Sejarah Itu Seharusnya Cermin

13 Juli 2012 18:29:24 Dibaca :

Senin, 21 November 2011
Beras Jawa ditukar tekstil India. Serdadu Jepang dan tawanan perang sekutu lempang pulang. Sjahrir memberi fondasi politik luar negeri bebas aktif.

Inilah “diplomasi beras” ala Sjahrir yang dimulai April 1946 ketika dia membuat penawaran yang sensasional di masa itu. M e n g i r i m k a n setengah juta ton beras asal Jawa ke India yang terancam kelaparan akibat gagal panen. Dia meminta beras itu ditukar dengan tekstil dan obat-obatan untuk Republik. Beberapa petinggi Republik saat itu terhenyak. Apalagi pasca-Jepang pergi, kondisi Republik masih sangat papa. Tapi Sjahrir sendiri kemudian mengulangi pesannya kepada Free Press.

Nehru yang terpukau oleh uluran tangan Sjharir lantas mengadakan Asian Relations Conference di New Delhi dan mengundang Sjahrir. Kesuksesan diplomasi beras itu tak lepas dari strategi Sjahrir merengkuh “kawan” segera setelah perang berakhir. Hanya dua minggu setelah resmi menjadi perdana menteri pada akhir November 1945, Sjahrir menandatangani perjanjian dengan sekutu untuk memulangkan serdadu Jepang dan tawanan perang.Perundingan dilakukan Wakil Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Hubungan Sjahrir dengan dunia luar sepanjang 1945– 1947 sering dikutip sebagai kesuksesan.

Sjahrir juga merupakan tokoh yang dikenal di dalam sejarah Perjanjian Linggarjati yang banyak menuai kontroversi. Sjahrir, perdana menteri berusia 37 tahun,memimpin pertarungan diplomasi tingkat tinggi.Anggotanya Mohammad Roem, Soesanto Tirtoprodjo–– keduanya meester in de rechten––, dan Dokter Soedarsono.Perundingan Linggarjati adalah hasil diplomasi berliku yang diusahakan Sjahrir. Setelah proklamasi, situasi Indonesia sangat genting. Belanda datang kembali membonceng sekutu.

Mereka mendarat di Tanjung Priok pada 29 September 1945.Tak berapa lama, Surabaya membara pada 10 November perang hadir di depan mata dan Indonesia terancam kalah.Adalah Sjahrir yang bisa membalik semua keadaan itu dalam waktu cepat. Pada 23 November, kabinet Sjahrir menjawab dengan maklumat, Indonesia tak sudi berunding selama Belanda berpendirian masih berdaulat di Indonesia.

Seperti bermain catur, sedikit demi sedikit Sjahrir terus menekan Pemerintah Belanda melalui diplomasi. Ia terus-menerus mengupayakan agar Indonesia dan Belanda duduk di meja perundingan. ●

M REZA S ZAKI
Menteri Kastrat BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM)

Haryono Riyadi Agus

/haryonoriyadi

Saya seorang filosof muda yang punya visi & misi untuk kedamaian, khususnya dalam diri pribadi. yang selebihnya untuk berbagi saja!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?