Mohon tunggu...
Agung Christanto
Agung Christanto Mohon Tunggu... Guru - guru SMA

Dari Nol Menuju Puncak, Berbagi Inspirasi dengan Keteguhan Hati

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Cermin Diri

19 April 2024   12:51 Diperbarui: 19 April 2024   12:59 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

PUISI: Cermin Diri

Di dalam kegelapan, sinar keburukan manusia menyala,
Tak perlu setan untuk menjelaskan cela.
Kita, umat Katolik, melihat cermin diri,
Kasih, penghormatan, ataukah menghina setiap sifat diri?

Kita lihat Pdt. Gilbert, dan mualaf lain yang senang memfitnah,
Gereja, Yesus, Bunda Maria, tak luput dari caci dan hina.
Namun, dalam sorot cermin, kita melihat bayang diri,
Protokol protes dan kebencian, adakah kita seiring berjalan?

Pertama, relasi dengan Tuhan, itulah inti,
Bukan hanya dogma atau liturgi, tapi hati yang terbuka meraih cinta-Nya.
Kerusakan hubungan, jadi lahirnya caci dan fitnah,
Penghinaan kepada-Nya, akankah kita juga jadi bagian cerita?

Kedua, kesombongan, bijaknya itu hancur,
Yang mengejek, merasa paling tahu, jelaslah tanda rusak relasi itu.
Kita, dengan pengetahuan atau tanpanya, janganlah terbuai,
Kesombongan bukan sifat mulia, itu hanya hati yang tak tergantung Tuhan kuasa.

Cermin diri, tak boleh lupa,
Kita semua jadi penjaga, pembawa cahaya.
Tak cukup menyalahkan setan, jika kita sendiri bagian malam gelap,
Mari, bersama-sama, jadikan kasih-Nya yang tak lekang.


Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun