berinteraksi dengan teman-temanku, siapapun itu, di Kompasiana.
Aku berusaha menyapa tiap kali mereka published tulisan, menyapa seawal mungkin, rasanya seperti memberi sepiring nasi goreng yang barusan matang dan masih panas.
Ada kepuasan tersendiri bisa ‘memberikan sepiring nasi goreng hangat spesial’ untuk temanku yang sudah susah payah membuat suatu tulisan.
Tapi namanya juga manusia, yang dalam 1 harinya sekitar 75% pikirannya lebih banyak dikuasai pikiran negatif (berdasarkan hasil penelitian yang pernah aku baca, dimana, lupa...), sapaan hangat kadang juga diartikan negatif.
Bisa jadi sepiring nasi goreng hangat yang kutawarkan tak selalu disukai, apa boleh buat. Toh, kita tak bisa memaksa orang lain untuk menyukai kita.
Sering aku dikomentari: rajin amat sih komen?
Hmmm...aku pikir, apa salah ya? Masalah buat gw?....eeeh...heheheh 
Padahal aku berusaha menghargai susah payah teman untuk menulis, dengan memberi sepotong komentar.
Yah, mungkin aku terlalu ramah dan rajin menawarkan sepiring nasi goreng hangat yang ternyata tak selalu disukai.
Ternyata aku juga harus lebih cerdas dalam memberi. Tak semua orang suka dengan pemberianku.

Salam hangat,
Tyas

NB: Kupersembahkan lagu "Caping Gunung"nya alm. Bp.Gesang buat Babeh Ahmad Jayakardi, Pakde Sakimun & Mas Joko P, penggemar lagu-lagu keroncong.
Eh, Mbah Gesang mirip banget mbah kakungku....jadi kangen mbah kakungku...hiks hikkksssss... :(

Tyas Tyas

/mama_abby

TERVERIFIKASI (HIJAU)

ya...gitu deh pokoknya... ;)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?