Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Guru - Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Guru SDM Branjang (Juli 2005-April 2022), SDN Karanganom II (Mei 2022-sekarang) Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Ingin Kuajak Anakku ke Era 80-90an

2 April 2019   15:18 Diperbarui: 3 April 2019   03:03 589
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lahir di tahun 80-an, menikmati masa kecil yang indah. Bermain di tanah lapang, udara segar. Main lompat tali, gobak sodor, bekelan jelang bel masuk, jam istirahat, atau di rumah dan halaman depan masjid di sore hari. Permainan yang saat ini jarang dikenal anak-anak zaman now. 

Generasi zaman dulu lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya. Namun ketika berada di rumah, pasti ada waktu untuk belajar dan menonton televisi. Saat itu stasiun televisi belum banyak seperti sekarang. 

Meski stasiun televisi belum terlalu banyak, akan tetapi isi tayangan lebih berkualitas. Tak ada infotainment, apalagi reality show. Kedua program acara ini pada beberapa tahun terakhir merajai hampir di seluruh stasiun televisi. Padahal jika diperhatikan nyaris tak ada nilai plus dari kedua program tersebut selain menawarkan hiburan. 

Tayangan untuk Remaja dan Dewasa
Hiburan memang sangat dibutuhkan manusia, entah masih anak-anak, remaja, dewasa. Semua membutuhkan sesuatu yang bisa membuat fresh. Karena tak selamanya punya waktu dan dana berlebih, maka televisi menjadi salah satu pilihan untuk me-refresh otak dan tenaga yang terkuras untuk melakukan rutinitas pekerjaan. 

Akan tetapi jika yang ditawarkan oleh stasiun televisi untuk remaja dan pemirsa dewasa hanya sekadar bisa membuat tertawa, bahkan kadang juga pengisi program melakukan tindakan "aneh".

Berbahaya lagi ketika kita menonton tayangan tersebut, anak-anak turut menontonnya karena kesalahan pada jam tayang. Anak-anak akan meniru perilaku, omongan yang "asal njeplak", menggosip, berani pada orang yang lebih tua dan sebagainya. Anak-anak akan mudah terkontaminasi hal-hal yang buruk. 

Sinetron pun kebanyakan mengetengahkan drama perselisihan, perselingkuhan, pertengkaran, kejahatan dan sebagainya--meski tak semuanya--. Sudah menyajikan kisah seperti itu jam tayang juga tak pas dan tak tepat. Akan lebih baik sinetron, reality show, gosip ditayangkan di mana anak-anak sudah terlelap. 

Kemudian ada program ajang pencarian bakat. Program ini sangat diminati para pemirsa yang memiliki bakat tertentu. Pada awalnya hanya ada AFI kemudian muncul ajang pencarian bakat lainnya. Acara ini pasti ratingnya tinggi. 

Pada perkembangannya musik dangdut pun juga ada ajangnya. Namun saya pribadi melihat tayangan-tayangan tersebut terlalu bertele-tele. Terlalu banyak komentator yang berkomentar. Tidak pada poin-poinnya yang disampaikan.

Bisa kita bayangkan satu peserta ajang bernyanyi 5-10 menit tapi komentar, baik pujian, kritik, saran--bisa lebih dari 20 menit. Benar-benar melelahkan untuk menontonnya. Penonton malah tak akan terhibur lagi. 

Ada baiknya program seperti ini dibatasi durasi waktunya, jangan melebihi 3 jam. Para penonton bisa bosan juga menyaksikannya. Kenapa? Penonton sudah lelah seharian bekerja, terus malam hari--biasanya ajang pencarian bakat  disiarkan malam hari -- harus berlama-lama di depan layar televisi. Ini bisa menurunkan semangat kerja keesokan harinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun