PILIHAN HEADLINE

Ekskavasi Arkeologi Bertujuan Menemukan Harta Karun Ilmu

18 Maret 2017 12:35:39 Diperbarui: 18 Maret 2017 13:55:59 Dibaca : 299 Komentar : 0 Nilai : 2 Durasi Baca :
Ekskavasi Arkeologi Bertujuan Menemukan Harta Karun Ilmu
Ekskavasi di Situs Gua Harimau, Sumatera Selatan (Foto-foto: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

Kuli bangunan atau pekerja proyek memang menggali tanah. Arkeolog pun menggali tanah. Yang membedakan keduanya adalah metode yang digunakan. Kuli bangunan atau pekerja proyek ingin bekerja secepat mungkin. Sebaliknya arkeolog ingin bekerja seteliti mungkin. Karena itu pekerjaan arkeolog terbilang khas. Nama kerennya ekskavasi, berasal dari Bahasa Inggris excavation.

Arkeolog tidak sembarangan melakukan ekskavasi. Umumnya tujuan ekskavasi adalah membuktikan hipotesis sebagaimana disebut sumber-sumber sejarah. Atau bisa juga untuk menindaklanjuti survei yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalnya saja, dalam survei ditemukan keramik pada permukaan tanah. Nah, apakah benda-benda demikian atau benda-benda lain ada yang masih terpendam di dalam tanah, untuk itulah arkeolog melakukan ekskavasi.

Ilmiah

Ekskavasi dalam arkeologi dilakukan dengan prinsip ilmiah. Karena itu perlu sekali kehati-hatian dalam bekerja. Soalnya ekskavasi bersifat pengrusakan. Artinya tanah yang digali tidak bisa dikembalikan 100% seperti keadaan semula. Memang ada ilmu lain yang melakukan ekskavasi, yakni geologi. Namun geologi mencari benda-benda nonbudaya, sementara arkeologi mencari benda-benda budaya atau buatan manusia.

Masih ingat ekskavasi di Situs Gunung Padang, Cianjur, beberapa tahun lalu? Jelas itu kesalahan besar karena penanganan situs arkeologi menggunakan teknik-teknik geologi, alat berat, dan tentara dengan sepatu lars.  Lagi pula tujuan ekskavasi Gunung Padang untuk mencari harta karun emas yang katanya masih tertimbun di dalam tanah.

Ketika memulai ekskavasi, langkah yang pertama kali dilakukan arkeolog adalah membuat kotak galian, umumnya berukuran 2 meter x 2 meter. Pembuatan kotak galian menggunakan kompas—bahkan pada masa kini GPS—untuk mengetahui arah atau koordinat keletakan. Memang arkeolog menggunakan pacul atau cangkul. Namun untuk selanjutnya sering kali menggunakan petel (cangkul kecil) dan cetok (sendok semen yang berujung runcing).

Jika sudah ada tanda-tanda benda temuan, arkeolog menggunakan tusuk gigi, kuas, atau sikat. Setelah benda temuan tampak, arkeolog melakukan pemotretan lengkap dengan nama situs, nama kotak galian, tanggal, skala, dan arah. Inilah pentingnya dokumentasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya atau untuk analisis benda temuan.

Ekskavasi Candi Simangambat, Sumatera Utara
Ekskavasi Candi Simangambat, Sumatera Utara

Biasanya analisis dilakukan di kantor. Bisa juga di lapangan. Apalagi sekarang sudah ada alat-alat canggih. Jadi sangat membantu pembukaan kotak galian selanjutnya.

Tentu saja setelah itu dilakukan publikasi, baik yang bersifat ilmiah maupun populer. Masyarakat memang berhak mengetahui pekerjaan yang dilakukan para arkeolog. Benda-bendanya sendiri kemudian dipamerkan, untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Jika berukuran kecil, hasil ekskavasi disimpan di dalam museum. Sebaliknya kalau besar, macam candi, dibiarkan di tempat aslinya. Bisa saja dalam bentuk taman purbakala.

Masyarakat

Uniknya, sepanjang penelitian arkeologi di Indonesia, arkeolog jarang sekali  menemukan benda kuno berdasarkan hipotesis ilmiah. Umumnya berdasarkan informasi dari masyarakat penggarap tanah. Candi Sambisari umpamanya. Suatu ketika seorang petani menggali tanah perkebunannya. Tiba-tiba paculnya terantuk batu berukir kuno.  Setelah dilakukan ekskavasi, maka tersembullah Candi Sambisari. Rupanya candi itu tertutup debu gunung berapi beberapa meter dari permukaan tanah sekarang.

Penemuan sejumlah perhiasan emas di Klaten, juga atas jasa masyarakat awam penggarap tanah. Penemuan secara tidak disengaja memang menuai hasil lebih gemilang daripada ekskavasi oleh arkeolog. Sampai kini sudah banyak penggarap tanah yang diberikan ganjaran berupa uang tunai oleh pemerintah karena jasanya itu.

Analisis temuan-temuan arkeologi
Analisis temuan-temuan arkeologi

Penemuan benda arkeologi memang harus dilaporkan karena benda-benda di dalam tanah dilindungi oleh undang-undang. Masyarakat pun dilarang melakukan ekskavasi. Hanya instansi yang berwenang dan ahli yang berkompeten boleh melakukan ekskavasi. Masyarakat yang melakukan ekskavasi akan dikenakan sanksi hukum karena merupakan kegiatan ilegal.

Ekskavasi tidak hanya dilakukan di daratan. Dalam perairan juga ada ekskavasi. Terutama setelah subdisiplin Arkeologi Bawah Air berkembang. Tentu saja ekskavasi di dalam air jauh lebih rumit karena memerlukan peralatan modern dan tenaga yang terlatih baik.

Meskipun hingga kini banyak temuan arkeologi dalam kondisi tidak utuh, namun arkeolog tetap bekerja menggali ilmu. Di mata arkeolog, benda pecahan pun merupakan data berharga. Apalagi kalau bisa diketahui tarikhnya karena bisa untuk memberi tarikh kepada benda-benda lain. Yang dilihat oleh arkeolog pun adalah konteks atau hubungan dengan temuan-temuan lain. Jelas jauh berbeda dengan minat para kolektor, yang hanya memperhatikan benda-benda bagus atau utuhan.

Demikian cerita singkat tentang ekskavasi arkeologi. Jadi, ekskavasi bukan bertujuan menemukan harta karun emas, melainkan harta karun ilmu. Harta karun inilah yang bisa dipakai sebagai cermin generasi masa kini tentang kearifan nenek moyang, canggihnya teknologi nenek moyang, dan masih banyak lagi. Masa lalu memang cermin untuk masa kini demi masa depan.***

Djulianto Susantio

/djuliantosusantio

TERVERIFIKASI

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana