Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Sepeda sebagai Gaya Hidup, Beda antara Masyarakat Desa dan Kota

25 Januari 2020   03:15 Diperbarui: 25 Januari 2020   14:24 995
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seorang pensiunan guru di Curahjati, Banyuwangi dengan sepeda Gazelle seharga 8 juta. Dokpri

Ada lima jenis sepeda yang saya tahu selama ini, yakni: sepeda onta, sepeda jengki, sepeda mini, sepeda balap, dan sepeda gunung (dan sejenisnya). Sebenarnya ada satu jenis lagi tapi jarang digunakan sebagai alat transportasi selain untuk bermain sirkus, yakni sepeda roda satu.

Sepeda onta merupakan sepeda dengan ukuran diameter roda lebih dari 27 inci. Karena bentuknya yang besar dan tinggi inilah disebut sepeda onta. Sebutan ini baru muncul setelah adanya sepeda jengki pada awal tahun 70an.

Sepeda onta ada dua jenis, sepeda lanang dengan palang lurus dari stir sampai bawah sadel. Umumnya dipakai kaum pria, makanya disebut sepeda lanang yang artinya pria. Sedang sepeda onta wedok tidak palang tetapi penguatnya melengkung ke bawah dari bawah stir hingga sadel. 

Sepeda jenis ini kebanyakan dipakai kaum hawa yang kala itu masih banyak yang memakai kebaya atau rok. Makanya disebut sepeda wedok yang artinya perempuan.

Sepeda onta sekarang jarang lagi ditemukan di jalanan atau dipakai sebagai alat transportasi orang kota  dengan alasan kurang cepat selain oleh para pedagang keliling dari desa. Misalnya pedagang pisang, sayur, atau buah-buahan lainnya.

Tetapi beberapa orang di kota ada juga yang mempunyai hobi mengoleksi sepeda onta terutama yang sudah tidak diproduksi lagi alias sepeda antik. 

Merek yang terkenal adalah Hartog dan Gazelle yang dulu banyak dimiliki oleh kaum ambtenar Belanda. 

Harga sepeda onta seperti ini bisa mencapai puluhan juta. Apalagi yang berjenis doltrab atau yang menggunakan rem dengan pedal yang diputar ke belakang.

Pedagang pisang keliling dengan sepeda onta lanang di Malang. Dokpri
Pedagang pisang keliling dengan sepeda onta lanang di Malang. Dokpri
Sepeda onta lanang untuk mencari rumput di Lumajang. Dokpri
Sepeda onta lanang untuk mencari rumput di Lumajang. Dokpri
Sepeda onta wedok di Kedungrejo, Malang. Dokpri
Sepeda onta wedok di Kedungrejo, Malang. Dokpri
Seorang bu guru dengan sepedanya. SDN Kauman Malang. Dokpri
Seorang bu guru dengan sepedanya. SDN Kauman Malang. Dokpri
Seorang pensiunan guru di Curahjati, Banyuwangi dengan sepeda Gazelle seharga 8 juta. Dokpri
Seorang pensiunan guru di Curahjati, Banyuwangi dengan sepeda Gazelle seharga 8 juta. Dokpri
Lonceng dokar di sepeda Gazelle-nya. Dokpri
Lonceng dokar di sepeda Gazelle-nya. Dokpri
Sepeda jengki berdasarkan pengalaman dan sepengetahuan penulis baru muncul pertengahan tahun 60an bersamaan dengan sepeda mini. Sepeda jengki bentuknya lebih kecil namun dengan model yang flamboyan dan elegan. 

Pemakainya kebanyakan para siswa SMA dan mahasiswa, sebab kala itu anak SMA dan mahasiswa kalau memakai sepeda onta sering diledek sebagai tukang pos. 

Sepeda jengki pun ada dua macam, lanang dan wedok, tetapi paling banyak jenis wedok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun