HIGHLIGHT

Jadi Buruh di-PHK, Jadi Babu Ditindas, Jadi Pelacur Dilarang Tuhan. Mau Jadi Apa Kami? (Refleksi Hari Buruh)

01 Mei 2012 04:40:44 Dibaca :
Jadi Buruh di-PHK, Jadi Babu Ditindas, Jadi Pelacur Dilarang Tuhan. Mau Jadi Apa Kami? (Refleksi Hari Buruh)
Saya dan teman di tempat kerja

Saya pekerja kasar. Banyak orang yang tidak menyangka kalau saya pekerja kasar karena mereka sering melihat saya jalan-jalan ke Mall. Kalau mereka tahu tempat kerja saya, mereka pasti kaget dan merasa kasihan. Saya pekerja Laundry yang tiap hari bergelut dengan air, kain, diterjen, dan setrika. Disamping sebagai Laudry, saya juga suka membaca, menulis dan mendengar informasi. Oleh karena itu, saya menulis di Kompasiana sebagai bentuk transformasi hasil bacaan selama ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

****

Entah apa alasan seorang Charles Dickens menulis tulisan "To Working People", yang ditujukan kepada kaum pekerja, sekitar 155 tahun yang lalu. Apakah karena wabah kolera yang melanda London pada bulan Agustus dan September 1854 itu, ataukah Dickens sedang bernostalgia dengan masa-masa kemiskinan ala kaum proletar yang pernah dialaminya? Atau... mungkin kedua-duanya? Apa pun alasannya, tulisan yang dimuat dalam Household Words (7 Oktober 1854) itu, memberitahu para peminat karya sastranya, bahwa Dickens tidak hanya piawai dalam meramu cerita ketimpangan sosial dalam karya-karyanya yang banyak menyedihkan hati itu. Dia tidak hanya pandai menyajikan penderitaan bocah terbuang bernama Oliver Twist, atau si pincang Tiny Tim yang begitu timpang jika dibandingkan dengan kerakusan pesta Natal keluarga Cratchit dalam A Christmas Carol. Dalam tulisan To Working People-nya, Dickens melompat selangkah, lebih dari sekedar memberi simpati keprihatinan pada nasib kaum pekerja di zamannya - yang di matanya terlihat menderita dalam wabah kolera yang merayap di lorong-lorong kemiskinan para pekerja harian - dengan menganjurkan mereka agar bangkit berdiri dan mandiri, tanpa bergantung pada para bangsawan, para baron, orang-orang terhormat, kaum terpelajar yang terhormat, ksatria yang terhormat, pemerintahan di Downing Street, dan bahkan Majelis Rendah. Dan satu hal yang pasti: Dickens tidak menuliskan tulisan itu untuk memperingati May Day, atau yang kita kenal dengan Hari Buruh. Tidak seperti tulisan prematur ini, yang mejeng kepagian di Kompasiana di tanggal 1 April 2012 ini. Karena... untuk apa sebuah tulisan macam ini hadir di Hari Buruh? Lebih dari itu, apa guna Hari Buruh itu sendiri? Jawabannya mungkin relatif. Sebuah tulisan yang muncul menjelang atau tepat pada satu hari perayaan, bisa berguna bisa pula cuma sekedar sampah. Seperti sampah-sampah berbentuk kertas koran yang jadi alas sajadah sekali dalam setahun di lapangan-lapangan sembahyang hari raya. Seperti bungkus-bungkus permen yang menjadi sampah setelah usai memaknai hari natal untuk bersuka-cita. Atau... plastik-plastik es dan kacang goreng yang menjadi sampah di lapangan seusai pidato berapi-api di hari 17 Agustus... Demikian pula Hari Buruh, Hari Idul Fitri, Hari Natal, dan Hari Kemerdekaan. Semua boleh jadi cuma seremonial tahunan belaka. Makna dari peringatan demikian mungkin saja cuma jadi seperti hujan sehari menghapus kemarau setahun lalu, untuk esoknya dipanggang kemarau yang sama kembali. Ritual-ritual sehari dalam setahun yang bergantung pada siapa yang merayakannya untuk memberinya makna sendiri-sendiri. Ya, seperti Hari Kartini yang lalu, Saya memilih tidak membuat tulisan (meski pun ingin), karena kegamangan pada esensi hari para wanita itu. Atau... manakah yang lebih emansipatif: Habis Gelap Terbitlah Terang macam surat-surat dari bilik Kartini ke negeri seberang laut, ataukah Habis Sabar Marilah Perang macam serbuan armada perempuan janda si Laksmana Malahayati ke kapal-kapal imperialis de Houtman bersaudara? Demikianlah pula untuk Hari Buruh