Giorgio Babo Moggi
Giorgio Babo Moggi PNS

Dream is My Life's Keyword...

Selanjutnya

Tutup

Regional headline

Najwa Shihab: "Sonde Percaya Ko Beta Ada di Kupang"

13 Agustus 2017   12:44 Diperbarui: 13 Agustus 2017   19:11 4162 11 2
Najwa Shihab: "Sonde Percaya Ko Beta Ada di Kupang"
Najwa Shihab didampingi Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, memasuki aula El Tari Kupang (Foto: Tribunnews.com)

Bagi masyarakat NTT, Najwa Shibab bukan orang asing lagi. Kiprahnya di dunia televisi jadikan sosok ini populer. Terlebih lagi, posisinya sebagai host Mata Najwa di Metro TV.

Bagi masyarakat NTT, Najwa Shihab memiliki tempat tersendiri. Sosok yang dibanggakan dan dikagumi. Karena sejak beberapa tahun terakhir, sosok yang cantik dan cerdas ini selalu berpenampilan busana berbahan tenun tradisional NTT saat tampil di layar kaca memandu "Mata Najwa".

Bagi orang NTT, Najwa tidak hanya seorang host, penyuka tenun ikat NTT, tapi sekaligus duta tenun tradisional NTT. Sebuah gelar kehormatan tanpa seremonial dan kesepakatan dengan penerima anugerah. Ungkapan spontanitas yang disematkan kepadanya.

Saking seringnya berpenampilan dengan busana berbahan tenun tradisional NTT, ia pun sering dijuluki sebagai ina, oa, du'a, uge, enu dan deretan sebutan khas wanita dengan berbagai bahasa di NTT. Saking seringnya pula, ia seperti sedang bermetamorfosis menjadi wanita NTT.

Najwa Shihab diapiti unsur Muspida (Foto: Tribunnews.com)
Najwa Shihab diapiti unsur Muspida (Foto: Tribunnews.com)
Sehingga kedatangan Najwa Shihab ke NTT merupakan kerinduan masyarakat NTT. Sosok yang telah dianggap sebagai duta tenun NTT ini. Sehingga ketika ia berada di Kupang, dirinya sendiri pun antara percaya dan tidak, sebagaimana ekspresinya dalam dialek Kupang, di hadapan audiens yang memenuhi Aula Eltari guna mengikuti Talkshow "Literasi Untuk Kebhinekaan" (Jumat, 11/08/2017).

"Sonde percaya ko beta ada di Kupang. Akhirnya beta sampai di Kupang juga."

Najwa telah berencana kesekian kali untuk bertandang ke NTT, tapi kesempatan itu tidak datang juga. Kesempatan itu baru tiba, ketika ia mendapatkan kesempatan untuk ikut kegiatan literasi di Nusa Tenggara Timur alam kapasitasnya sebagai Duta Bahasa di Nusa Tenggara Timur. Selama kunjungannya di NTT, selain Kupang, Najwa dan rombongan mengunjungi Lembata (12/08/2017), kabupaten yang dikenal dengan tradisi ritual penangkapan ikan paus.

Di hadapan audiens yang memenuhi Aula Eltari, Najwa mengakui ia tampil setiap minggu dengan tenun tradisional NTT. Tenun ikat NTT merupakan koleksi pribadi yang terbanyak.

"Saya setiap minggu tampil dengan tenun ikat NTT. Koleksi pribadi memang paling banyak tenun ikat NTT. Tadi saja sudah dapat empat tenun ikat yang saya dapat," ujarnya yang disambut tawa penonton yang memadati Aula Eltari.

Suasana penyambutan Najwa Shihab di pintu Aula Eltari (Foto: Tribunnews.com)
Suasana penyambutan Najwa Shihab di pintu Aula Eltari (Foto: Tribunnews.com)
Kedatangannya untuk menggelorakan atau meminjam istilahnya, memprovokasi minat baca kepada masyarakat NTT -- terutama generasi muda. Adapun acara ini dikemas dalam bentuk Talkshow dengan tajuk Literasi untuk Kebhinekaan", yang dipandu penyair berbakat asal NTT, Bara Pattiradja.

Najwa menegakaskan urgensinya membaca. Membaca dapat mendatangkan banyak faedahnya. Membaca dapat membuat manusia jauh lebih peka dan memahami tentang keanekaragaman. Memang kenyataan, orang membaca dengan berbagai alasan. Ada yang membaca sebagai permulaan dari pengetahuan, ada pula yang membaca untuk mencari dalil-dalil kebenaran. Tak sedikit pula yang membaca sebatas memperkaya kosa kata, tapi ketika berbicara dan mengungkapkan fakta sangat berbeda.

Dengan membaca, kita membuka jendela dunia semakin lebar; memupuk kekayaan imaginasi; kita akan tahu perbedaan di antara kita; kita tidak menjadi takut dengan orang yang berbeda dengan kita; dan kita memiliki keluasan dan tidak akan mudah terhasut provokasi.

Najwa Shihab menekankan bahwa sifat utama membaca adalah keingintahuan. Lawan dari itu adalah 'sok tahu'. Nah, Anda masuk kategori yang mana? Membaca karena keingintahuan atau karena 'sok tahu'?