HEADLINE

14 Artikel Politik Terpopuler 2014

09 Januari 2015 19:49:36 Diperbarui: 17 Juni 2015 06:27:09 Dibaca : 19591 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
14 Artikel Politik Terpopuler 2014
1420776184504087415

Ilustrasi/Kompasiana. (Kompas)


Kompasiana identik dengan tulisan-tulisan politik? Anggapan itu tidaklah keliru. Dengan empat subrubrik Politik, Hukum, Birokrasi, dan Hankam, rubrik Politik adalah rubrik yang paling ramai di Kompasiana. Rubrik Politik ini semakin istimewa pada tahun 2013 dan 2014, tahun-tahun politik menjelang Pilpres 2014. Karena itulah di rubrik Politik berseliweran artikel-artikel yang berusaha menggiring opini publik untuk memilih caleg atau capres tertentu. Dan, selama 2014 dua nama capres -- Joko Widodo dan Prabowo Subianto -- bisa jadi dua nama yang paling sering disebut di rubrik Politik Kompasiana sebagaimana dalam 14 artikel politik terpopuler 2014 berikut ini.

1. Prabowo Benar, Terbukti Jokowi Memang Curang


Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penolakkannya terhadap hasil Pilpres 2014 di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (22/7/2014). Pernyataan sikap tanpa kehadiran calon wakil presiden Hatta Rajasa tersebut merupakan bentuk kekecewaan dari tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terhadap pelaksanaan pilpres yang mereka nilai banyak diwarnai oleh kecurangan. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)


Putusan Prabowo untuk mengundurkan diri dari Pilpres 2014 karena merasa dicurangi oleh Jokowi, mengagetkan banyak pihak. Namun, yang lebih mengagetkan dan membingungkan adalah kekalahan perolehan suara Prabowo dari perolehan suara Jokowi. Pasalnya, Koalisi Merah Putih adalah mayoritas dan menguasai birokrasi dari tingkat desa hingga pusat. Sang Pujangga menyetujui kecurigaan Prabowo terhadap Jokowi. Menurut Sang Pujangga, Jokowi curang karena mampu menarik dukungan dari jutaan relawan dalam negeri maupun luar negeri tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Kedua, Jokowi curang karena melibatkan ratusan artis dalam kampanyenya tanpa membayarnya. Ketiga, Jokowi curang karena membuat para golputer turun gunung untuk turut memberikan suara dalam Pilpres 2014. Artikel dengan judul yang mengecoh ini pun berhasil menarik perhatian dan dibaca sebanyak lebih dari 153. 537 kali.

2. Inikah Penyebab Prabowo dan Titiek Soeharto Berpisah


Prabowo Subianto (kiri) dan Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. (TRIBUNNEWS/HERUDIN, KOMPAS/DANU KUSWORO)


Tragedi 1998 adalah salah satu sejarah kelam Indonesia. Kerusuhan memorak-porandakan Jakarta, menurunkan Soeharto dari tahta kepresidenan selama 32 tahun lamanya. Krisis moneter membuat ekonomi Indonesia memburuk. Harga-harga melambung tinggi, banyak usaha yang gulung tikar. Namun, tahukah rakyat Indonesia siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu? Benarkah Prabowo dalang di balik tragedi 1998 sebagaimana dituduhkan lawan politiknya? Apa yang menyebabkan ia dan Titiek Soeharto berpisah? Lewat paparannya yang menyedot pembaca lebih dari 140.772, Widawati Angkawijaya menuliskan dengan detail peristiwa politik pada 1998. Di dalamnya disebut-sebut pula nama Soeharto, Wiranto, Habibie, dan beberapa nama lainnya. Pada intinya Widawati Angkawijaya menyebut Prabowo sebagai korban politik.

