HEADLINE HIGHLIGHT

Operasi Seroja

28 Februari 2013 07:11:28 Dibaca :
Operasi Seroja
-

"Goblok, cepat benamkan mukamu di tanah, cari batu buat berlindung, jangan sembunyi di balik pohon, ak47 mampu menembusnya!!!"

Suara desingan peluru beterbangan tepat di atas kepala kami, entah dari mana sumber rentetan muntahan peluru di lesakkan, tetapi suara Letnan terus berteriak menginstruksikan anak buahnya mencari tempat perlindungan supaya tidak mati konyol di usia muda.

Sekarang kami sedang melaksanakan Operasi Seroja di Timor-timor. Operasi ini kesannya begitu mendadak dan terburu-buru. Ini terbukti banyak prajurit seperti diriku yang baru lulus pendidikan langsung di terjunkan di medan perang. Padahal hanya 6 bulan masa pendidikanku, memegang senjata saja masih gamang apalagi membunuh.

Banyak teman sepenerjunanku yang meninggal sebelum peluru keluar dari selongsongnya. Ini di karenakan sebelum memasuki zona penerjuanan pesawat Hercules yang kami tunggangi sudah di berondong peluru dari perbukitan. Akibat mendesaknya situasi tersebut, penerjuanan terpaksa di lakukan.

Beberapa temanku kakinya patah ketika mendarat, ada juga yang tersangkut pohon. Beberapa lainnya nasibnya lebih tragis ketika masih di atas sudah di berondong, seketika itu pula sudah tidak bernafas.Namun yang paling tragis mendarat di atap rumah atau di lapangan terbuka kota dimana para Fretilin sudah siap memberondong dan menangkap.

"Arah jam 10 letnan"

Teriak seorang prajurit setelah tembakan itu berhenti, ini pertanda lawan sedang mengisi amunisi, dan ini sebagai penanda serangan balasan harus segera di lesakkan.

"m60..m60..m60"

Seru sang Letnann kemudian di ikuti oleh prajurit lainnya. 2 orang membawa M60 sudah di hadapan Letnan. Dengan bahasa isyarat 2 prajurit ini sudah memahami.

jeejejejejjejejejejjejejjejejejjejejejjejejejejjejejejjejejejejejjejejejeje

2 senapan mesin dengan ratusan muntahan peluru per-menitnya sudah di lesakkan. Saat M60 melakukan aksinya, para prajurit lain sudah menempati posisi serang dan membaca situasi dengan mengamati ada berapa musuhkah yang menghadang mereka.

"Berhanti"

jejejjejeeee

Sudah tiada balasan tembakan, semua terdiam. Suasana seketika hening, hanya terdengar kicauan burung serta monyet yang bersahut-sahutan bagai paduan suara. Aroma selongsong peluru panas menusuk hidung menambah ketegangan yang membuat syaraf terasa kaku berdiri.

Beberapa menit terlewati tidak terjadi aktivitas di kubu lawan, rasa tegang itu sedikit berkurang.Terbukti ada prajurit yang kentut, bunyi suaranya seperti di tahan tetapi malah membuat suara lengking panjang nyaring di tengah keheningan. Setiap  orang pun menoleh ke asal bunyi.

"Jancookk"

Ucap seorang prajurit yang mungkin kesal atau mungkin ingin tertawa, di saat tegang-tegangnya darah terpompa begitu cepat ke jantung, nyawa menjadi taruhan, masih ada orang yang sempat-sempatnya kentut.

Dengan isyarat tangan Letnan, 2 orang di ikuti 4 orang belakangnya maju melihat situasi di depan.

***

Ini adalah pengalaman pertamaku dalam perang sesungguhnya. Ketika awal masuk Timor-timor aku bertemu banyak orang yang sudah berpengalaman dalam perang, seperti penumpasan DI/TII. Namun juga bertemu banyak orang juga yang seperti diriku, amatir.

Saat aku masih kecil, bayanganku tentang tentara adalah seorang yang pemberani, gagah penuh wibawa. Tetapi ketika terjadi perang seperti ini aku baru memahami tentara juga seorang manusia biasa.

Awal mula pasukan kami menjelajahi hutan, berondongan peluru di tembakkan ke arah kami, tiba-tiba salah seorang prajurit dalam pasukan kami menangis teringat emaknya akibat desingan peluru yang menakutkan dengan suara memekakkan telinga. Tentu saja hal ini membuat Letnan mengumpat dan bilang "Jancok, bocah jek ngempeng di kirim perang."

Aku sendiri juga sangat takut, tidak ubahnya dengan rekan yang menangis, tetapi ketika melihat mata pasukan lainnya terlihat tenang. Maka, sudah seharusnya aku menyembunyikan ketakutanku. Rekan yang lain masih Tamtama termasuk yang menangis, sementara aku sudah Bintara yang pangkatnya lebih tinggi, jika aku memperlihatkan ketekutanku, sungguh memalukan.

Saat pasukan Fretilin di pukul mundur, sebenarnya beberapa rekan sudah tidak peduli kepada si cengeng dan terus memukul Fretilin. Kami tidak meninggalkannya karena sang Letnan.

"Hai, jangan apatis kalian, itu temanmu jangan kau tinggalkan, tentara itu solidaritas persaudaraan nomor satu, jangan sekali kali meninggalkan rekan sendirian, apatis itu namanya."

***

2 orang telah melihat keadaan di depan, salah satunya adalah rekan yang menangis teringat emaknya dahulu. Kini dia memilih posisi terdepan. Satu setengah tahun sudah rasa takut itu di kubur dalam-dalam sebagai penyesalan dan rasa malu di waktu lalu, ujung tombak garis terdepan dia minta dari Letnan.

"Aman, 2 target sudah di lumpuhkan."

Akibat peluru m60 lubang begitu besar menganga terlihat, mereka tewas seketika. Kami menyita 2 pucuk senapan ak47 besereta amunisi dan sebuah granat yang belum sempat di lemparkan.

2 tahun setengah kami bertempur akhirnya menang. Seribu lebih korban yang tewas, hilang, serta terluka dalam tubuh TNI. Sedangkan di pihak Fretilin sekitar seratus sampai dua ratus ribu yang kebanyakan adalah penduduk.

Saat TNI melakukan penyerbuan, para Fretilin membagikan senjata dari Portugis kepada rakyat, padahal mereka tidak tahu menahu. TNI sendiri tidak akan menembak seseorang yang tidak bersenjata, apalagi rakyat. Di samping itu, kedatangan TNI juga karena Rakyat Timor-timor sendiri yang menginginkannya.

***

20 tahun waktu seolah begitu cepat terlewatkan. Kini aku memandang televisi dengan sebuah pemberitaan bahwa Timor-timor ingin memisahkan diri. Terkadang aku berpikir,buat apa kita dahulu merebut Timor-timor kalau pada akhirnya menyerahkannya kembali.

Situasi dahulu dengan sekarang juga sama, jika dahulu Karena desakan Amerika dan Australia Timor-timor di serang, kini juga sama akibat desakan Amerika dan Australia supaya Timor-timor merdeka, bedanya Indonesia tidak ngotot mempertahankan dan membuat banjir darah untuk kedua kalinya.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?