Filosofi Bromo Bagiku....^^

19 April 2012 05:27:22 Dibaca :

Bromo dan Puncaknya .




Aku masih mengingat rasa takut didalam hatiku yang menjalar memenuhi seluruh tubuh tanpa mau berhenti saat sampai di puncak kawah gunung Bromo . Tidak sedikit pun aku berniat merubah posisiku yang berdiri kaku di depan tangga , meskipun aku tahu sikapku itu sangat mengganggu lalu lintas orang-orang yang ingin melihat kawah Bromo sama sepertiku . Tapi kaki yang gemetaran ditambah rasa tidak enak di tenggorokan yang membuatku batuk-batuk membutakan rasa peduliku . EGP , pikirku . Yang penting aku gak jatuh 'glundung' di tangga , atau malah yang lebih buruk lagi 'kecemplung' ke dalam kawah . Thanks God , sudah menggerakkan siapapun untuk membuat pagar pembatas di tepi kawah sampai akhirnya aku mau bergerak sedikit untuk berpegangan disana . Fiuhhhh.....

Aku sejenak melihat kawah gunung Bromo yang memang menjadi tujuanku kesana . Tidak sia-sia rasanya aku berjalan dari parkiran Jeep melewati lautan pasir , kemudian mendaki untuk mencapai kawahnya . Pemandangan diatas sungguh tidak dapat terlukiskan kecuali begitu banyaknya orang di tepi kawah sedangkan tempat yang tersedia untuk menampung orang-orang hanya sedikit , Tepian kawah hanya bisa diisi maksimal dua baris . Walau pun kalau mau dibuat dua barisan pasti ada barisan yang orang-orangnya tak akan diketahui kemana rimbanya , jatuh kebawah gunung...atau jatuh kedalam.....-ah itu hanya pikiranku yang didominasi oleh rasa takut . Mau tak mau aku juga harus segera turun untuk setidaknya memberikan kesempatan pada orang-orang yang berniat melihat kawah Bromo yang masih mengantri di tangga naik . Orang-orang yang mungkin sepikiran denganku . Bahwa menaklukkan pendakian yang membuat nafasku terengah-engah dan menguras hampir seluruh tenagaku itu adalah sebuah pembuktian diri . Ya, aku memang berpikir begitu saat berhenti di tengah jalan untuk menarik nafas . Bagiku saat aku merasa tak kuat ditengah jalan , aku selalu mengingatkan pada diriku sendiri bahwa kalau aku menyerah sekarang , kapan lagi aku akan menaklukkannya . Kesempatan tak pernah datang dua kali . Mungkin aku memang akan ke Bromo lagi , tapi aku yakin bila dikunjungan pertamaku saja aku sudah menyerah apalagi nanti dikunjungan keduaku . Maka aku putuskan untuk menghadapinya , walau harus berulang kali beristirahat untuk mengatur nafas dan mengumpulkan lagi tenaga untuk melangkah maju .Tapi aku sampai....YEY!!!Aku sampai di kawah gunung indah itu . Tak bisa kubayangkan juga perjalananku barusan , apalagi banyak anak tangga yang sudah rusak dan hampir semua pegangannya tak bisa dipercaya-pikirku . Tapi aku sampai dan aku berhasil melihat kawahnya . Suatu bukti bahwa aku mampu menghadapi apa pun itu sebenarnya , sesulit apapun , asal aku mau menghadapinya , maka pasti....PASTI akan ada jalan untukku menyelesaikannya . Horeeee.....


Aku mengalihkan pandanganku dari kawah gunung Bromo ke anak tangga yang akan kulalui lagi untuk turun dan menghela nafas kembali . Mati , aku gak bisa turun.......





p.s:dibuat empat hari kemudian setelah sang penulis berhasil turun dari Bromo dengan tertatih-tatih dan ketakutan dan dalam keadaan geje...jadi tolong dimaafkan kalau bahasanya agak semrawut

Annisa Dinar

/annisadinar

Cewek , pemimpi , dan gemar membaca
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?