ini. Bicara apa tentang Hari Buruh, sementara Partai Buruh si Mukhtar Pakpahan ngos-ngosan dalam Pemilu? Bicara apa tentang Hari Buruh, ketika elit-elit serikat buruh sudah pandai melobi para politikus dan sudah pintar merias diri hingga bisa necis macam seorang borjuis? Bicara apa tentang Hari Buruh, ketika lobi-lobi dengan mantan militer dan elit-elit busuk masa lalu sudah membuat nama Marsinah dan Wiji Thukul cuma jadi monumen mati untuk dikibari yel-yel proletariat setahun sekali? Bicara apa kita, ketika serikat buruh BUMN sudah cerdas mendukung seorang Capres mantan penjaga bisnis pohon Cendana? Bicara apa, ketika deklarasi-deklarasi serikat ini dan serikat itu sibuk deklarasi dukung sana dan sini, sehingga posisi sebagai oposan beralih menjadi antrian ikhlas menunggu subsidi oplosan? Bicara apa, sementara mereka sendiri sadar bahwa parpol-parpol itu tidak mungkin bela buruh? Ini kegamangan tersendiri bagi saya pribadi... Berbeda dengan dua tahun sebelum ini... dan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di bangku kuliah dulu, sebelum blog hebring dikenal dan selebaran-selebaran tanpa SIUPP tanpa SIT masih jadi andalan. Hari Kesaktian Para Buruh itu diperingati berkali-kali dengan tulisan-tulisan, dengan semangat ala mahasiswa yang mabok bacaan dan membuat mesin ketik atau keyboard komputer berdetidak-detidak dihajar ujung jemari tangan, sehingga tulisan-tulisan picisan muncul menjadi orasi tanpa TOA tanpa suara. Pokoknya bicara tentang buruh. Pokoknya bicara tentang nasib kaum proletar - spesies yang diocehkan Marx di Critique of Hegel's Philosophy of Right - itu. Tidak beda ketika merambah dunia internet. Sama saja. Postingan muncul di beberapa blog milik sendiri, seakan senasib-sederita dengan mereka yang bernaung di bawah SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia). Peduli setan mereka sendiri terpecah-belah, seperti adanya Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPSI) danĀ  Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Reformasi (SPSI Reformasi), pokoknya tulis. May Day, yang di masa kecil cuma dikenal dalam film-film kartun dan eksyen, dimana pilot yang pesawatnya jatuh berteriak, "Mayday! Mayday! Our plane in an emergency!! We're under attack!" menjadi lebih heroik dari sekedar teriakan panik teman Chuck Norris di kabin pesawat. Rombongan para buruh dengan kibaran bendera merah di gerbang pabrik para cukong, lebih awesome dari film si Rambo melawan gerilyawan Viet Cong. Padahal kita orang bukan buruh, meski mengaku pernah jadi kuli TI di 2 lembaga internasional di propinsi ujung barat Indonesia ini. Padahal kita orang bukan kuli, meski pernah iseng bergabung dengan mahasiswa perantauan fakir-miskin yang ngambil upah mengecor bangunan demi penyambung hidup mereka di akhir bulan. Dan... buruh? Aceh bukan kota industri, tidak memiliki banyak pabrik penting yang diisi ribuan buruh macam kota-kota besar lain seperti Medan atau Jakarta. Buruh-buruh yang saya kenal di sini bukanlah buruh yang punya kartu anggota serikat buruh begini dan persatuan pekerja begitu. Bukan spesies buruh yang rajin berdemonstrasi di depan gerbang pabrik tertentu demi memprotes PHK semena-mena, kenaikan gaji dan/atau tunjangan, atau protes pada brengseknya aturan Upah Minimum Propinsi dalam SKB 4 menteri. Mereka - para spesies dari genus buruh - yang saya kenal itu, cuma buruh-buruh harian (nyaris) tanpa seragam pabrikan dan emblem organisasi. Bertebaran dari pasar kecil di kota kelahiran sendiri, Blangpidie, hingga trotoar di pasar besar yang parit-paritnya tersumbat dan mengeluarkan bau busuk di kota Banda Aceh. Pekerja kasar dalam ragam bidang keahlian yang tidak diajarkan di LP3I atau Balai Latihan Kerja Daerah: hilir-mudik mengangkut karung-karung gula atau beras seberat 50 kiloan antara truk ke toko atau gudang, menyapu pasar yang lebih luas dari lapangan sepak bola, mengayuh becak dengan beban