Febriyandika TB
Febriyandika TB pelajar/mahasiswa

Don't just plan what are you going to do, but DO what you have planned

Selanjutnya

Tutup

Memori "Asian Youth Day 2017"

11 Agustus 2017   22:15 Diperbarui: 11 Agustus 2017   22:22 110 0 0

Berakhir sudah perayaan akbar Asian Youth Day ke 7 yang digelar di Indonesia dari tanggal 29 Juli - 6 Agustus 2017. Menjadi bagian dari perjumpaan dengan ribuan Orang Muda se-Asia merupakan suatu pengalaman dan kebanggaan tersendiri. Begitu banyak memori yang tercipta dan kenangan yang terukir indah. Kegiatan Asian Youth Day ini terbagi ke dalam 2 kegiatan utama, yaitu "Days in Dioceses (DID)" dan "Days in AYD's Venue". Di Keuskupan Agung jakarta terdapat 8 tempat DID yang terbagi di setiap dekenat. Saya mendapatkan kesempatan DID di Dekenat Timur tepatnya di Paroki Cijantung, Gereja Santo Aloysius Gonzaga, bersama dengan teman-teman dari Keuskupan Jayapura, Timika, Tanjung Selor, dan Palangkaraya, serta dari delegasi asing Filipina dan East Asia (Youth Group).

DAYS in DIOCESES

Hari pertama DID kami disambut dengan guyuran hujan di siang hari yang membuat udara menjadi sejuk :D. Sesampainya kami di paroki DID kami kembali dikejutkan dengan sambutan yang sangat luar biasa oleh para OMK dan Dewan dari Paroki Cijantung. Mereka sungguh antusias menyambut kedatangan kami. Setelah beristirahat sejenak, kami disuguhkan dengan berbagai makanan ringan khas Indonesia. Lalu kami berkenalan dengan teman-teman OMK di sana yang sangat baik hati dan ramah. Hingga pada akhirnya kami diperkenalkan dengan orang tua asuh kami masing-masing yang akan menampung kami selama 4 hari 3 malam di Paroki Cijantung. 

Setiap rumah akan ditempati oleh 2 orang peserta AYD, dan saya mendapatkan kesempatan tinggal bersama salah satu peserta asing Delegasi East Asia bernama Chun Ming. Sesampainya di rumah orang tua asuh, kami pun hanyut dalam obrolan-obrolan ringan dengan ibu dan bapak asuh, walaupun kami sedikit mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan Roommate saya karena ia hanya bisa berbahasa mandarin, dan kami tidak ada yang bisa berbahasa mandarin, alhasil google translate pun menjadi pahlawan bagi kami. Di tengah obrolan yang hangat, saya dikejutkan dengan cerita sang ibu yang mengatakan bahwa suaminya adalah seorang Guru Besar Universitas Indonesia, dan sang ibu sendiri juga berprofesi sebagai dosen. Waaaw baru hari pertama saya sudah merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa pada saya. Tidak berakhir di situ, sembari menunggu hidangan makan malam saya dan Chun Min pun diajak berkeliling rumah yang bagi saya cukup besar. tidak lupa saya mengabadikan setiap sudut di rumah tersebut. 

Beberapa bagian dari rumah tersebut yang membuat saya kagum adalah adanya ruang doa khusus dan sebuah Goa Maria dengan dekorasi yang indah, dengan paduan kolam ikan di depannya. Puas berkeliling rumah, kami pun melanjutkan dengan santap malam bersama. Tidak banyak yang kami bicarakan selama makan karena memang waktu sudah cukup larut malam. Setelah selesai makan malam tidak lupa kami berdoa bersama untuk hari yang indah dan untuk istirahat kami malam itu. Saya tidur satu kamar dengan Chun Ming, saat di kamar hampir tidak ada percakapan saya dengan Chun Ming, hanya gerakan dan bahasa tubuh yang sesekali kami lakukan untuk mengatakan atau menjawab sesuatu, dan selalu diakhiri dengan tawa karena mungkin dia melihat gerakan saya lucu, dan saya pun demikian melihat dia sungguh lucu. :D 

Hari pertama saya mendapat permenungan dari keluarga yang saya tinggalkan tersebut, yaitu betapa sibuknya sebuah aktifitas, pekerjaan, dan kegiatan apapun yang menyita banyak waktu, keluarga ini tetap memperhatikan imannya, mereka tidak meninggalkan jati diri mereka sebagai seorang yang taat akan Kristus hingga membuat banyak tempat untuk berdoa di rumahnya agar tetap selalu bisa mendekatkan diri pada-Nya. Sungguh jarang ditemui keadaan seperti ini di tengah kota metropolitan seperti Ibu Kota Jakarta.

