HIGHLIGHT

Pengusaha Kaya dan Anak-Anak

27 November 2012 04:28:58 Dibaca :

Disebuah kota yang ramah, hiduplah seorang pengusaha yang sangat kaya. Ia mempunyai puluhan mobil mewah. Rumahnya besar indah selayaknya istana. Tetapi sayangnya, pengusaha ini terlihat tidak begitu bahagia. Yang dilakukannya hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja untuk melimpahkan lagi, lagi dan lagi segala kekayaannya.


Suatu malam, pengusaha kaya ini masih bekerja menyelesaikan pekerjaannya dikamar kerja kesukaannya. Tidak begitu besar dan terlihat klasik juga tua. Hanya satu jendela didepannya untuk sekedar menikmati pemandangan diluar jika ia penat bekerja.


Ketika sedang asyik bekerja, pengusaha kaya ini mendengar suara anak-anak kecil bermain diluar. Karena penasaran dan sekedar ingin melepaskan ketegangan pikiran dan badan, pengusaha kaya ini mengintip dari jendelanya.


Dilihatnya disana, didepan tamannya yang ditumbuhi warna-warni bunga dari segala penjuru dunia, yang dipagar besi-besi tinggi dan kawat berduri, ia mendapati anak-anak tertawa kecil bermain disana. Karena penasaran dan merasa takut bunga-bunga mahal yang telah dikumpulkannya dari segala pelosok dunia akan dipetik dan rusak, pengusaha kaya ini berlari kecil menuju kesana.


“Apa yang kalian lakukan disini?”, tanya pengusaha ini mencoba ramah walaupun wajahnya seperti menahan amarah. Napasnya ngos-ngosan karena berlari. Anak-anak yang bermain didepan taman tersebut hanya tersenyum. Mereka tidak tahu bahwa mereka mungkin akan dihukum.


“Maaf tuan, kami hanya menari disini tuan. Setelah itu aku dan adikku akan pulang”, jawab anak laki-laki kecil ini yang ternyata kakak dari seorang anak yang lebih kecil darinya. “Lalu mengapa kalian menari disini? Tahukah ini sudah jam berapa? Kalian bisa saja terluka oleh kawat-kawat berduri itu”, kata pengusaha ini menasehati.


“Sekali lagi maafkan kami tuan, adikku sangat menyukai bunga-bunga ini. Jadi dia kubawa kesini untuk melihatnya. Dan aku mengajarinya menari sambil bernyanyi supaya lebih menikmatinya”, jawab sikakak sambil kembali mengajari adiknya.


“Tetapi, tetapi mengapa malam buta begini?”, tanya pengusaha ini bingung dan mulai bangga karena anak-anak sekecil mereka bisa mengerti betapa indahnya bunga yang dimilikinya. Sikakak tersenyum. Katanya.


“Tuan yang baik, pagi hari aku mengantar koran bersama adikku sekalian sambil menawarkan baju yang ingin dicuci. Setelah itu baju-baju yang kudapatkan kuberikan pada mamaku untuk mencucinya. Mamaku sudah tidak bisa jalan lagi. Jadi aku dan adikku berusaha membantunya. Dan setelah selesai mengantar baju-baju itu, aku langsung kesini dan mengajak adikku ini”.


“Tuan yang baik, kami meminta maaf jika kami telah mengganggu tuan bekerja. Tapi adikku ini kata dokter hanya bisa menemaniku satu tahun saja. Ketika kutanya pada mama mengapa harus begitu dan mengapa adikku harus tidur lama setelahnya, mama hanya menganggis dan memelukku agar menjaga adikku sungguh-sungguh dan selalu membuatnya tertawa”.


Pengusaha kaya ini terkejut dengan jawaban sikakak. Dengan suara pelan dan penuh kasih sayang, pengusaha kaya ini bertanya, “Mengapa mamamu berkata begitu?”. Sikakak tersenyum. Lalu dibukanya jaket lusuh itu dari tubuhnya. Dengan cekatan dia memeriksa setiap sakunya. Kemudian dia memberikan surat itu pada pengusaha kaya ini.


“Aku tidak tahu tuan, mama menanggis setelah melihat surat itu. Ketika mama mengoyaknya dan membuangnya, aku kumpulkan bersama adikku dan melekatkannya kembali. Tetapi aku tidak tahu apa isinya. Yang aku tahu dikertas itu ada angka yang banyak nolnya”, jawabanya polos.


“Dan kakak tidak pandai berhitung…”, jawab adik perempuannya mengodanya disertai tawa mereka yang lepas dan begitu bahagia. Lalu mereka melanjutkan menari.


Pengusaha kaya ini menutup mulutnya. Surat itu pelan-pelan basah dijatuhi tetesan air. Malam itu bulan bersinar indah dan bintang-bintang terang benderang. Ternyata, tetesan itu adalah tetesan air mata dari pengusaha kaya. Siadik menderita kelainan jantung, dan untuk itu ia perlu biaya yang sangat mahal. Yang lebih menyedihkan, sianak perempuan kecil ini jika tidak segera dioperasi akan segera meninggal.


Dengan suara yang tertahan dan terisak, pengusaha ini bertanya pada mereka. “Namaku siapa sayang?”. Sikakak tersenyum. “Namaku Mike tuan, dan ini adikku Angela”, jawab sikakak membuka topi kecilnya memberi hormat memperkenalkan diri, dan siadik menaikkan gaunnya yang lusuh penuh tambalan sedikit membungkuk selayaknya seorang putri.


“Sayang, mamamu sekarang dimana?”, tanya pengusaha kaya ini ramah dan penuh cinta pada siadik. Diberikannya dan dipakaikannya jaket mahal merk terkemuka dunia itu pada mereka untuk menghangatkan tubuh mereka sekenanya.


“Mama dirumah tuan.  Disana…, mama sedang menjahit”, tunjuk sikakak kesebuah lorong yang gelap. Setahu pengusaha kaya ini, lorong itu adalah tempat pembuangan barang bekas dan sampah. Dan mereka menyebutnya ruman? Dengan mata dan wajah yang masih basah, pengusaha kaya ini bertanya lagi.


“Sayang…, mengapa kamu bisa tertawa, menari dan begitu menikmati malam ini? Sedangkan aku sendiri setiap hari sangat kelelahan dan untuk tertawa saja harus dibeli. Apa rahasianya? Kalau ada bolehkah aku memintanya?”, tanya pengusaha ini berlutut sambil memegangi tangan keduanya.


Sikakak melihat adiknya. Mereka sepertinya bingung dengan maksud sipengusaha kaya. Lalu adiknya memberi hormat selayaknya putri raja dan berkata.


“Tuan, aku dan kakakku bukan hanya malam ini menari dan bermain disini. Tapi sudah lama sekali. Aku dan kakakku sering melihat lampu diatas sana terang, jadi kami menari disini supaya tuan bisa melihat dan merasa terhibur”, kata siadik sambil menunjuk kamar kerja pengusaha kaya tersebut.


“Kata mama, tuan dulu pernah menolongnya ketika sakit. Dan kata mama kalau tuan tidak menolongnya mama sudah ikut papa kesurga. Aku tidak tahu tempat apa itu, tapi kata mama itu tempat yang sangat bahagia dan papa bahagia sudah disana”.


“Kata mama juga tuan pasti sudah lupa, tapi mama tidak pernah melupakan kebaikkan tuan. Itulah mengapa kami selalu bermain disini dan menari supaya tuan terhibur. Kata mama, kebaikkan orang tidak boleh dilupakan seumur hidup…”.


“Lalu mama berkata juga…”, potong sikakak sambil memeluk adiknya dan menuntunnya agar duduk sebentar. Adiknya terlihat sedikit ngos-ngosan karena pengaruh jantungnya yang lemah.


