Kholil Rokhman
Kholil Rokhman swasta

Berusaha menyelami sederhana. Suka yang berbau Timnas Sepak Bola Argentina.

Selanjutnya

Tutup

10 Ribu Fans Argentina ke Bandara Hanya untuk Menghina

14 Juli 2017   17:27 Diperbarui: 16 Juli 2017   05:42 27 1 0

Sepak bola memang memiliki magis tersendiri. Orang bisa senang, sedih, gembira, nelangsa, hanya karena lihat sepak bola. Bahkan, kadang nasionalisme orang membuncah ketika melihat tim nasionalnya berlaga.

Cerita tentang nelangsa merayap di Buenos Aires, ibu kota Argentina. Gara-garanya sederhana. Tim biru-putih itu jadi lumbung gol di Piala Dunia 1958 yang digelar di Swedia. Sebagian pihak di Argentina menyebutnya dengan "El desastre de Suecia" atau Bencana di Swedia.

Argentina yang tidak berpartisipasi di Piala Dunia 1934-1954. Kemudian kembali berpartisipasi di Piala Dunia 1958. Harapan publik Argentina luar biasa kala itu. Sebab, sekalipun absen di empat edisi piala dunia, Argentina adalah raja di Copa America.

Saat vakum tak lolos/masuk piala dunia, Argentina juara Copa America 7 kali, yakni pada 1937, 1941, 1945, 1946, 1947, 1955, dan 1957. Mereka memiliki banyak bintang di tahun itu, seperti Omar Sivori, Oreste Corbatta, Humberto Maschono, Antonio Angelillo.

Wajar saja ketika Piala Dunia 1958, publik Argentina berharap banyak. Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Argentina mendapatkan hasil tak memuaskan. Mereka hanya sampai di babak grup.

Argentina kalah 1-3 dari Jerman Barat di laga perdana. Lalu menang 3-1 atas Irlandia Utara di partai kedua. Di partai ketiga, Argentina babak belur dihajar Cekoslowakia 1-6. Alhasil mereka gagal ke babak selanjutnya di Piala Dunia 1958.

Mantan kiper Argentina Amedeo Carizzo pun berujar bahwa hasil di Piala Dunia 1958 sangatlah mengecewakan. Dia mengaku sebagai kiper sangat menderita. Sebab, di ajang itu Argentina kebobolan 10 gol dalam 3 laga.

Dia mengatakan, setelah kalah dari Cekoslowakia di laga ketiga dengan skor 1-6, semua pemain terpaku di hotel. "Para pemain tak mau keluar dari hotel. Jika ada yang melihat televisi soal piala dunia, saya tak mau. Saya memilih mengganti channel lain," katanya seperti dikutip reuter tahun 2014.

Setelah kekalahan itu, orang Argentina marah bukan kepalang. Sebanyak 10 ribu orang datang ke Bandara Internasional Ezeiza. Kedatangan orang-orang itu bukan menyambut dengan suka cita. Namun, kerumunan itu menghina skuat Argentina yang baru datang dari Swedia. Hinaan yang mencuat karena mereka mengecewakan di Swedia. Lebih menyayat lagi karena yang juara di Swedia adalah tetangga mereka, Brasil.

Mungkin Argentina memang tidak berjodoh dengan Piala Dunia 1958. Buktinya setahun setelahnya, Argentina kembali jadi juara Copa America. Begitulah cerita sepak bola, kadang derita dan bahagia membabi buta sekenanya. (*)