Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi. Ayo ikut "Cerahkan Indonesia" dengan berbagi kabar baik. Karena ada banyak hal hebat di dekat kita. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com. Instagram @HadiSantoso08/Twitter @HadiSantoso08

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Mundur Kerja Demi Keluarga, Kenapa Tidak?

17 Februari 2017   10:21 Diperbarui: 17 Februari 2017   10:55 259 3 0

Memutuskan mundur dari tempat kerja kemudian berpindah kerja ke tempat baru, bukanlah keputusan yang mudah untuk diambil. Butuh perenungan matang sebelum menjatuhkan pilihan. Setidaknya, beberapa orang menganggapnya sebagai urusan yang ribet. Ribet karena harus direpotkan dengan pengajuan resign ke kantor yang tentunya butuh waktu dan terkadang 'perang mental'. Ribet karena keputusan itu bisa mengubah rutinitas dan ritme hidup yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Belum lagi bila kepindahan ke tempat kerja baru itu juga mengharuskan berpindah tempat tinggal. Tentunya juga harus memindahkan barang-barang rumah tangga pula. Boyongan, begitu istilah orang Jawa. Termasuk juga mengurus kepindahan sekolah anak dan mencarikan sekolah yang baru di tempat baru. Tidak semua orang mau beribet ria seperti itu. Bisa jadi, bila ada orang yang betah bertahun-tahun bertahan di tempat kerja nya meski sejatinya tidak punya prospek bagus, mungkin dikarenakan alasan itu. Mereka lebih memilih pasrah dibanding harus melakoni segala keribetan karena berpindah tempat kerja itu.

Namun, bila mundur kerja lalu berpindah kerja ke tempat lain itu dilakukan demi keluarga, rasanya keribetan itu menjadi urusan yang menyenangkan. Bukan sebuah beban berat. Cukup diingat kehidupan  ke depan yang akan dijalani. Meski, tetap saja bagian yang paling sulit adalah melepaskan ‘kehidupan lama’ dengan segala warna-warni nya untuk menyambut fase “kehidupan baru”.

Cerita mundur dari tempat kerja itulah yang dilalui salah seorang tetangga baik di perumahan yang saya tinggali. Tetangga baik yang sudah empat tahunan tinggal di Sidoarjo ini, memilih mundur dari tempat kerja nya di Mojokerto, demi kembali pulang ke kota asalnya, Cikampek. Namanya Pak Rusdi. Usianya sekira 37 tahun.

Dia mundur bukan semata karena kangen kampung halaman. Tapi, karena keinginan untuk punya lebih banyak waktu berkumpul bersama istri dan juga dua anaknya. Si sulung yang kini duduk di bangku kelas 2 SD. Dan si bungsu yang baru mengenal lingkungan sekolah di play group. Sebuah keputusan yang bisa dimengerti.

Dari ceritanya yang saya dengar, Pak Rusdi dulunya dipindah bekerja di Mojokerto karena perusahaan tempatnya bekerja di Cikampek, kebetulan membuka cabang di Mojokerto. Dia diutus untuk membesarkan perusahaan cabang itu. Jabatannya lumayan tinggi di perusahaan itu.

Hampir setiap hari, dia pulang pergi Sidoarjo-Mojokerto dengan berkendara roda empat. Lumayan jauh. Butuh waktu satu jam lebih. Bahkan bisa lebih bila macet. Terlebih, perusahaan tempat nya bekerja memberlakukan sistem shift pagi dan malam. Jadilah dia terkadang berangkat jam 5 pagi ketika tetangga nya masih bersantai bersama keluargadan baru kembali ke rumah jam 7 malam. Bila shift malam, dia bisa berangkat ba’da maghrib dan baru pulang keesokan hari nya. “Saya ingin punya lebih punya banyak waktu untuk anak-anak. Di sini waktu saya habis untuk bekerja,” ujarnya.

Dia cinta pekerjaannya demi keluarganya. Tapi, keinginan untuk bisa lebih dekat dengan anak-anaknya itu yang membuat dia akhirnya “menyerah”. Memilih mundur. Bagi nya, dia rela melepaskan status tinggi nya di perusahaan itu demi anak-anak nya. “Alhamdulillah saya di Cikampek sudah dapat pekerjaan. Dan terpenting, lokasi nya dekat dengan rumah dan jam kerja nya juga lebih teratur,” ujarnya.

Ada keharuan yang saya dan istri rasakan begitu melepas keluarga ini yang berpamitan pada akhir bulan lalu. Tapi, saya bisa memahami keinginan mereka. Sebab, apa yang dialami pak Rusdi, juga saya alami pada empat tahun lalu ketika memutuskan mundur dari tempat kerja yang telah delapan tahun saya tekuni. Alasannya sama, demi punya lebih punya banyak waktu untuk berkumpul bersama anak-anak.  

Saya menyebut nya sebagai “kehidupan kedua”. Saya juga sering mengibaratkan nya dengan “berpindah ke perahu sekoci setelah menaiki kapal pesiar” dengan segala risiko dan kelebihan yang ada. Pak Rusdi pastinya juga akan mengalami nikmat dan seru nya ‘menaiki perahu sekoci’ itu.

Pesan dari tulisan ini, bila orang-orang seperti pak Rusdi ini berani melakukan pilihan yang tidak mudah dan mengubah cerita hidupnya demi bisa lebih sering berkumpul dengan anak-anak nya, maka kita para orang tua yang sejatinya lebih sering berkumpul dengan anak-anak, tentunya rugi besar bila tak mampu memaknainya dengan baik. Tak mampu merasakan manis nya berkumpul dengan keluarga karena lebih sibuk dengan urusan di luar rumah. Semoga kita tidak seperti itu. Salam.