HIGHLIGHT

Geliat Panti Pijat Plus

20 Juli 2011 16:10:37 Dibaca :
Geliat Panti Pijat Plus

Pijat Ala Pak Muliadi Terakhir saya ke tempat pijat puluhan tahun yang lalu. Waktu itu hanya karena kebetulan menemani teman kuliah saya yang memang suka "main pijat". Maklum, Selain karena ia  mempunya jatah kiriman uang berlipat-lipat dibanding jatah kiriman saya yang memungkinkan untuk memasukkan pos pengeluaran " pijat" dalam daftar pengeluaran rutinnya selama sebulan, ia juga sangat gemar bermain bola di lapangan kampus. Nah, setelah bermain bola itulah waktu yang tepat untuk ke tempat pijat. Kadang, sebagai teman yang akrab (satu Jurusan dan satu kos), kami (saya dan teman se kos lainnya) menawarkan pijatan dengan gerakan hasil kreasi sendiri plus minyak kayu putih atau balsem. Walaupun bayarannya cukup dengan sebatang Gudang Garam Mini dan kebanyakan gratisnya, teman saya tetap merasa tidak puas.  Saya masih ingat penggalan kata-kata yang menyayat hati waktu itu " Dasar tangan-tangan petani, kasar dan kaku....!" atau "Dasar Mahasiswa Teknik, tubuh teman dianggap mesin diesel...!" keterlaluan. Maka ia pun segera berkemas, mengajak beberapa teman, termasuk saya tentunya menikmati pijatan lembut Ibu Ningsi, Ibu Asih atau Pak Muliadi. Khusus nama yang terakhir ini, ia adalah lelaki paruh baya buta tetapi setiap kali kesana, kami akan berlomba-lomba mendapatkan pelayanannya. Lewat naluri Pak Muliadi, ternyata bisa menghasilkan pijatan yang sempurna. Betul-betul terasa nyaman dan "garansi" pegal-pegal dan nyut-nyut perlahan menghilang. Berganti dengan tubuh bugar dengan polesan minyak racikan sendiri: minyak kayu putih di campur tumbukan beberapa biji cengkeh kering. Uang Rp.5000/jam tidak terasa sia-sia waktu itu. Tempat pijat itu tidak terpisah dari rumah kediaman mereka. Biasanya, kamar tamu depan dijadikan tempat pijat. Karena masih sangat langka, jangan heran jika harus antri seharian atau semalaman menunggu giliran.  Selain karena pengunjung mencapai puluhan orang, juga karena ketiga tempat pijat itu masing-masing hanya mengandalkan tangan-tangan sendiri tanpa karyawan. Sayang. Jika ada teman yang berniat "mijit" di sana, lapak-lapak itu telah berganti dengan gedung-gedung tinggi tanpa menyisahkan sedikitpun kenangan saya semisal tutup botol balsem cap kaki tiga. Hehe... Panti Pijat Plus Seiring dengan perkembangan Zaman, tempat pijat pun berganti nama menjadi Panti Pijat. Menjamur bak cendawan di musim hujan. Tidak seperti dulu yang kami kenal hanya ada tiga buah tempat pijat disepanjang Jl.Urip Sumoharjo meladeni jutaan warga masyarakat Makassar. Sungguh sebuah ketimpangan dan komposisi yang tidak seimbang. Tetapi sekarang, Panti Pijat itu betul-betul menjamur. Sangat mudah ditemukan, dan kemasannya-pun luar biasa. Ruko yang disulap sedemikian rupa, ruangan ber-AC, lampu remang-remang, dan ahay! tukang pijat yang terpajang di foto di meja kasir sangat tidak pantas kusebut tukang pijat. Mereka lebih pantas digelari puteri khayangan atau gadis seribu pesona. Lho, Bung! katanya terakhir ke tempat pijat puluhan tahun yang lalu? Betul! seminggu yang lalu, si Reza, teman kuliah dulu kembali menginjakkan kakinya di Makassar, setelah puluhan tahun berganti KTP menjadi penduduk Pulau Batam. Sayapun sempat kaget ketika tanpa tanda sebelumnya, tiba-tiba sudah berdiri di depan rumah bersama si Rahmat (teman kuliah yang lainnya) yang masih menetap dan bekerja di Makassar dan Alhamdulillah masih sering ber silarurahmi. Maka setelah melepas ritual temu kangen di ruang tamu, atas usul si Reza, kami bertiga sepakat kembali ke masa lalu. Masa yang terlupakan tercatat pada rusuk sejarah bahwa setelah orde lama, ada era transisi yang kunamai "era Pijat Tradisional".  