yang lebih pantas dipikul mini pick-up, dan menyemen batu bata sebagai buruh bangunan yang berpindah-pindah macam virus menyebar dari satu titik ke titik lain pembangunan dalam kota. Mereka inilah yang mengenalkan apa itu kehidupan buruh sehari-hari. Sehingga makna buruh, bagi saya, lebih luas dari sekedar kibaran bendera ala SOBSI atau pabrik-pabrik industri. Buruh-buruh lepas yang lebih mudharat hidupnya daripada buruh-buruh tetap yang rutin menerima gaji, yang datang dan pergi berdemonstrasi seperti musim hujan, lalu - dengan perwakilan aktivis-aktivis yang pintar orasi berapi-api - bernegosiasi dengan para pemegang saham, dan jalanan kembali lengang. Buruh-buruh di kehidupan harian ini yang melebarkan kata buruh menjadi lebih bermakna "pekerja", membuat saya teringat pada tulisan "To Working People"-nya Dickens, dan memilih judul yang sama untuk setuju pada kata "kaum pekerja". Karena, adalah kehidupan dengan pekerja-pekerja di usaha bisnis keluarga yang awalnya mengenalkan saya pada dunia pekerja ini. Mungkin sebab yang menjadi pangkal untuk melihat, mencoba memahami dan berkecimpung langsung dengan segelintir spesies manusia yang bergantung nasib pada segelintir manusia lainnya, dalam bentuk upah atau gaji (dan pinjaman sesekali, tentunya). Pemahaman yang sempat mengalami penyempitan makna menjadi buruh dan Hari Buruh semata. Sementara tukang-tukang becak, para harlan* di mobil-mobil truk, dan anak-anak buah atawa pekerja di toko dan gudang, jauh lebih nyata dari buruh-buruh di layar kaca, dan bahkan tidak peduli pada Hari Buruh itu sendiri. Oscar Wilde boleh berpendapat bahwa fakta paling tragis dalam Revolusi Perancis bukanlah terbunuhnya si cantik Marie Antoinette, tapi petani kelaparan dari Vendee yang sukarela pergi untuk mati demi menghapus sumber perbudakan di feodalisme yang mengerikan (dalam The Soul of Man Under Socialism, 1860). Para sosialis boleh berutopia pada penghilangan kelas-kelas hingga akhirnya cuma menyisakan kelas proletariat, dan seruan "Everything for Everyone, Nothing For Ourselves" milik kaum Zapatista mewujud nyata. Namun sejarah sudah memberikan ironi-ironi menggelitik tentang pembebasan hak-hak kaum pekerja ini, seperti ironi seorang Fidel Castro - anak tuan tanah kaya-raya - yang dididik dengan propaganda Yankee, menjadi reaksioner, berangkat gerilya demi cita-cita menghapus perbudakan para pekerja sejak zaman para desperados menjadi anjing-anjing penjaga tuan tanah, melakukan revolusi dan menggulingkan Fulgencio Batista dan lalu... menjadi Tuan Tanah Besar yang enggan hengkang dari kekuasaan di atas sebuah negara bernama Kuba... Atau ironi kecil dari anak seorang pedagang 2 tahun lalu, dimana sekali waktu menggantikan orang tuanya sekejap untuk mengelola toko di penghujung bulan. Ironi itu datang, menampari muka si mahasiswa yang petantang-petenteng - sejak lahap disuapi buku-buku politik dan filsafat di kampus - tentang kaum buruh, kaum pekerja. Ironi dalam bentuk dampratan karena hal sepele: telat membayar gaji para pekerja toko dan gudang di awal bulan. Hanya telat dua hari, dari hari sabtu melompat ke hari senin, namun cukup membuat mukanya merah padam tersindiri omelan, "Apa juga mahasiswa peduli rakyat?! Gaji mereka saja telat kau bayar!" Beliau, si ayah, yang cuma tamatan SMA itu, tidak peduli alasan bahwa, "Saya nggak tahu tanggal berapa biasanya gaji dibayari..." dan "...mereka juga tidak minta atau mengingatkan..." Tidak ada maknanya itu alasan, kalau kata orang Medan, meskipun benar demikian adanya. Bagi beliau, perkara gaji adalah perkara sakral. Menyangkut kebutuhan hidup pekerja. Penting, sepenting hadist "Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan." (HR Baihaqi) Itu penting, kata beliau. Meski pekerja di toko dan gudang no problem, dengan alasan sudah bertahun-tahun bekerja, sudah macam keluarga, tidak ada guna mendebat hak-hak demikian, pada orang yang "terlalu ambil peduli" pada warning, "Kecelakaan besarlah bagi mereka yang curang", macam tertera di ayat 1 surah Al- Muthaffifin. Memalukan? Oh, sangat! Orang yang merasa tahu banyak, merasa peduli pada rakyat, pada kaum pekerja, disikut orang tua sendiri cuma karena telat bayar gaji. Macam mana mau protes-protes para majikan berdasi di korporasi-korporasi? Macam mana mau berlagak meringankan kaum pekerja kasar harian, sementara ia sendiri disemprot ibunya karena - dengan alasan sedang pulang kampung dan capek - melempar jins yang belum kotor seenaknya ke keranjang? Hari dimana omelan lain terdengar, "Jangan seenaknya menambah beban si Nyak," dan... "Kalau mampu cuci, cuci sendiri... kasihan orang tua macam itu diberati jinsmu!" untuk mengingatkan berat beban si pengambil upah cucian di rumahnya sendiri, untuk menyadarkan bahwa jins yang didoyani kaum laki-laki itu bisa subhanallah beratnya untuk dicuci kalau sudah direndam air. Jangankan orang tua yang sudah lewat setengah abad, lengan anak muda saja macam mau patah rasanya. Orang-orang tua itu tidak baca tulisan-tulisan macam To Working People-nya Charles Dickens, The Soul of Man Under Socialism-nya Oscar Wilde, atau Socialism and Superior Brain-nya si Bernard Shaw, yang semua memiliki renungan pada kaum pekerja, cuma untuk menyentil kepedulian sehari-hari yang diimplementasikan dari nilai-nilai mendasar, dari agama dan kearifan budaya tersendiri. Mereka tidak pernah dengar itu pendapat si Orwell bahwa, "bukanlah masyarakat yang berisi orang tua baik yang berderma kalkun kepada orang miskin" yang diinginkan tetapi masyarakat "yang di dalamnya 'derma' tidak lagi diperlukan". Mereka cuma tahu kalimat-kalimat kampungan begini, "Sungguh lebih baik bagi seseorang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya (lalu menjualnya) daripada meminta-minta kepada orang lain yang mungkin akan memberinya atau menolaknya." (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai) Dan itu, sudah cukup bagi beliau-beliau untuk mengajarkan kemandirian dan penghargaan terhadap setiap usaha orang yang bekerja. Dari itulah, sehari menjelang Hari Buruh ini, saya mengambil persetujuan dengan penutup dari tulisan To Working People-nya Dickens: ... Telah tiba waktunya bagi mereka untuk mengangkat diri mereka dan yang mereka sayangi, tanpa mengorbankan siapapun, tanpa kekerasan atau ketidak-adilan, dengan bantuan dan dukungan, dengan kebaikan kekal bagi seluruh komunitas. Kita juga sangat berharap mereka dapat duduk di depan perapian dan ada kursi-kursi di musim dingin yang tersedia untuk mereka. Namun, berusaha adalah sukar dan kehilangan adalah berat. Ada hiburan yang jauh lebih tinggi dari berjuang dalam kehidupan yang menyesatkan ini, yaitu ketika merenung dengan mata berkaca-kaca di samping kuburan. Buruh, atau tepatnya Kaum Pekerja ini, sudah mesti lepas dari penyempitan makna yang cuma hadir di depan gerbang pabrik, dari ketergantungan pada seremonial tahunan untuk menunjukkan eksistensi, dari keterikatan pada serikat-serikat pekerja yang berisi petualang-petualang politik, dari penggantungan nasib dan harap pada figur aktivis yang bertransaksi pada kotidak suara. Hanya mereka - baik individu atau komunitas tanpa hierarki yang menjadi raja-raja tersendiri di organisasi - yang bisa mengangkat diri-mereka sendiri. Menghargai diri mereka sendiri. Dan setiap orang membantu, terutama yang bekerja di bawah orang lain, dengan belajar menagih gaji pada hari gajian, dengan belajar untuk tidak dipaksa tunduk pada keputusan majikan, meski itu berarti berhadapan dengan anak boss sendiri... Rasa sungkan dengan sopan-santun ketimuran, terkadang sering memperalat pekerja untuk menunda menagih hak. Bisa jadi itu anda sendiri...

Asa Kami

Berilah kami kesejahteraan

Bukan hanya janji dan siksaan

Saya juga manusia walau hidup pas pas-an

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?