3. Membuka Kebohongan dan Fitnah dari Para Politisi tentang Pemerintahan Megawati


Megawati Soekarnoputri. (Kompas.com)


Politik memang bisa menghajar dari sisi mana saja. Pun dalam rangka mengalahkan Jokowi dalam Pilpres 2014, yang bisa "dibantai" tidak hanya Jokowi, tapi juga partainya, sejarah pemerintahan yang pernah dipimpin partainya. Dalam hal ini adalah Megawati Soekarnoputri dan masa pemerintahannya. Karena itulah digodok isu bahwa Megawati gagal memimpin Indonesia. Lalu, diwacanakan bahwa bila Jokowi jadi presiden, Megawati akan memberikan pengaruhnya kepada Jokowi dan karena itu bisa dipastikan kemungkinan besar pemerintahan Jokowi akan gagal pula, bahkan berbahaya bagi NKRI. Adapun isu yang digunakan untuk memfitnah Megawati adalah swastanisasi aset negara, BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), Sipadan dan Ligitan, penjualan gas tangguh, dan penjualan dua kapal tanker pertamina. Opini Hans Liem ini dilirik sebanyak lebih dari 85.110 kali.

4. Prabowo Terbakar di BBC News




Pernyataan-pernyataan Prabowo Subianto dalam sebuah wawancara di BBC News setelah berbagai lembaga survei mengumumkan hasil real count Pilpres 2014 terkesan tidak realistis dan penuh prasangka buruk terhadap lawan politiknya, Jokowi. Pertama, Prabowo menuduh lembaga survei kredibel seperti CSIS, Kompas, dan SMRC yang menunjukkan suara Jokowi-JK unggul adalah lembaga survei partisan Jokowi-JK. Prabowo juga mengkritik Jokowi karena mengklaim kemenangan tanpa menunggu hasil resmi KPU, padahal dirinya sendiri pun melakukan hal yang sama. Ditanya mengenai style kepemimpinan, Prabowo menuduh gaya kepemimpinan Jokowi yang lebih merakyat hanyalah pencitraan, sedangkan permasalahan HAM yang disematkan pada dirinya untuk merusak namanya. Jawaban-jawaban Prabowo yang terkesan "meledak" dan tak berdasarkan fakta justru meneguhkan tidak adanya sifat ksatria pada dirinya. Opini Ian Wong yang muncul di Kotak Suara ini dibaca sebanyak lebih dari 71.613 kali.

5. Misi Rahasia Jokowi Menuju RI-1 Terbongkar...!


Sumber foto: Antaranews


Artikel politik yang judulnya kontroversial, bombastis, dan terkesan menjanjikan terbongkarnya "aib" seseorang tentang Pilpres 2014 sudah pasti membuat gatal Kompasianer untuk mengekliknya. Salah satunya artikel Kandi Rahmat ini. Ia terheran-terheran melihat publik menunggu-nunggu Jokowi untuk membeberkan visi-misinya kalau berhasil jadi RI1. Padahal dibanding capres lain (baca: Prabowo) yang sudah jauh-jauh hari mengampanyekan diri menjadi capres dan terkesan sudah matang dan siap menjadi presiden, seharusnya Jokowi jadi capres yang "tak laku". Ataukah sebenarnya ada misi rahasia Jokowi menuju RI1? Kandi Rahmat pun membongkarnya dengan menguliti kinerja Jokowi semasa menjadi Wali Kota Solo dan gubernur DKI Jakarta. Menurut Kandi, tidak berbeda dengan misi sebelum-sebelumnya, misi Jokowi menuju RI1 adalah menyejahterakan, mendidik, menyehatkan, dan menegakkan keadilan untuk memajukan bangsa Indonesia yang lebih baik. Untuk itu, Jokowi akan membenahi sistemnya seperti yang telah dilakukannya di Solo dan DKI Jakarta. Opini Kandi ini diganjar view sebanyak lebih dari 66.931 kali.

6. Jokowi Membuat Papua Menangis



Papua selain terkenal dengan kekayaan alamnya, juga dikenal sebagai daerah konflik dan terbelakang. Tambahan lagi, Papua tidak dianggap sebagai kantong suara utama. Jadilah daerah ini sepi dari janji-janji politisi yang ingin mendulang suara. Namun, Jokowi membuktikan dirinya berbeda. Ia dan timnya tidak melihat Papua sebagai target suara, tapi sebagai bagian yang sah dari NKRI. Meski tak disambut dengan upacara, kedatangan Jokowi disambut dengan sukacita oleh masyarakat Papua. Orang-orang yang tinggal di gunung pun turun untuk bertemu dengan Jokowi. Melihat kesederhanaan Jokowi, mendengarkan pidatonya, bertatap langsung dengan Jokowi menerbitkan harapan baru bagi orang Papua. Jokowi menggetarkan hati orang Papua dan membuat mereka menangis. Artikel mengharukan karya Opa Jappy ini dibaca sebanyak lebih dari 63.211 kali.




7. Pernyataan-pernyataan Prabowo yang Membuat Saya Enggan Memilihnya


Capres Prabowo Subianto. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)


Gerak-gerik dan ucapan capres menjadi sorotan rakyat karena itulah salah sedikit saja bisa-bisa rakyat memindahkan pilihannya. Pun Paulus Teguh yang enggan memilih Prabowo dalam Pilpres 2014 karena lima pernyataan capres nomor satu tersebut. Kelima pernyataan tersebut adalah:

1. Saya setuju kepala daerah bekerja sama dengan FPI.

2. Kita anjurkan markas besar polisi, kalau milih polisi harus yang ganteng-ganteng dan yang cantik-cantik.

3. Saya akan perjuangan Soeharto jadi pahlawan nasional.

4. Untuk mengatasi masalah korupsi, naikkan gaji pejabat.

5. Kalau ada serangan fajar, terima saja uangnya, tapi coblos nomor 1.

Bahkan dari pernyataan-pernyataan tersebut, Paulus Teguh menilai Prabowo benar-benar gawat bila jadi presiden. Opini ini diganjar view sebanyak lebih dari 56.570 kali.

8. Luar Biasa, Inikah Cara Tuhan Melindungi Jokowi?


Jokowi / kompas.com (Robertus Belarminus)


Bejo Al-bantani memiliki analisis menarik tentang bagaimana nasib baik selalu berpihak kepada Jokowi terkait posisinya sebagai capres.  Pertama adalah perlindungan Tuhan lewat peringatan Taufik Kiemas agar Jokowi menjauhi Prabowo karena Prabowo akan "menusuk dari belakang". Hal itu terlihat dari sikap Prabowo yang menebar citra ke media bahwa dialah pahlawan atas kepopuleran Jokowi-Ahok yang ketika baru menang pilgub DKI. Jusuf Kalla lalu mengklarifikasi bahwa dirinyalah yang "membawa" Jokowi ke Jakarta. Ketika pilpres berlangsung, Jokowi "dituntun" oleh Tuhan untuk memilih cawapres JK daripada Puan Maharani, Abraham Samad, dan Mafhud MD. Kemudian ketahuanlah bahwa Mahfud MD tersandung kasus suap dalam pilkada Banten. Sebelumnya, sebelum memutuskan berpihak ke kubu Jokowi atau Prabowo, PPP bertanya kepada Jokowi siapa cawapres pilihannya. Namun, Jokowi tak menjawabnya. Setelah itu PPP memutuskan berpihak kepada Prabowo. Tak lama kemudian, ketua umum PPP (Suryadharma Ali) ditetapkan sebagai tersangka KPK. Selain itu, Jokowi dikelilingi orang-orang baik, sementara Prabowo dikelilingi orang-orang yang bermasalah dan barisan sakit hati. Opini Bejo Al-bantani ini dibaca sebanyak lebih dari 54.424 kali.

