HIGHLIGHT

Diorama Kota di Pagi Hari

29 Maret 2013 09:27:08 Dibaca :

barangkali surga hanya hadir di pagi hari pengamen kecil itu mengipas-ipas lembaran limapuluhan ribu sebelum akhirnya masuk warung kucing memesan nasi dan segelas air teh Tuhan, tentu tak memanjakan pagi, hingga orang-orang mengiranya hedonisme hanya berumur sesaat sebelum matahari mengangkang congkak di tengah senter langit sejatinya Tuhan menggiring kaki dan tangan menjemput seutas tali, alat tangkap, keranjang atau sekop untuk membawa sebongkah rizki-rizki itu, agar dipinggirkan dari keramaian jalan, lalu dirayakan bersama, mirip pesta anggur  warga hedonis yang tinggal di istana -istana angin yang memabukkan hari ini peristiwa para pencari rumput basah berkumpul mereka tak serta merta membentangkan spanduk,mewakili warga kota yang miskin, yang tak selalu bisa makan pagi, atau para buruh yang sudah kehilangan akal logikanya, karena dikiranya demo yang mengutuk-ngutuk orang lain itu tidak butuh laporan pertanggungjawaban "Itu kolusi sama juga dengan korupsi, jika menerima uang kok tak dilaporkan jumlahnya, bukan persoalan besar kecilnya  uang, tapi cara memperlakukan kejujuran itu" pesan korlap, yang setiap pagi selalu mengganti ikat kepala yang dikenakannya kota semakin ditelan dengan tumpukan dioramanya

Budhi Wiryawan

/budhiwiryawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

mengikuti kemana darah ini mengalir....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?