“Mama berpesan agar SELALU TERTAWA apapun kondisinya. Karena dengan tertawa mama juga tertawa. Aku sering mendapati mama menanggis malam-malam sambil memeluk adikku kalau hendak tidur. Dan aku berjanji aku akan selalu membuat mama tertawa. Dan caranya adalah dengan selalu tertawa walaupun aku pernah mau menanggis dan dipeluknya ketika aku ditabrak sepeda dulu. Aku takut ketika aku mengatakannya akan membuat mama semakin sedih”, lanjut sikakak sambil memperlihatkan dahinya yang ada bekas luka cukup lebar disana. Setelah itu dia menutupinya dengan rambut panjang itu dan ditambahi topi.


“Tuan, aku dan adikku sangat berterimakasih pada tuan karena kebaikkan tuan sehingga mama kami masih bersama kami dan tidak mengikuti papa yang kata mama sudah tidak bisa pulang…”, kata sikakak memberi hormat lagi dibarengi siadik.


Dipeluknya kedua malaikat kecil itu. Dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya, pengusaha ini berterimakasih entah berapa puluhan kali.


Akhirnya ia mengerti mengapa ia semakin hari semakin tidak bahagia, itu semua karena ia terlalu memfokuskan pada dirinya dan kelimpahannya. Akhirnya ia menyadari mengapa kebahagiaan itu harus berbagi, itu semua karena dengan berbagi kita jadi mengerti apa itu yang disebut cinta kasih.


Kebaikkan dulu yang pernah dilakukannya karena ketulusan hati pada seorang ibu, kini dibalas berkali-kali melalui pelajaran kecil yang disampaikan dengan penuh ketulusan. Mungkin anak-anak ini tidak memberi dia kekayaan yang semakin berlimpah, tetapi dengan ketulusan dari mereka, pengusaha kaya ini mengerti bahwa KEBAHAGIAAN TIDAK BISA DIBELI, kebahagiaan itu TULUS, dan kebahagiaan itu DIBAGI.


Setelah barang beberapa menit, pengusaha ini berkata pada mereka. “Sayang…, maukan kalian tinggal bersama aku? Nanti kita ajak mama kalian juga ya?”. Sikakak tersenyum. “Tapi kami tidak punya uang untuk membayar tuan…”. Siadik juga mengangguk mengiyakan.


Pengusaha kaya ini tertawa kecil. “Tidak perlu yang namanya uang, malahan uang yang aku kumpulkan akan kubuat rumah-rumah untuk malaikat-malaikat kecil baik seperti kalian”, jawabnya.


“Benarkah tuan? Nanti buatkan taman kayak ini juga ya? Aku suka sekali dan sebagai balasannya nanti kami ajari tuan menari”, teriak kecil diadik kegirangan. “Iya…, iya…, janji ya tuan?”, tanya sikakak menyambung dengan mata berbinar-binar.


“Iya sayang, aku janji. Sekarang kita ketempat mama kalian ya…”, peluk pengusaha kaya ini penuh cinta.



Seringkali, kita secara tidak sadar menganggap dengan semakin berkelimpahan kita akan semakin bahagia. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tetapi mau tidak mau kita harus akui, semakin kita beranggapan seperti itu, kita akan semakin tidak bahagia. Kita mendefinisikan kebahagiaan itu – tanpa kita sadari – ada syaratnya.


Kebahagiaan itu TULUS. Ia tidak bisa dibeli, tapi selalu berbagi.


Seringkali juga, kita seperti pengusaha yang kaya. Kita selalu bekerja dan mencari ARTI BAHAGIA, hingga suatu saat kita menyadari bahwa ada “anak-anak” diluar jendela yang sedang menari dan tertawa. Padahal mereka telah “menari” sekian lama, tetapi karena kesibukkan mencari kita, kita lupa bahwa “anak-anak” itulah sedang ingin memberitahu apa itu bahagia.


“Anak-anak” itu kita sebut sebagai HATI.


Ingatlah, kebahagiaan itu bukan berasal dari luar. Apakah itu berupa materi, status diri, raga yang sexy ataupun pasangan yang membuat iri. Kebahagiaan itu berasal dari HATI. Dan ketika hati itu telah dibutakan oleh hal-hal duniawi, maka bahagia itu juga akan pergi sampai kamu BERHENTI mencari dan memandangi sebentar jendela diluar diri.


:)


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?