9. SBY, "Presiden Terlicik yang Pernah Dimiliki Indonesia"



Ketidaksinkronan antara pernyataan SBY bahwa Partai Demokrat mendukung pilkada langsung dengan aksi walkout kader Partai Demokrat dalam sidang yang membahas RUU Pilkada seolah-oleh membuka tabir skenario licik SBY. Dengan mudah sebagian publik menyimpulkan bahwa pernyataan dukungan tersebut hanyalah akal-akalan licik agar rakyat menilai Partai Demokrat berpihak kepada rakyat. Momen-momen ketika SBY melancarkan strategi licik tidak hanya itu. Sebut saja pernyataan bahwa Partai Demokrat netral tidak memihak Jokowi-JK maupun Prabowo, namun para petinggi dan kader Partai Demokrat dalam sikapnya malah memihak Prabowo-Hatta. Contoh lainnya lagi adalah pernyataan SBY kepada Megawati bahwa ia tidak akan mencalonkan diri menjadi presiden pada periode Pilpres 2004, namun pada kenyataannya ia kemudian menjadi capres dalam Pilpres 2014. Opini menohok telisikan Daniel H.t. ini menarik pembaca sebanyak lebih dari 54.449 kali.

10. Fakta Kunci Tuduhan Penculikan Prabowo


Ilustrasi- Prabowo Subianto, salah satu Capres dari Partai Gerindra. (KOMPAS.com)


Nama Prabowo Subianto bagi sebagian orang mungkin melekat dengan peristiwa penculikan, penembakan mahasiswa Trisakti, dan tragedi 1998. Apakah fakta kunci tuduhan penculikan oleh Prabowo? Ratu Adil memaparkan secara detail. Berdasarkan fakta penculikan, mahasiswa yang diculik/diamakan sejumlah 24 orang. Mereka diamankan karena dianggap berpotensi mengganggu kestabilan nasional. Sejumlah 9 mahasiswa dari 23 mahasiswa yang diamankan Tim Mawar (Prabowo) dibebaskan, sisanya yang 15 dinyatakan hilang. Jadi, tidak benar bahwa Prabowo yang melakukan penculikan tersebut. Terkait penembakan mahasiswa Trisakti, pelurunya ternyata berasal dari Polri Unit Gegana, bukan dari Kopassus perintah Prabowo Subianto. Sementara itu, berdasarkan penyelidikan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta, Prabowo Subianto terbukti tidak terlibat dalam Kerusuhan Mei 1998. Reportase oleh Ratu Adil ini dibaca sebanyak lebih dari 54.362 kali.

11. Izinkan Saya Membalas Surat Tasniem Fauziah


Gambar: aktual.co


Seperti halnya ayahnya, Amien Rais, yang kontra-Jokowi, Tasniem Fauziah mengecam Jokowi atas putusannya menjadi capres dalam Pilpres 2014 melalui surat terbuka. Surat yang disoroti oleh publik itu pun dijawab oleh Hai Hai. Atas ketidaksetujuan Tasniem terhadap Jokowi yang menjadi capres sebelum masa jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta habis, Hai Hai menjawab bahwa Tasniem seperti halnya Soeharto yang berpikir bahwa tidak ada orang Indonesia yang sanggup menjadi presiden selain dirinya. Atas keraguan Tasniem akan kemampuan Jokowi memimpin 250 juta rakyat Indonesia, dijawab bahwa Jokowi tidak akan sendirian memimpin Indonesia, tapi dibantu para menteri dan para pejabat level tertentu. Atas pertanyaan Tasniem apakah kalau terpilih sebagai presiden, Jokowi akan punya keterikatan yang besar dengan Megawati, Hai Hai beropini tidak ada salahnya pengaruh Megawati terhadap Jokowi. Masih ada beberapa poin lainnya jawaban Hai Hai atas surat terbuka Tasniem Fauziah. Jawaban atas surat tersebut dibaca sebanyak lebih dari 53.636 kali.

12. Pak Amien Rais, Bacalah bila Anda Sempat


Sumber: kompas.com


Amien Rais adalah salah satu politisi yang pada masa pilpres 2014 omongannya terkesan plintat-plintut alias berubah-ubah. Socrates Jadul sampai menuliskan empat unek-uneknya atas sikap Amien Rais dalam sebuah artikel. Pertama, ia mengeluhkan sikap pura-pura Amien Rais mendirikan MARA (Majelis Amanat Rakyat) seolah berjasa dalam reformasi namun kemudian mengubahnya menjadi PAN yang hanya mewakili Muhammadiyah. Kedua, atas kecerdikannya, Amien Rais bisa menjegal Megawati menjadi presiden lalu mendudukkan Gus Dur namun kemudian menurunkan Gus Dur pula. Ketiga, saat pilkada DKI, Amien Rais menjelekkan Jokowi secara frontal tapi kemudian memuji Jokowi untuk memasangkannya dengan Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014 dan berubah lagi menjadi menjelekkan Jokowi. Keempat, Amien Rais bermanuver dengan membentuk "Koalisi Indonesia Raya" dan menyebut merangkul partai nasionalis, tapi dalam praktiknya yang berkumpul hanya partai berbasis Islam. Socrates Jadul mengharap klarifikasi dari Amien Rais dalam artikel yang dibaca sebanyak lebih dari 51.651 kali.

13. Saya Ingin Pilkada Langsung, tapi Saya Benci Jokowi


Setelah Pilpres, beberapa partai politik berubah haluan tentang RUU Pilkada. (Sumber foto: RMOL dan Republika)


Pengesahan RUU Pilkada yang mengubah pilkada secara langsung menjadi tidak langsung pada 26 September 2014 membuat rakyat terhenyak seolah-olah kecolongan oleh tindakan diam-diam DPR. Menurut Maulana Syuhada, pilkada tak langsung jelas menguntungkan politisi yang tujuannya berkuasa, juga menguntungkan Koalisi Merah Putih. Meskipun demikian, tidak semua kader parpol Koalisi Merah Putih mendukung pilkada tak langsung. Demikian sebaliknya, tidak semua kader parpol Koalisi Indonesia Hebat mendukung pilkada langsung. Secara nalar dan hati nurani, pilkada langsung jelas lebih baik. Sayangnya, hak rakyat untuk secara langsung memilih pemimpin daerah ini direbut oleh DPRD. Opini ini dibaca sebanyak lebih dari 50.897 kali.

14. Pidato 3 Menit Capres di KPU Ungkap Segalanya


Pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Jokowi-JK menunjukkan nomor urut saat acara pengundian dan penetapan nomor urut untuk pemilihan presiden Juli mendatang di kantor KPU, Jakarta Pusat, Minggu (1/6/2014). Pada pengundian ini, pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan nomor urut satu sedangkan Jokowi-JK nomor urut dua. (TRIBUNNEWS/HERUDIN)


Satu momen dalam hajatan pilpres 2014 yang cukup menyedot perhatian rakyat adalah pidato capres-cawapres setelah mengambil nomor urut di kantor KPU. Rini Elrealvira menilai 3 menit pidato capres-cawapres mengungkap siapa sesungguhnya mereka, meliputi pola pikir, karakter, dan ide-idenya. Berdasarkan pidato 3 menit Prabowo, Rini Elrealvira menilai bahwa Prabowo menunjukkan sikap tegas, tidak basa-basi, tak curang dengan berkampanye, menghormati pilihan rakyat, menghormati rival politiknya, membanggakan koalisi dan cawapresnya, dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang lain. Sementara itu, melalui pidatonya, Jokowi menunjukkan sikap sebaliknya, yakni tidak menunjukkan penghargaan terhadap rival politik dan cawapresnya. Jokowi semakin buruk karena beberapa kali berbicara dengan JK ketika Prabowo sedang berpidato. Lanjut Rini, pidato 3 menit tidak dapat mengakomodasi niat pencitraan capres-cawapres. Opini ini mampu menarik perhatian sebanyak lebih dari 50.056 kali.

Itulah 14 artikel politik terpopuler sepanjang 2014. Tentu hal yang patut disyukuri bahwa pada 2014 ini kesadaran rakyat untuk turut peduli pada politik praktis semakin meningkat. Pun Kompasianer yang setia menuliskan reportase dan opini politiknya demi Indonesia yang lebih baik. Terima kasih yang sebesar-besarnya dari Kompasiana. Salam! (NUR)

Kompasiana

/kompasiana

TERVERIFIKASI

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana