Bulan Terbenam di Binongko - Part 2

23 September 2016 23:02:55 Diperbarui: 23 September 2016 23:17:23 Dibaca : Komentar : Nilai :

8 September 2016

Alarm berbunyi pada pukul 6 pagi, tapi kami cuekin aja karena mata masih berat sekali.  Kami baru terlonjak ketika jam sudah menunjukkan pukul 09:20. Celaka … perjalanan dari Patuno Resort ke pelabuhan Mola 30 menit, kapal dari Wanci ke Pulau Binongko pukul 10:00.  Kalau kami ketinggalan kapal ini maka seluruh rute harus diatur ulang termasuk sewa kendaraan, penginapan dan penjemputan.  Apa boleh buat, cukup cuci muka, gosok gigi dan kami lari ke resepsionis minta diantar mobil hotel ke pelabuhan Mola.  Makan pagi tidak bisa kami bawa karena koki hotel masih harus memasak dulu pesanan kami.

Tiba di pelabuhan Mola, sudah banyak yang bertanya mau ke mana.  Ketika kami sampaikan mau ke Binongko kami disuruh segera masuk ke kapal karena kapal sudah mau berangkat.  Rencana membeli makanan di warung yang tersedia beberapa di situ tidak kesampaian. 

Saya cukup kaget ketika kapal yang ditunjuk untuk ke Binongko hanya berupa sampan sempit tanpa tempat duduk, untung saja saya selalu light travelling, bawaan sedikit.

“Duduk saja di situ” kata seorang ibu, sambal menunjuk dasar sampan bagian dalam melihat saya clingak-clinguk cari tempat duduk.  Penumpang cuma 4 orang plus pengemudi kapal.  Kapal ini terbuka tanpa penutup kepala. 

“Apa ini kapal yang ke binongko?” tanya saya cemas.

“Oh bukan, kapalnya disana tidak merapat ke pelabuhan, sedang meti (air surut)”.  Kata seorang bapak.

Sampan ini oleng ke kiri dan ke kanan ketika dikayuh keluar dari antara kapal-kapal lainnya menuju ke lautan bebas.  Saya berteriak-teriak … norak banget deh.  Yang saya kuatirkan hanya satu yaitu kamera, ini nyawa saya.  Kapal yang menuju ke Binongko hanya terlihat seperti titik di kejauhan.  Saya tidak berani bergerak di dalam sampan bermesin, takut oleng lagi.  Setelah 15 menit kami sampai di KM Fingki Putra 02. Hati dag dig dug lagi ketika berdiri dari sampan untuk mencapai kapal.  Tak lama kemudian kami diteriaki karena belum bayar “ojek kapal” sebesar Rp 10.000,- per orang. 

Kapal dari Wangi-Wangi ke Binongko ada setiap hari melayani penumpang ke dan dari Kaledupa serta Tomia.  Jumlah penumpang dalam satu kapal mencapai 50 orang dengan biaya Rp 150.000,- per orang.  Sedangkan kapal dari Binongko kembali ke Wangi-Wangi hanya ada tiga kali seminggu yaitu hari Rabu, Minggu dan Jumat saja.

Di dalam kapal sudah banyak penumpangnya.  Semua sudah mempunyai tempat sendiri-sendiri berikut barang bawaannya, termasuk kambing dan motor ada di haluan kapal, ayam di buritan.  Kapal ini mempunyai dek bawah dan dek atas.  Dek bawah dibagi lagi ada yang di bawah dengan pembagi papan.  Ketika kapal belum berangkat saya ngobrol-ngobrol dengan sesama penumpang.  Mereka terheran-heran melihat kami berdua akan ke Binongko dengan tujuan wisata.  15 menit di dalam kapal belum ada tanda-tanda kapal akan berangkat, katanya masih menunggu nahkoda kapal yang masih di pelabuhan.  Jiaaaaah tahu gitu kan beli makanan dulu.

