Cinta (Baru) Teman (Lama)

30 April 2013 20:49:10 Dibaca :

Ku tutup telpon setelah mengucapkan salam. Aku beralasan mengantuk karena sekarang sudah jam tidurku, jam 22.00. Padahal andai kau tahu alasan yang sebenarnya, kau mungkin akan tertawa. Ya, kan ku beritahu di sini, aku menutup telpon lebih awal sebab aku tak kuat menahan jantungku yang semakin berdetak kencang, aku takut semakin lama berbicara denganmu, lama-kelamaan jantungku loncat keluar. Lucu memang,api itu benar-benar aku rasakan. Entah mengapa? Padahal kita tak ada ikatan apapun, dulu dan sekarang. Rasa kita pun ku pikir masih sama seperti dulu, rasa pertemanan, tidak lebih. Meski aku tahu dirimu itu lelaki romantis, tapi sedikitpun hatiku tak pernah bergetar saat dekat denganmu, dan menjadikanmu salah satu lelaki idaman hati dan incaran kekasih saat SMA. Tapi, akhir-akhir ini, sejak aku menelponmu bebarapa hari yang lalu untuk menayakan seseuatu, setelah sekian lama kita tak berkomunikasi bahkan sudah bertahun-tahun tak bertemu semenjak perpisahan di waktu SMA, aku merasa aneh denganmu. Oh, salah bukan denganmu tetapi dengan diriku sendiri. Aku beralasan ingin tidur tapi nyatanya dua jam setelah aku tutup telponmu, mataku masih terus terbelalak menatap layar handphoneku, berharap kau menelpon kembali. Tapi, ah..aku tak mau membebani lagi jantungku. Ku paksa pejamkan mataku. Tiduuur. Esok hari... Di sela waktu makan siangku, ku utak-atik handphoneku. Ya, andai ada yang bertanya padaku, "Benda apa yang tak ingin ku lepaskan saat ini?"aku akan menjawab" handphoneku", sebab dengan handphone ini menjadi penghubung antara akau dan kamu. Lebai. Aku mengutak-atik handphone ku, melihat panggilan tak terjawab, membaca pesan masuk, membaca status di akun FB dan ternyata tak satupun namamu tercantum di situ. Aku kecewa. Hah kecewa? atas dasar apa? Aku benar-benar benci rasa ini? rasa yang seakan penuh harap padamu, hanya padamu. Aku mulai uring-uringan. Ingin menelpon tapi malu dan takut. Akupun tak punya alasan yang tepat untuk menelponmu lagi. Tanya kabar? Garing. Sudah makan? heh? memangnya saya mau nyuapin kamu. Atau menanyakan sesuatu? tapi apa?. Buntu. Tiba-tiba terlitas di ingatanku tentang mimpiku semalam. Ahaa..aku memimpikanmu. Yes, itu bisa menjadi alasan. Segera ku pencet tombol handphoneku, "Assalamualaikum" Ucapku saat kau mengangkat telpon dan kaupun mengucapkan yang sama. "Waalaiukumsalam" Ucapku lagi membalas ucapanmu, begitupun denganmu, kau ucapkan bersamaan denganku. Kitapun tertawa. "Ada apa Bu?" tanyamu dengan lembut. kau senang sekali memenggilku "Ibu", Ibu untuk anak-anakmu kelak. #Ngarep. "Ngg..nggg.Ngak ada apa-apa, hanya..semalam tadi aku mimpikan kamu?" Haloooo..penting gak sich? trus untuk apa kamu harus tahu? "Oh, ya? tentang apa? baik-baik aja 'kan mimpinya?" kau trdengar antusias "Iya, baik-baik saja" Aku tak kalah antusiasnya "Trus tentang apa?" Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak mau kau tertawa jika ku katakan kau datang dalam mimpiku lalu mengajakku jalan dan kita berboncengan kemudian ku peluk dirimu dari belakang dan kaupun genggam tanganku dengan lembut. "Oh, itu. Mimpi jalan-jalan. Mungkin karena terlalu terobsesi liburan kesana makanya terbawa mimpi" Ya, aku begitu ingin liburan ke sana, tempatmu melanjutkan pendidikan, Bandung. Dulu aku ingin melihat kota itu, tapi sekarang aku lebih ingin melihat dirimu. Di manapun. "Ya, udah. tidak perlu kesini, nanti kau aja yang ke sana, Insya ALLAH minggu depan. Aku ajak jalan-jalan dech" Hah? minggu depan? Oh my god. Cermin..mana cermin. Cantikkah diriku. #Ngek. 1 minggu kemudian... "Bener nich udah gak ada mata kulaih lagi?" tanyamu saat menjemput diriku di kampus. "Iya bener, dosennya tadi pulang, lagi mencret katanya" Kau tertawa mendengar alasan bodohku. Aku kaku setengah mati. "Jadi, mau jalan kemana?" Kau memandangku, tatapan matamu itu buatku lemas seketika. Aku ingin sekali berteriak dan menyuruhmu bersikap biasa saja, jantungku sudah mau loncat, tapi aku sadar sikapmu itu sudah sangat biasa, makanya aku diam saja menerima nasib. "Terserah" Kataku pasrah saking kakunya. Aku yakin, sekarang aku menjadi wanita paling kaku. "Makan?" "Boleh" "Makan apa? "Terserah" "kamu sakit?" "heh?" "kamu sakit?" "tidak" "Kamu aneh" "Hah?" Oh my god, akhirnya kau sadari keanehan diriku. Aku semakin kaku. "Kamu kok beda, kayak bukan Sari yang ku kenal. Sari yang cerewet, bawel, meeledak-ledak, heboh, lucu. sekarang jadi pendiam dan pemalu, setahuku kalau kau berubah diam berarti kamu lagi sakit" "Tahu darimana? sejak kapan?" "Dari dulu" Geer...geer...geer. Aku yakin wajahku pastti memerah seperti di tumpahi bloss on Milda,sahabatku yang punya perlengkapan mak-up yang lengkap. Aku tidak tahu harus bilang apa. "Makan di sini saja ya?" Aku mengangguk. Kamu memarkir mobilmu, kita masuk di sebuah kafe, kita jalan berdua tapi tidak bergandengan seperti pasangan lainnya. #Elus dada. Kamu memesan makanan akupun mengikuti pesananamu karena sebenarnya aku sama sekali tidak kelaparan meski sedari pagi aku tak menyantap sesuap pun nasi. Cinta mengenyangkan, kadang-kadang. "Eh, jerawat jatuh cinta tuch" Katamu dengan tatapan mengarah kedaguku. Aduuuhh..kenapa tidak aku plester saja tadi jerawat ini. Jerawat jatuh cintaku padamu. "Ah, bukan" "Trus jerawat apa? Oh, iya saya ingat, waktu SMA 'kan kamu suka ramal-ramalan jerawat, dan kata kamu jerawat yang di dagu itu tandanya ada yang suka diam-diam. benar 'kan?" Hah, kamu masih ingat ramal-ramalan itu? "Salah" Kataku  meyakinkan padahal memang itu jawaban ramalan konyolku dulu. Tapi, menurutku sekarang kamu salah, sebab bukan seseorang yang suka diam-diam padaku, tapi aku yang suka diam-diam pada seseorang, dan itu kamu. "Ooo..atau ada jerawat tanda ada yang mau menyatakan cinta. benar 'kan?" Kau menggoda, aku melelah. Adduuuchhh, 2 piring nasi goreng begitu lama di sajikan. Aku sudah tak sabar melahapnya hingga habis lalu beranjak dari sini. Kabuuuur. Jantungku sudah mau loncat. "Ah, itu cuman rama-ramalan anak SMA. Katanya dulu tidak percaya." "Dulu memang tidak, sekarang iya" "Memangnya kenapa bisa percaya?" "Karena saya yakin, ada seseorang yang mau menyatakan cinta sama kamu?" "Oh, sekarang sudah jadi tukang ramal?" "Iya" jawabmu singkat dengan tatapan yang sulit ku artikan. Aaarrgghhh.. menjengkelkan. "Siapa?" "Aku" "Basi" "Tidak Mbak, nasi gorengnya baru sja di goreng. tidak basi"  Pelayan datang membawa nasi goreng. Ih, merusak suasana saja. Tadi di harap gak datang-datang, giliran gak di harap malah datang dengan kata-kata sok tahu. Kacau. Perasaanku kacau, pikiranku ikut kacau. kau malah tertawa cekikikan. "Udah makan dulu, nanti di lanjutkan" Oooiii.. menyebalkannya dirimu, enteng sekali dirimu. Aku melahap nasi goreng di hadapnku itu dengan penuh emosi, satu suapan, dua suapan, dan sekilat saja piringku bersih tak tersisa sebutir pun nasi goreng dan kawan-kawannya. Ku lihat kau terbelalak kaget. Pikirmu mungkin aku kesurupan, makanya dengan segera kamu mengajakku beranjak dan pergi tinggalkan kafe itu. Di dalam perjalanan, aku diam. Bukan lagi karena kaku tapi saya sudah jadi wanita patung. Kau tiba-tiba berhenti, lalu membuka pintu mobilmu, beranjak keluar, entah kemana, dan tak berapa lama kamu kembali dengan seikat bunga mawar merah. Aku masih mematung. "Aku sayang kamu, Sari" Zxzzzxxxzrrrrrr...Aku seperti tersetrum listrik tegangan paling tinggi. Aku meoleh ke arahmu. Kau menatapku, matamu itu membuatku luluh. "Gak lagi latihan 'kan?" Kataku penuh hati-hati "Memangnya film kuch-kuch hota hai. Di terima gak?" Tatapanmu semakin tajam. Menusuk jantung hatiku. "Tapi..." "Di terima gak cantik?" Kau merayu dengan lembuuuut sekali. Aku mengangguk. Meski ceritanya berbeda dari mimpiku tapi tak membuatku kecewa karena  kenyataan ini jauh lebih indaaaaaaaaah....

Cella' Cella'

/dwiindah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis menjadi salah satu teman curhat yang terbaik karna tidak semua orang bisa dan mau mendengar segala unek-unek, cerita-cerita, pengalaman-pengalaman, ide-ide konyol dan tidak penting saya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?