HEADLINE

12 Anak Tak Menghalanginya Meraih Predikat Cum laude

17 April 2012 12:17:04 Diperbarui: 01 Maret 2017 13:09:11 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
12 Anak Tak Menghalanginya Meraih Predikat Cum laude
13347130471885523408

Bunda

Sebagian besar wanita pasti tidak memiliki cita-cita untuk memiliki banyak anak. Tapi, berbeda dengan bundaku. Bunda bercita-cita untuk memiliki banyak anak. Kini bunda dikarunia 12 anak. Meskipun memiliki banyak anak, bunda tetap bekerja membantu ayah mencari nafkah.

Dan di sela-sela waktu, bunda terus belajar mengupgrade diri. Lahir di Benteng Selayar 14 Maret 1962 dan dibesarkan di Padang menjadikan pribadi bunda penuh dengan nilai-nilai dan pondasi keIslaman yang kuat. Itulah mungkin alasannya bunda memutuskan untuk tidak mengikuti program KB dan lebih memilih memiliki banyak anak. Meskipun di besarkan dalam lingkungan Islam yang kuat ternyata bunda gemar sekali membaca novel. Salah satunya adalah novel karya J.K Rowling, Harry Potter. Beberapa novel Harry Potter dilahap oleh bunda dalam beberapa malam saja.

Bunda adalah seorang sarjana lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di tempat itulah bunda bertemu dengan ayah. Tak mau berpacaran, bunda langsung meminta dinikahi. Akhirnya ayah pun setuju untuk menikahi bunda pada saat mereka masih kuliah. Pada saat mereka kuliah itulah aku dan kakakku dilahirkan. Hingga akhirnya pada saat bunda lulus sarjana, bunda memiliki tiga orang putera. Kakaku, Aku dan adikku.

Pemikiran bunda mungkin sangat bertolak belakang dengan trend anak muda saat ini. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menikah setelah bekerja dan mapan. Baru kemudian menikah. Tidak demikian dengan bunda. Bunda ingin menjaga hubungannya agar terjaga dan diridhai oleh kedua orang tua dengan jalan menikah. Masalah pernikahan bukan hanya mempersatukan dua hati tapi juga mempersatukan dua keluarga. Begitu petuah bunda ketika aku akan menikah. Agar aku benar-benar berhati-hati ketika memilih pasangan.

Bukan hanya melihat calon istri tapi juga melihat latar belakang keluarganya. Setelah lulus kuliah bunda mengabdikan diri bekerja di Pesantren yang didirikan oleh kakekku di kawasan Bandung Utara. Bunda menjalani karier dari bawah. Mulai dari staf TU sekolah hingga yang paling bergengsi adalah kepala sekolah. Awalnya bunda menjadi kepala sekolah di SMP, kemudian naik menjadi kepala sekolah di SMA.

Saat ini bunda hanya mengajar. Selain mengajar di sekolah, bunda juga memiliki murid privat. Bunda mengajar mengaji dan tadarrus Al-Quran. Dari mengajar privat bunda memiliki penghasilan tambahan untuk kehidupan keluarga sehari-hari. Tahun lalu bunda mengikuti PLPG. Tapi sampai saat ini bunda belum tahu hasilnya. Padahal bunda sudah mengajar lebih dari 20 tahun. Tapi bunda tidak terlalu mengharapkan dana sertifikasi, karena bunda sudah terbiasa hidup sederhana dan berkecukupan. Sejak dulu bunda sudah terbiasa hidup sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan sengsara. Tiap kali makan, bunda selalu mengingatkanku agar menghabiskan makananku.

Bunda pernah bercerita saat-saat sulit dulu. Kadang kali bunda hanya mendapatkan bagian telur rebus yang telah di belah empat. Kemudian telur itu dibagi rata dengan saudara-saudara bunda lainnya. Saat itu kakek hanya seorang penjual terasi dan kuli bangunan saja. Mereka hidup menumpang di rumah buyutku di daerah Cisitu Lama, Bandung. Kehidupannya mungkin sedikit lebih baik ketika kakek diterima sebagai pengawai negeri di Departemen Agama. Sayangnya justru karena itulah bunda harus berpisah dengan kakek beberapa tahun lamanya.

Kakek ditugaskan di Pulau Buru membina para tahanan ex PKI. Kesederhanaan lain yang tampak dalam diri bunda adalah bunda tidak suka menggunakan perhiasan. Bahkan saat ini bunda tidak memiliki harta apapun yang menempel di badannya. Kadang kala aku seperti melihat kesederhanaan Buya Hamka dalam dirinya. Anting, gelang ataupun kalung tidak akan ditemui padanya. Bahkan mas kawin bunda pun sudah di jual untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Bunda tak pernah silau harta. Bunda pun berwasiat tidak akan mewariskan harta apapun kecuali ilmu.

Beberapa tahun lalu, bunda baru saja lulus dari program pascasarjana di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Meski sibuk mencari nafkah dan mengurus anak-anak bunda masih bisa berprestasi. Tak tanggung-tanggung, bunda lulus Master Administrasi Pendidikan dengan predikat kelulusan cum laude. Hal ini tentu saja membanggakan. Karena jarang sekali ada seorang ibu yang bekerja, mengurus anak sekaligus kuliah hingga tingkat pascasarjana dan berprestasi pula. Bunda sangat beruntung mendapatkan beasiswa dari pesantren untuk bisa sekolah lagi di pascasarjana. Karena tidak mungkin bunda bisa bersekolah tanpa ada beasiswa. Untuk biaya kuliah adikku yang ke enam saja harus meminjam ke pesantren. 20 juta rupiah harus bunda siapkan sebagai dana awal di Universitas yang sama.

Adikku lulus jalur mandiri jurusan B. Arab di UPI. Sayangnya adikku tidak lulus lewat jalur SNMPTN. Padahal jika lulus lewat jalur SNMPTN mungkin bunda tak perlu menyiapkan dana sebesar itu. Tapi berkat bantuan pinjaman dari pesantren akhirnya adikku bisa juga kuliah. Banyak lifeskill yang diajarkan bunda ketika aku kecil. Hingga kini aku terbiasa hidup bersih. Karena dulu bunda selalu menugasi aku untuk mencuci piring, menyapu halaman hingga membersihkan kamar mandi setiap sepekan sekali. Mungkin dulu bagiku hal itu adalah hal yang paling menjengkelkan, karena sangat menyita waktu bermainku.

Tapi setelah dewasa kini aku sadar, ternyata untuk menjadi orang yang mandiri itu tidak mudah tanpa pendidikan dan pembiasaan sejak kecil. Dan saat ini  banyak orang tidak bisa hidup mandiri karena dulunya tidak dididik untuk hidup mandiri. Akhirnya bergantung pada orang lain. Untuk hal-hal sepele pun kadang menyuruh orang lain.

Kehidupan bunda kini masih sama seperti biasa. Bunda tidak memiliki keinginan apapun selain menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan yang paling tinggi. Aku cukup bersyukur karena biaya kuliahku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bisa di topang oleh kakekku saat ia menjadi anggota DPR dulu. Itupun hanya keberuntungan saja. Kini kakakku berwirausaha dengan keahliannya di bidang desain grafis dan multimedia, aku sendiri menjadi seorang guru, adikku yang pertama telah menjadi seorang PNS dan ditugaskan di Aceh, adikku yang kedua menjadi apoteker di salah satu lembaga kesehatan yang khusus menangani kaum dhuafa di Bandung, adikku yang ketiga sedang menghafal Al-Quran di sebuah pesantren di Jombang, adikku yang ke empat kuliah di UPI jurusan Bahasa Arab, dan adik-adikku yang lain masih pelajar mulai dari SMA hingga TK.

Kini aku telah mengahadirkan keluarga baru dalam keluarga besarku. Istri ku dan anakku yang kini baru berusai 17 bulan. Bunda sangat senang mendapatkan cucunya yang pertama. Kakek dan nenekku juga sangat senang mendapatkan cicitnya yang pertama. Kakekku sangat bangga karena memiliki 33 cucu dan seorang cicit. Tentu ini semua karena sumbangan bunda dan ayahku yang memiliki 12 orang anak. Ada hal lain yang menurutku bundaku adalah ibu dan wanita yang sangat spesial. Bundaku ternyata siap di madu. Bunda tidak keberatan jika ayahku menikah lagi. Untuk yang satu ini saya belum tahu alasannya. Pasti bunda punya pendapat lain. Ah beruntungnya engkau duhai Ayahanda.... Serpong

Follow @DzulfikarAlala

Tulisan terkait: Melahirkan 12 Anak Dengan Predikat Cum LaudeFalsafah Hidup dalam Film N5M

Dzulfikar

/fikar

TERVERIFIKASI

SEO Writer at Travel Blog, former teacher contact me delapanempat@gmail.com | http://dzulfikaralala.com/
Selengkapnya...

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana