Saya Memilih Tidak Membacanya Lagi

05 Mei 2012 20:20:56 Dibaca :

Beberapa hari belakangan ini, saya membaca artikel-artikel yang 'bergesekan' antara satu dengan yang lain, menyangkut pribadi per pribadi, yang saya sendiri belum mengenalnya lebih jauh.

Hanya saja, mengikuti tulisan-tulisan tersebut, menjadikan saya terseret oleh arus perasaan yang bisa jadi karena saya tak tahu menahu permasalahan awalnya. Saya jadi berpikir, bahwa rugi amat saya melibatkan hati untuk permasalahan yang tidak saya pahami. Akhirnya saya mengambil sikap mengamati saja. Menahan diri untuk tidak ikut campur dan memihak antara satu dengan yang lain.

Namun, naluri saya sebagai ibu, kadang lebih dominan. Ibarat melihat anak-anak yang berantem, maka akan keluar kata-kata pelurusan yang bisa saya lakukan. Saya pun akhirnya meninggalkan komentar di masalah yang bagi saya sudah keluar dari konsep 'benar'.

Rupanya, ini menjadi bumerang bagi saya, karena ternyata langkah ini telah mampu membuat hati saya bergeser. Apa sebab? Karena ternyata di sana saya melihat, bahwa penulis dengan seenak hatinya menghapus komentar-komentar yang tidak disukainya. Meski itu bukan komentar saya, tapi tetap saja itu membuat saya tidak nyaman.

Hmmm, ...

Kalau saya melihat perbuatan itu sebagai tindakan yang kurang tepat, bisa jadi karena saya sok bijak. Maklum, sudah tua. Penginnya mengukur segala sesuatu dari kelapangan hati. Padahal, tidak semua orang bisa berlapang dada terhadap segala ketidaksukaan.

Padahal, jujur saja, saya juga ternyata tidak bisa berlapang dada. Setidaknya hingga saat ini. Ketika ada tulisan orang yang suka menghapus komentar orang-orang yang tidak disukainya itu melintas, (meskipun itu haknya) kok saya tidak tertarik lagi membacanya, ya?

Ah, ternyata saya juga masih picik dalam bersikap.

:)

Bunda Hanna

/bunda-hanna

TERVERIFIKASI (HIJAU)

seorang ibu rumah tangga
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?