Ketika nahkoda sudah naik ke kapal dan kapal mulai jalan masing-masing penumpang sudah mulai posisi tiduran.  Anginnya cukup kencang.  Saya mencoba duduk di bawah tapi suara mesin sangat kencang.  Lalu saya ke dek atas yang hanya berisi dua orang bapak dan seorang anak.  Setelah perjalanan selama 45 menit kapal melambat ternyata menunggu penumpang yang diantar dari pulau Kaledupa dengan ojek kapal.  Begitu juga 2 jam kemudian ketika mendekati pulau Tomia ada penumpang yang turun.  Semua dilakukan di laut, kapal besar ini tidak merapat ke pelabuhan.  Ojek kapal yang mengantar dan menjemput penumpang di tengah laut.

Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Binongko membutuhkan waktu sekitar 5 jam.  Sedangkan ombak di perairan dari Tomia ke Binongko bagi saya cukup besar, tapi para penumpang mengatakan “Ini teduh, kalau bulan Desember dan Januari itu besar bisa mencapai 3 meter”.  Kami tiba di pelabuhan Bante, pulau Binongko pada pukul 15:40 dengan perut kosong. Di seputar pelabuhan Bante ini adalah spot snorkeling, banyak penyu berkeliaran di sini.  Para penumpang sudah melenggang satu per satu, sedangkan penjemput kami tidak kelihatan batang hidungnya.  Saya segera menelpon pak Amal yang mengatur penjemputan.  Para penumpang pada bertanya-tanya kami sebenarnya mau kemana.  Lha … kami juga tidak tahu, karena akan dijemput dan diatur oleh penjemput.  Setelah menunggu sekitar 30 menit dan pelabuhan sepi barulah 2 pemuda dengan dua sepeda motor muncul, ini pasti penjemput kami.  Benar saja Ririn dan Gazali. 

Kami dibawa ke kelurahan Popalia yang jaraknya sekitar 22 km dari pelabuhan Bante.  Kami disambut oleh Bapak Saviun yang ternyata bapaknya Ririn, dan istrinya yang bernama ibu Yani.  Di rumah merekalah kami menginap.  Rumahnya sudah terbuat dari batu bata tidak lagi seperti rumah-rumah asli yang berkaki tetapi tidak dapat jalan – alias rumah panggung.  Listrik baru menyala pukul 18:00 hingga 06:00. 

Keramahan dan keakraban penduduk Binongko sudah terlihat sejak kami naik kapal.  Kemana pun kami pergi sepanjang jalan Ririn dan Gazali selalu menyapa siapa saja yang ditemui.  Saya pun ikut melambaikan tangan menyapa mereka.  Setelah makan malam ketika kami duduk-duduk di teras pak Lurah ikutan nimbrung berbincang-bincang.  Kakek La Oda Ibrahim yang rumahnya di belakang rumah Bp Saviun juga datang berkunjung dan bercerita tentang jaman pendudukan Jepang.  Katanya pada jaman itu, Jepang memperlakukan penduduk Binongko dengan sangat baik mereka hanya mengajarkan berbaris dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan Jepang, lalu kakek Ibrahim menyanyikannya.

Sekitar pukul 10 malam ketika kami sedang duduk di bale-bale sebrang rumah, bu Yani mengatakan bahwa sebentar lagi bulan tenggelam.

“Bulan terbenam?”

"Iya", jawabnya santai. 

"Tunggu bu, bulan terbenam? Seperti matahari terbenam?"

“Iya, iyaaaa ...  bisa liat kok di belakang rumah”.

Penasaran dengan bulan yang terbenam ini kami pun berjalan ke benteng yang ada di belakang rumah.  Sebenarnya ini bukan fenomena alam yang aneh.  Saya bahwa planet-planet ini berputar, tapi sebagai orang kota saya tidak pernah melihat bulan yang bergeser mendekati cakrawala hingga terbenam.  Ternyata kami salah perhitungan.  Bulan masih terlalu tinggi. Angin cukup kencang dan kondisi saya kurang sehat.  Ceritanya masuk angin karena kurang tidur, tidak makan, dan kena angin di kapal.  Kami kembali ke rumah dan melepaskan penat.

Masih ada hari esok untuk melihat bulan terbenam.

Bersambung ke Part 3

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata
Featured Article