Sehari Sebelum Pernikahanku...

19 April 2013 07:23:58 Dibaca :
Sehari Sebelum Pernikahanku...
-

Entah ini bisa aku sebut hari bahagia atau tidak. Pasalnya, besok aku akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang telah menjadi kekasihku sejak dua tahun lalu. Dia adalah teman sekantorku, namanya Ryan. Aku percaya dia adalah lelaki yang baik hati dan sangat mencintai aku, dia juga selalu ada waktu untuk aku di saat aku membutuhkannya. Dan mungkin karena itulah aku menerimanya menjadi kekasihku. Lagi pula saat itu aku sedang mengalami sakit hati karena lelaki yang sangat aku cintai memutuskan untuk meninggalkannku demi wanita lain. Tapi cinta itu sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam hatiku walau ku tahu dia tak mungkin kembali lagi.

Jadi boleh di kata, aku menerima Ryan bukan karena cinta, tapi mungkin karena aku menganggap itu sebagai kenyataan yang harus ku jalani. Dan pikirku seiring jalannya waktu aku akan bisa mencintai Ryan dan bisa melupakan orang yang telah meninggalkanku.

Tapi hari ini aku telah menemukan jawaban atas apa yang aku pikirkan dulu, satu hari menjelang pernikahannku besok. Hati ini semakin tak bisa melupakannya dan tak sedikipun cinta ini mampu mengalir untuk Ryan, seakan ada penyesalan yang amat mendalam ketika aku memutuskan untuk menikah besok dengan Ryan.

Aku tatap wajah Ryan dalam foto yang terpajang di dinding kamarku, wajah yang begitu baik yang tak seharusnya aku lukai walau ku sudah mencoba dan berusaha untuk mencintainya, namun hati ini tetap saja mencintai lelaki yang telah meninggalkanku. Entah mengapa di hari menjelang pernikahanku dengan Ryan aku jutru merindukannya, aku ingin bertemu dengannya bukan dengan calon suamiku sendiri. Aku ingin memeluk Dika erat biar aku merasa damai, tentram dan sejuk seperti waktu dulu ketika aku masih bersamanya. Dan aku masih ingat betul saat Dika membangunkan aku dengan caranya yang sampai sekarang terangkum jelas dalam pikiranku. Setiap aku teringat hal itu seakan semuanya baru kemarin terjadi. Saat itu aku sednag tertidur di sofa ruang tamu, entah ia sudah lama datang atau belum, yang jelas ketika aku tertidur tiba-tiba ada sesuatu yang hangat terasa di bibirku hingga aku terbangun dan yang kulihat pertama adalah senyum di wajahnya dan kata “bangun sayang” terucap dari bibirnya. Walau bukan pertama kali ia menicum bibirku, tapi itu sangat membekas sampai sekarang.

Dan mataku mulai terpejam bila teringat kembali hal itu, pikiranku juga mulai melayang jauh menuju ke hari itu. Semua masih terlihat jelas dalam benakku, jelas sekali sampai aku tersentak tersadar oleh suara ketukan pintu kamarku dan suara ibuku memanggil-manggil. “iya bu bentar” bergegas ku hapus air mata yang tanpa sadar telah mengalir ke pipiku. Setelah benar-benar kering, ku buka pintu. Aku menurut saja untuk keluar menemui beberapa tamu yang telah datang setelah ibu menyuruhku.

Tiba juga di hari pernikahanku, ku lihat banyak tamu undangan yang telah hadir dan entah kenapa lagi mataku terus berusaha mencari sosok seorang lelaki yang masih tersimpan di hatiku. Aku mulai tak memperdulikan tamu-tamu yang berlalu lalang menyalamiku memberi selamat, aku hanya tersenyum terpaksa kepada mereka. Aku juga sadar kalau suamiku sedari tadi telah memperhatikanku yang seperti ini dan aku terus berbohong dengan mengatakan “tidak apa-apa kok”. Padahal dalam hatiku aku terus berharap bisa melihat Dika. Ternyata harapan itu tiba, tapi bukan bahagia yang aku dapat karena bisa melihat ia datang di hari pernikahanku, melainkan sebuah hantaman hebat, ia datang dengan wanita yang membuat Dika meninggalkanku dua tahun lalu. Aku terasa lemas, semua tubuhku seakan tak ada daya lagi berdiri disini walau seharusnya aku bahagia karena telah menyandang status sebagai istri. Tapi hati ini tetap berkata lain, meski mungkin aku adalah tulang rusuk dari suamiku sekarang dan mungkin selamanya, tapi cinta ini tetap berasal dari tulang rusuk cinta Dika dan aku terlanjur mencintainya. "maafkan aku swamiku" aku pun menggenggam tangannya.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?