Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe dosen

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan highlight

B29, Primadona Baru di TN. Bromo Tengger Semeru

30 Oktober 2014   17:25 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:09 2402 5 10
B29, Primadona Baru di TN. Bromo Tengger Semeru
14146382491791423076

[caption id="attachment_370504" align="alignnone" width="640" caption="Pemandangan dari B29. Dari sini bisa melihat gunung Batok dan Bromo yang mengepulkan asapnya.(dok.pri)."][/caption]

Subur Budaya masih saja berdebat dengan rekan-rekannya sesama utang ojek. Mereka tetap kekeh dengan argumennya masing-masing soal penamaan B-29. Memang tidak ada habisnya mereka berdebat, namun dari cerita mereka saya bisa mendapatkan beberapa informasi mengenai istana di atas awan di kabupaten Lumajang Jawa timur. Nama yang unik karena hanya sebuah huruf konsonan dan 2 angka. kini B29 menjadi tujuan para pelancong dari seluruh penjuru Jawa Timur, setelah namanya terangkat pada awal 2014.

B29 adalah sebuah lokasi di igir-igir kaldera yang mengelilingi Gunung Bromo. Lokasi terletak di Desa Argosari, Kecamatan Sendur, Kab. Lumajang-Jawa Timur yang kini menjadi primadona wisata alam kabuten tersebut. B29 kini semakin melambung namanya dan sebentar lagi mungkin akan setara dengan Penanjakan Bromo di Probolinggo. Dari tempat ini lansekapnya begitu sempurna untuk menyapu pemadangan ke semua penjuru mata angin. Di Sisi barat daya nampak puncak semeru begitu jelas dengan kepulan solfatara, begitu juga di sebelah barat laut ada gunung arjuna Welirang dan di sisi timur gunung Argopuro.

[caption id="attachment_370505" align="alignnone" width="640" caption="Bagian dalam Sanggar Purwa Wisasa yang digunakan umat Hindu untuk beribadah. Di dalam bangunan tersebut terdapat patung yang disuscikan, sehingga tidak sembarang orang bisa melihat (dok.pri)."]

14146383482010553888
14146383482010553888
[/caption]

Kami berangkat dari Desa Argosari 2.000 mdpl yang bisa ditempuh sekitar 1,5-2 jam dari Lumajang dengan lewat pasar Senduro. dari Desa terakhir ini kami melangkat terlebih dahulu di sebuah bukit di sebelah barat. Jalanan berbabtu yang sudah di susun membantu kami melewati lereng yang cukup curam yang digunakan sebagai lahan pertanian. Tujuan kami adalah sebuah tempat yang disakralkan oleh penduduk setempat terlebih adalah umat Hindu.

Sepasang gupala dengan sebuah gada di tangan menghadang kedatangan kami. Di sisi kanan kiri nampak patung dewa Shiwa dan Indra. Di ketinggian 2400mdpl terdapat sebuah tempat peribadatan umat Hindu yang di beri nama Sanggar Giri Wisesa. Tempat ini biasanya dipakai untuk upacara unan-unan yang dilaksanakan 5 tahun sekali oleh umat hindu. Tempat ini mulai dibangun awal tahun 2.000an kata pak Edi yang menemani perjalanan kami dan kini masih dalam tahan renovasi. Beberapa karyawan nampak sedang membangun dinding pagar dengan berbagai hiasan ornamen.

Dalam obrolan dengan para pekerja, rekan kami sempat menyeletuk "tempat ini sangat tenang, damai dan rukun, saya kira ormas-ormas yang yang biasa bertikai harus belajar di sini". Di Argosari yang mayoritas beragama Hindu tidak ada masalah manakala ada sebuah Masjid berdiri di sekitarnya, malah masjid tersebut dinobatkan yang tertinggi di Indonesia karena berada di ketinggian hampir 2500mdpl. kaum mayoritas dan minoritas hidup berdampingan dan nyaris tidak pernah ada gesekan. Saya benar-benar larut dalam keharmonisan ditengah keberagaman ini.

[caption id="attachment_370506" align="alignnone" width="640" caption="Menuju B29 saya harus menumpang ojek dengan jalan yang cukup mengerikan. Nampak debu yang tebal manakala ada sepeda motor yang melintas (dok.pri)."]
14146384741124710014
14146384741124710014
[/caption]

Tak lama kami harus kembali untuk persiapan menuju B29. Tidak ada angkutan menuju puncak dari igir-igir kaldera, kecuali ojek atau berjalan kaki. Barang bawaan kami yang cukup banyak, sehingga kami memutuskan untuk naik ojek. Bukan ojek sembarangan yang kami naiki, tetapi lebih mengerikan dari rally paris dakar. Lewat jalan yang hanya bisa di lewati motor, saat sisi kanan adalah pematang jalan maka sisi kiri adalah jurang, begitupula sebaliknya. Jangan berharap mendapat jalan yang mulus, sebab aspal hanya sekitar 1Km saja, sedangkan yang 3-4km adalah jalan dari tanah dengan debut sebetal mata kaki.

Saat ada yang berpapasan atau menyalip, bersiap-siap untuk mandi debu. Mata yang pedih dan nafas yang sesak benar-benar siksaan selama hampir 40menit perjalanan. Pemandangan yang kami lalui benar-benar indah karena kami mendaki bukit setinggi 600m. Awan nampak berarak dibawah kaki kami saat mata ini melepas pandangan jauh di bawah. Lereng-lereng curam menjadi momok yang mengerikan, namun petani nampak tenang-tenang saja saat kaki mereka berpijak pada bidang miring tersebut. Ojek yang saya naiki terus saja meraung-raung dan beberapa kali harus berhenti karena mesin mati.

Subur Budaya nama tukang ojek yang saya tumpang terus saja mengingatkan saya agar berpegangan yang erat karena kawatir saya terlempar. Di jalan yang mengerikan ini sempat-sempatnya dia bercanda "mas motor ini remnya ada 5, jadi tenang saja, rem yang pertama rem belakang, rem yang kedua rem depan, rem yang ke tiga di kaki, rem yang ke empat di pematang dan rem yang ke lima siap-siap loncat". Sontak pundaknya saya pukul pelan, karena bukannya membuat saya tenang tetapi panik.

[caption id="attachment_370507" align="alignnone" width="640" caption="Jalan menanjak menjelang puncak B29. "]
14146386371405327020
14146386371405327020
[/caption]

Akhirnya sampai juga di puncak B29, dan disana beberapa pelancong sudah mendirikan tenda di tempat yang strategis. Kami yang datang agak sore nyaris tidak mendapat tempat, kecuali di semak-semak yang tempatnya kurang rata. Inilah antusias para petualang untuk menjajal B29 ditandai dengan ramainya tempat ini dengan tenda-tenda dome warna-warni yang memenuhi bibir jurang. Segera kami mendirikan 3 buah tenda dome dengan formasi melingkar dan saling berhadapan agar memudahkan kami dalam mengakses keperluarn tim.

[caption id="attachment_370509" align="alignnone" width="640" caption="Bromo menjelang senja (dok.pri)."]
1414638771778014168
1414638771778014168
[/caption]

Tak berapa lama hawa dingin sudah menyelimuti badan dan langit sisi timur mulai gelap dan sisi barat agak temaram. Sunset senja ini tidak ingin kami lewatkan. Kami masing-masing berdiri di tepi jurang Bromo untuk menyaksikan detik-detik perjalanan sang surya ke peraduannya. Cahaya kuning kemerahan menghiasi langit barat yang merona dengan semburat beragam warna. Siapa yang tidak terpesona dengan pemadangan senjat di bawah langit B29.

[caption id="attachment_370510" align="alignnone" width="640" caption="Siluet gunung semeru di sisi barat laut B29 (dok.pri)."]
14146388041566971912
14146388041566971912
[/caption]

Atraksi senja ini ditutup oleh siluet gunung Semeru 3676mdpl yang dengan kepulan asapnya yang membumbung tinggi. Malam pun tiba, maka secangkir kopi panas dan lemon tea panas menjadi menu pembuka santap malam ini. Mie goreng dan korned sapi baru berani kami makan di sini, sebab dibawah sana kami harus berpikir ulang untuk menikmati daging binatang yang disucikan ini. Sebelum hawa dingin ini menyiksa, kami segera masuk dalam tenda kami masing-masing walau ada yang masih setia menjaga perapian untuk menghangatkan badan. Kantung tidur dan hangatnya tenda menjadi hotel kami yang yang nyaman saat di puncak B29.

Selepas dini hari alarm dari ponsel berbunyi nyaring ditengah-tengah suara dengkuran dari tenda sebelah. Saatnya mengeluarkan kamera, penyangga kaki tiga dan pengendali jarak jauh. Hari yang masih gelap dan suhu yang sedang dipuncak dingin akan mencoba peruntungan untuk mencari gambar B29 di kala malam. Bintang-bintang dilangit terlihat dengan jelasnya, karena langit begitu cerah. Di sisi utara nampak pemandangan lampu-lampu dari penanjakan yang merupakan akses menuju gunung Bromo.

[caption id="attachment_370511" align="alignnone" width="640" caption="Suasana malam di B29. Tenda para pendaki tepat dibawah cahay bintang dan di bawah sana nampak lampu-lampu dari Penanjakan, sedang cahaya lampu terlihat di atas adalah B30 (dok.pri)."]
14146388811498004917
14146388811498004917
[/caption]

Tenda dome nampak warna-warni karena pendaran dari lampu pendaki memenuhi B29 ditengah gelapnya malam. Sisa-sisa api unggun nampak masih menjilat-jilatkan lidah apinya saat tertepa angin. Di langit beberapakali terlihat bintang jatuh dengan goresan cahaya memanjang di angkasa. Malam yang indah untuk menikmati pesona langit dari B29. Tidak terasa saya sudah terlalu lama di luar sehingga badan berasa menggigil dan saatnya kembali dalam tenda sambil menikmati hadirnya sang surya.

Kembali pukul 05.00 alarm berbunyi lebih nyaring dari suara dengkuran di tenda sebelah. Di timur mentari memberi pertanda jika sebentar lagi akan naik dari kaki langit. Semburat cahaya kuning keemasan terlihat dan disekitarnya nampak merah merona. Jajaran bukit dan gunung masih nampak berselimutkan halimun yang tipis di sela-selanya. Para petualang sudah berhamburan keluar tenda dan tidak ingin melewatkan momen-momen yang paling berharga ini. Ratusan pasang mata menjadi saksi B29 memiliki pesona yang luar biasa. Manakala petang bisa meliha matahari tenggelam, makakala fajar bisa melihat keluarnya sang surya.

[caption id="attachment_370512" align="alignnone" width="640" caption="Pagipun tiba saatnya menyambut sang surya dari puncak B29 (dok.pri)."]
1414639005373152486
1414639005373152486
[/caption]

Pagi ini kami memang orang yang beruntung karena mendapat atraksi alam yang benar-bena sempurna. Sambil menikmati langit timur yang indah, kembali secangkir kopi dan teh yang masih mengepulkan asap menjadi menu istimewa bagi kami. Mata kami berninar manakala cahaya hangat itu menyelimuti seantero kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Nampak gunung Bromo dan lautan pasir dengan jajaran kendaraan yang melintasinya. Semeru masih terlihat dengan gagahnya berdiri dan menjadi yang tertinggi di tanah Jawa.

Kembali Subur Budaya dan rekan-rekan ojek datang menghampiri kami untuk membawa kami turu kembali. Obrolan kami berlanjut berkaitan dengan penamaan tempat ini dengan B29. Lantas Subur  bercerita dengan bahasa Indonesia bercampur dengan Jawa dengan aksen jawa timuran. Saya paham betul dengan apa yang dia katakan sehingga saya mempersilahkan dia untuk terus bercerita.

"Jaman penjajahan Belanda, seluruh tempat ini digunakan sebagai lahan pertanian. Orang belanda memanfaatkan lahan ini sebagai kebun ketumbar, (sambil melihat tangan subur yang menunjuk lereng di sisi timur). Akhirnya tanah ini bisa di rebut kembali dan menjadi tanah penduduk setempat. Di tempat ini, (telunjuk tangan subur menunjuk kakinya berdiri), adalah B29. B29 artinya blok 29, yakni tanah persil dari bawah hingga puncak sini. Penduduk setempat menamai puncak ini dengan puncak sanga likur (29 dalam bahasa jawa)".

[caption id="attachment_370513" align="alignnone" width="640" caption="Gunung Batok dan Bromo terlihat dari B29 saat pagi hari (dok.pri)."]
1414639135431216779
1414639135431216779
[/caption]

Namun beberapa orang mengatakan B29 dengan akronim Bukit 29, dan angka 29 di asumsikan dengan 2900mdpl, padahal GPS saya menunjukan ketinggian 2600mdpl. Tetapi dibalik sejarah nama B29, kini tempat tersebut sudah menjadi primadona para pelancong untuk menyambangi tempat ini. Mata saya bertanya melihat bukit di sisi utara dan Subur mengatakan "itu B30 mas" dan sayapun enggan bertanya kembali karena dia bersiap membawa saya turun dengan ojek ekstrim 5 remnya.