Memasuki hari ke 2 DID kami semua kembali berkumpul di Paroki dan melakukan aktifitas bersama dengan seluruh peserta AYD yang berada di Paroki Cijantung. Kami melakukan kunjungan ke beberapa paroki yang berdekatan dengan Paroki Cijantung, dan di siang hari kami melakukan kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah. Kami pun memanfaatkan waktu yang singkat untuk mengunjungi setiap anjungan yang ada, dan kami yang berasal dari Indonesia khususnya Jakarta secara otomatis menjadi Guide bagi teman-teman dari Indonesia Timur juga delegasi asing. Setelah puas kami pun kembali ke Paroki Cijantung untuk mengadakan misa bersama dan setelah misa ditutup dengan Malam Seni yang sangat meriah dengan tatanan panggung yang mewah serta dilengkapi dengan belasan stand makanan tradisional Indonesia yang dihidangkan secara gratis. Sungguh sebuah kebaikan yang luar biasa yang dipersembahkan oleh teman-teman OMK Cijantung. 

Kami kembali hanyut dengan penampilan-penampilan yang dipersembahkan di atas panggung. Malam Seni itu juga dihadiri oleh seluruh Orang Muda Katolik yang ada di Dekenat Timur. Tanpa rasa malu saya pun mengajak teman-teman peserta AYD dari Indonesia dan Filipin untuk berjoget bersama di depan panggung. Seperti layaknya seorang yang sudah kenal lama kami asyik menikmati setiap alunan lagu yang dimainkan. Dan malam itu pun ditutup dengan pesta kembang api yang cukup mewah. 

Sekali lagi saya merasakan sebuah pengorbanan tulus dan totalitas yang dipersembahkan oleh teman-teman OMK Cijantung. Saya menyadari betapa melelahkannya menyambut kami yang datang terbagi ke dalam 3 kloter pada hari pertama (siang, malam, dan dini hari). Dan setiap paginya selalu siap dan penuh semangat memberikan kegiatan-kegiatan yang penuh kesan untuk kami para peserta. Mereka tetap terlihat kompak satu sama lain, sehingga membuat kami sangat nyaman berdinamika bersama.

Memasuki hari terakhir di Paroki Cijantung kami melakukan kunjungan ke sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Kami diajak untuk kembali mengingat dan berbagi dengan adik-adik yang mendapatkan kehidupan yang tidak sebaik kami. Kami pun mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan mereka, berbagi kisah, dan saling memberikan semangat untuk tetap menggapai cita-cita yang tinggi. Waktu terasa begitu singkat ketika berdialog dan bercanda dengan mereka, akhirnya kami pun kembali ke paroki untuk makan siang bersama, yang disebut dengan liwetan.Kami makan bersama dengan seluruh peserta dan panitia di atas daun pisang yang disejajarkan tanpa menggunakan sendok. Bagi saya makan seperti itu sudah sangat biasa, tetapi saat itu saya merasakan hal yang lain, saya merasakan sungguh keharmonisan dan kenikmatan yang berbeda saat menyantap makanan tersebut. Mungkin karena kami makan bersama dengan orang asing yang mempunyai budaya yang jauh berbeda. Ada beberapa adegan lucu saat makan yang dilakukan oleh seorang teman dari East Asia, ada yang menunjukan ekspresi wajah kepedesanyang sangat lucu saat mencicipi sambal khas Indonesia, dan banyak hal berkesan lain yang kami alami saat makan bersama. Keceriaan pun mewarnai waktu makan kami hingga tidak sanggup lagi menghabiskan sisa makanan yang ada. Setelah selesai makan, kami kembali saling bercerita dan berfoto bersama, karena ternyata siang itu adalah saat terakhir kami peserta AYD bersunda-gurau dengan teman-teman OMK Cijantung, dan kami harus kembali ke rumah orang tua asuh kami untuk quality time malam terakhir dengan keluarga. Saat malam tiba saya dan Chun Ming diajak ke rumah salah satu umat di Wilayah tempat saya tinggal, di sana saya kembali mendapatkan teman dan pengalaman baru bertemu dengan teman-teman OMK dari Wilayah 2 Paroki Cijantung. Keramahan kembali saya rasakan ketika bertemu dengan mereka, meski saya hanya berdua dengan Chun Ming tetapi mereka sungguh menyiapkan segala jamuannya dengan sangat baik dan membuat saya terharu. Kami menyantap makan malam dan bernyanyi bersama dengan riang gembira. Karena waktu sudah semakin malam, dan keesokan harinya kami para peserta AYD harus berkumpul di Gereja Katedral pagi hari bersama dengan peserta DID dari 7 dekenat lainnya di Keuskupan Agung Jakarta, maka saya dan Chun Ming pun kembali ke rumah orang tua asuh kami.

Perayaan AYD yang sesungguhnya belum di mulai, tetapi saya sudah sungguh merasakan suka cita yang luar biasa. Bertemu dan kenal dengan teman-teman OMK Cijantung sungguh memberikan pengalaman iman yang begitu besar. Saya belajar banyak hal dari mereka. Mulai dari kerja keras mereka, pengorbanan yang sungguh totalitas, kekompakan, dan sangat terlihat sebuah ketulusan yang besar dalam melayani sesama. Mereka tidak memperlihatkan betapa lelahnya melayani kami selama 3 hari dengan jadwal yang begitu padat. Mereka tetap dengan ikhlas melakukan itu semua meskipun mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa menghadiri perayaan AYD yang sesungguhnya di Yogjakarta, yang saya yakin sebenarnya mereka punya harapan yang besar untuk bisa merasakan indahnya berdinamika bersama di Days in AYD's Venue.

Akhirnya hari terakir DID di Keuskupan Agung Jakarta pun tiba. Di hari terakhir ini sekitar 300 peserta AYD diajak mengelilingi kota Jakarta termasuk berkunjung ke Masjid Istiqlal. Di Masjid Istiqlal kami di sambut dengan sangat hormat oleh para petinggi Masjid tersebut. Kami dijelaskan tentang bangunan Masjid tersebut yang ternyata beberapa bagian dari Masjid tersebut adalah hasil dari tangan seorang Kristiani. sungguh menunjukan sebuah contoh keberagaman dan toleransi yang indah. Puas berkeliling dalam Masjid tersebut kami melanjutkan citytour ke berbagai tempat di Jakarta. 

Di sepanjang perjalanan saya duduk bersebelahan dengan seorang peserta dari Filipina bernama Abby, saya pun mengambil kesempatan itu untuk menjelaskan daerah-daerah yang kami lewati, gedung-gedung yang kami jumpai, dan apapun yang kami lihat, walaupun kemampuan bahasa inggris saya kurang baik tapi saya yakin ia mampu mengerti apa yang saya maksud :D Saya pun semakin akrab dengan nya. Kemudian kami singgah di Monumen Nasional, saya berfikir kami akan berkesempatan naik ke atas tetapi ternyata kami hanya diperkenankan berada di taman sekitar MoNas. Kami pun asyik membaur dengan teman-teman lain yang berasal dari tempat DID yang berbeda. Tidak terasa waktu mengharuskan kami untuk kembali ke bis dan kami pun kembali ke Gereja Katedral untuk mengadakan misa penutupan DID. Misa berlangsung secara meriah dengan konselebran utama Vikjen RD Samuel Pangestu, dan didampingi oleh seorang Uskup dari Filipina. Setelah misa selesai, kami menghabiskan malam terakir dengan menikmati penampilan-penampilan budaya dari setiap delegasi dalam dan luar negeri. Malam itu terasa sangat indah dan berkesan, semua yang dipersembahkan sungguh merupakan sebuah penampilan yang memukau. 

Keindahan budaya Indonesia seakan menyatu dengan penampilan budaya yang dipersembahkan oleh delegasi Filipina dan juga East Asia. Ada Sebuah penampilan yang membuat kami semua terdiam, berlinang air mata, hingga tidak sedikit orang yang akhirnya meneteskan air matanya karena tidak sanggup menahan haru. Dia adalah delegasi yang disebut East Asia. Disebut East Asia karena ia datang ke Indonesia dengan skenario yang berbeda dan demi keamanan kenegaraan. Teman-teman yang disebut delegasi East Asia adalah mereka yang berasal dari sebuah negara yang tidak mengakui adanya keyakinan Katolik bahkan akan melakukan tindak kekerasan apabila diketahui bahwa mereka beragama Katolik. Jadi selama di negara asalnya, mereka beribadah dengan diam-diam, dan di tempat khusus yang tidak diketahui oleh pemerintahannya. Mereka menampilkan sebuah lagu yang bermakna tentang kerinduan akan kebebasan beribadah.

 Lagu yang dinyanyikan dalam bahasa mandarin, dan dengan melodi yang sungguh menyentuh membuat kami tak bisa menahan air mata, meskipun kami tidak tahu pasti arti keseluruhannya, tetapi yang pasti kami sangat bisa merasakan ketulusan dari lagu yang dipersembahkan tersebut. Sebuah pengalaman iman yang kembali saya rasakan. Ucapan syukur yang tidak habis-habisnya saya ucapkan karena selama ini saya masih diberi kemudahan dalam beribadah. Sungguh Tuhan hadir saat itu mengingatkan kami semua untuk selalu bersyukur dengan apa yang kami miliki saat ini. Bangga sekali rasanya bisa bertemu dengan teman-teman dari delegasi East Asia tersebut.

Setelah seluruh rangkaian acara malam budaya selesai, kami pun langsung menuju Stasiun Gambir untuk melakukan perjalanan menuju Yogyakarta. Hari Rabu 2 Agustus tepat pukul 1 dini hari kami pun bergerak menuju kota Jogja dengan Kereta Luar Biasa, disebut Kereta Luar biasa karena 1 kereta secara khusus disewa oleh peserta AYD dan berjalan pada jam yang tidak biasanya :D.


DAYS in AYD's VENUE

BERSAMBUNG..........