Mohon tunggu...
Reza Fahlevi
Reza Fahlevi Mohon Tunggu... Jurnalis - Direktur Eksekutif The Jakarta Institute

"Bebek Berjalan Berbondong-bondong, Elang Terbang Sendirian"

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Beradaptasi dengan Covid-19

15 Mei 2020   22:00 Diperbarui: 15 Mei 2020   22:34 292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi karantina virus corona, Covid-19 (Shutterstock)

Bahkan beberapa emiten memilih untuk merevisi anggaran belanja modal atawa capital expenditure (capex) untuk tahun 2020.

Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan dan brand 'puasa' pemasaran sementara waktu. Beberapa bahkan mengerem operasional hingga situasi mulai normal dan terkendali. Hal ini berakibat menurunnya aktivitas pemasaran secara umum.

Di balik itu semua,  perusahaan bisa menciptakan peluang dari situasi tersebut untuk membentuk kebiasaan baru, serta mengonversi channel komunikasi dan pemasarannya ke media digital. Kebiasaan baru atau new normal yang secara alamiah terbentuk ini akan tetap bertahan meskipun situasi kembali normal.

Minat belanja masyarakat Indonesia tidak hilang, apalagi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Terutama belanja online yang justru tumbuh pesat selama masa anomali seperti ini. Tutupnya hampir seluruh pusat perbelanjaan, belanja daring jadi pilihan utama memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari kuliner, hobi, hingga kebutuhan rumah tangga.

Melihat minat belanja yang tetap tinggi, hal ini membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan lainnya. Apalagi, beberapa platform jual beli online menganjurkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi secara cashless dengan memanfaatkan servis pembayaran seperti kartu kredit atau e-banking

Jadi, ini momentum tepat bagi sektor perbankan, finansial, dan jasa keuangan untuk menggenjot pemasaran. Dorongan untuk melakukan physical distancing membuat aktivitas masyarakat berkurang.

Bisnis maskapai penerbangan juga anjlok. Selain ada aturan membatasi perjalanan ke luar negeri maupun dalam negeri, masyarakat juga takut untuk berpergian menggunakan transportasi umum seperti pesawat.

Selain itu, sektor ritel juga berdampak, dimana aktivitas pusat perbelanjaan berkurang drastis. Sejumlah mal besar di seluruh Indonesia rata-rata mengurangi aktivitasnya bahkan ada yang menutup total operasionalnya. Hanya beberapa gerai rumah makan yang buka dan itu tidak boleh makan di tempat atau harus take away.

COVID-19 mengubah kehidupan kita. Dalam situasi ini, kita lebih memilih berdiam di rumah ketimbang hang out. Physical distancing juga membuat kita memilih berlama-lama di ruang digital baik untuk bekerja, berkomunikasi, belanja, atau sekadar mencari hiburan.

Di Indonesia, situasi pandemi dan physical distancing memunculkan beberapa perilaku baru, misalnya, pembeli yang telah beradaptasi dengan kondisi kekinian dan pekerja professional yang bekerja di rumah. Kedua kebiasaan tersebut menciptakan peluang bisnis bagi perangkat sistem aplikasi baik software maupun hardware pendukung yang paling banyak digunakan masyarakat terutama kelompok menengah dan atas atas kebutuhan work from home, belajar di rumah maupun bagi para seniman atau musisi bisa pentas seni online.

Terkait dengan tipe pembeli yang adaptif, sejak physical distancing merebak, penggunaan aplikasi belanja mengalami kenaikan drastis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun