Guru

Berfikiran Positif, Inovasi dan Kreatif

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Potret Nilai-nilai Ajaran Islam Buya Hamka

18 Maret 2017   20:07 Diperbarui: 18 Maret 2017   20:21 154 4 1

Resensi BukuAyah …Kisah Buya Hamka

Seorang mu’min yang kuat lebih baik dari pada seorang mu’min yang lemah (al-Mu’minul qawiyu khairun minal mu’mini dha’ifi) demikianlah salah satu prinsip ajaran Islam. Kata al-Qawiyu (kuat) dapat dimaknai dengan kekuatan fisik, keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan dapat dimaknai dengan seorang mu’min yang berkualitas.  

Buku “Ayah…Kisah Buya Hamka” yang merupakan karya salah seorang dari putra Buya Hamka, yang menggambarkan bahwa Buya Hamka adalah seorang mu’min yang kuat, kuat fisiknya yang dibuktikan dengan, beliau mampu mengalahkan penjahat yang menodongnya dengan pisau dalam waktu yang sangat singkat karena memang beliau adalah seorang pesilat yang tangguh. Kuat atau teguh mempertahankan prinsip yang dibuktikan dengan saat beliau menjabat ketua MUI pusat yang mengeluarkan fatwa bertentangan dengan keinginan pemerintah, yaitu fatwa tentang haramnya seorang muslim merayakan natal bersama. Pemerintah saat itu memintanya untuk membatalkan fatwa tersebut, tetapi beliau memilih memundurkan diri dari ketua MUI demi mempertahankan prinsip dan aqidah yang diyakininya. Beliau seorang mu’min yang berkualitas, meskipun tidak ada jenjang pendidikan yang beliau tamatkan, orang tua cerai pada saat-saat yang mestinya memperoleh perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya, tetapi mampu menghasilkan karya-karya besar dari berbagai disiplin keilmuan yang hingga saat ini banyak yang mengaguminya dan memperoleh tiga gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Prof. Moestopo Beragama dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Prestasi tersebut tentunya tidak instan diperolehnya, melalui perjuangan menahan rasa, saat orang lain meremehkannya, wajah rupawan mendadak terserang cacar dan orang tua cerai, namun cobaan yang begitu berat, bagi Buya Hamka menjadi inspirasi hingga beliau semakin giat belajar, terus menerus membaca dan memperbaiki diri. Itulah yang menjadikan beliau hingga menjadi seorang mu’min yang kuat (al-Qawiyu).

Kedalaman keilmuannya (al-tafaquh fi al-din) menjadikannya pribadi yang berakhlak mulia, baik pada Sang Khalik maupun pada sesama makhluk. Pada Sang Khalik, beliau tidak pernah lupa, selalu berzikir dengan menyebut nama-Nya “Allah, Allah, Allah”, membaca al-Qur’an hingga khatam lima sampai enam kali dalam sebulan. Pada sesama makhluk, dapat dibuktikan dengan kasih sayangnya pada seekor kucing kecil yang ditolongnya, meberinya makanan berupa susu dan merawatnya bahkan mengobatinya saat terluka. Dengan jin yang mengganggu keluarganya beliau berdamai. Dengan sesama manusia nampak jelas keluhuran budi beliau dibuktikan dengan mudahnya beliau memaafkan orang-orang yang menyakitinya.

Melalui kedalaman keilmuannya dan kemuliaan akhlaknya menjadikannya seorang sufi yang dicintai oleh Sang Khalik Allah swt. hingga selalu dekat dengan Tuhannya dalam keadaan apapun. Tuhannyapun selalu menolong hamba-hambanya yang dicintai-Nya. Berbagai musibah yang dihadapinya, beliau nampak tetap tenang  sambil menyebut “Allah, Allah, Allah...”dan diluar dari nalar sehat manusia, beliau dan yang bersamanya saat terhadang musibah diselamatkan oleh Tuhannya.

Buku tersebut sangat penting untuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat menginspirasi, bagi seorang pelajar atau pemuda, seorang ayah, pemimpin atau politisi, cendekiawan dan seorang ulama semuanya ada pada diri Buya Hamka sebagaimana digambarkan dalam buku tersebut. Dan disajiakan dengn bahasa lugas, jelas dan mudah dipahami.

Diresensi oleh Buhari Muslim, Guru Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar


  • Judul Buku: Ayah …Kisah Buya Hamka
  • Penulis: Irfan Hamka
  • Penerbit: Republika
  • Cetakan: XII, September 2016
  • ISBN: 978-602-8997-71-3
  • Tebal Buku: XXVIII + 323 Halaman