Sebuah era yang dipelopori tiga orang bertangan lembut: Ibu Ningsi, Ibu Asih dan Pak Muliadi. Dan tentunya, tidak terlepas dari gerakan bawah tanah yang dilakukan teman saya . Reza Syahrullah. Dialah yang mempelopori  Gerakan Mahasiswa Pecinta Panti Pijat (GMP3) LUAR BIASA! Mobil rental kamipun me13111778612116192572ngendap-endap di sepanjang Jl. Pettarani menuju Kompleks Ruko Pengayoman. Sementara diatas mobil, si Reza seketika kugelari "pendongeng" yang ulet. Mulutnya tak henti-henti berkicau sampai-sampai sebagian ludahnya terpercik pada kaca mobil, sebagian lagi meleleh menjelma liur mengikuti arah kumisnya yang tumbuh tipis. Kumis yang kira-kira tak lebih tujuh belas lembar. Sungguh! ketika memasuki salah satu Panti Pijat di kawasan Pengayoman, saya merasa begitu ketinggalan zaman. Saya sempat grogi dan tidak percaya dengan pemandangan itu. Seandainya tidak ada Neon Box di depan ruko, pasti saya menganggap jika kami sedang berada di Twenty One atau mungkin di gedung BI. " Selamat malam dan selamat datang mas...!" sapa customer service sambil menjulurkan album foto lengkap dengan kode rahasia yang berisi puluhan " gadis seribu pesona" . Dan kali ini, air liur kembali bertakhta. Bukan meleleh, tetapi kami sepakat menelannya bulat-bulat. " Yang ini masih Mahasiswi, mas. Yang ini, meski umurnya sudah kepala tiga, tetapi pelayanannya luar biasa. Cantik lagi...!" lanjut customer service. " Bebb..Berrrapa...?" tanya si Rahmat tersendat-sendat " Pilih paket yang mana mas?" sergah CS sedikit berbisik dengan muka agak condong ke depan " Mmmaksudnya....." saya tak mau tinggal diam " Ah, mas-mas pura-pura bego ya! mau sekedar "mijit" atau....." Kata-kata CS tertahan dan matanya awas menyelidik. " Kalau sekedar mijit, cuma 75.000/jam mas" Sejurus kemudian, saya sudah berpencar menuju kamar masing-masing di lantai dua.  Lantai yang mengkilap di bawah keremangan lampu, orama campuran parfum yang menyengat dan tebasan hawa AC  seakan serentak bersorak " Selamat datang di era millenium , bung...!" Di dalam kamar, puteri seribu pesona rupanya telah menunggu. Gaun malam hitam berbelahan dada rendah, lipstik merah muda yang dipoles tipis dan aroma parfum yang asing betul-betul menegaskan jika saya sedang berada di era milenium. Setelah sedikit berbasa-basi, sang puteri pun segera meliuk di atas tubuhku yang tengkurap. Tangannya menari-nari di daerah punggung, pinggang bahkan betis saya. Tetapi aneh. Saya merasakan ada sesuatu yang ganjil. Saya merasakan pijatan Pak Muliadi jauh lebih dasyat dari pijatan puteri seribu pesona itu. Apakah ini pijatan atau rabaan? jika saya memintanya memijat lebih keras lagi, ia serupa meremas adonan kue bolu. Sangat tidak berperasaan dan terasa sakit. Padahal, jika dibandingkan jari-jari tangan Pak Muliadi, jari si puteri jelas lebih gemulai. Apalagi ia seorang perempuan. Maka, acara pijat seketika saya hentikan secara sepihak. Padalah, jarum jam baru bergeser beberapa kali. " Kenapa mas...?" Akh, pertanyaan yang tak perlu kujawab. Saya kemari butuh pijatan yang sempurna. Saya sedang tidak butuh aroma parfum dan senyum aduhai-mu! hatiku menggerutu. " Atau mas mau yang plus? cukup tambah 200 ribu kok..." " Maksud Mbak?" " Ya...pijat plus mas,  masa mas ndak ngerti....?" Lanjut puteri yang kukenal bernama Mbak Lilis itu. Wah, rupanya malam itu "rambu-rambu" lalu-lintas tak kuserobot. Jujur, debaran dada saya seketika membuncah, tetapi saya masih berpegang teguh pada satu komitmen: hanya memijit.Tak lebih. Iklan Panti Pijat Plus Membanjiri Koran Dalam perjalanan pulang, tak banyak kata yang terumbar. Hanya cekikitan Reza dan Rahmat yang saling melebur, setelah mereka saling mencolek. Tetapi dari wajah pias mereka, di tambah lagi bekas gincu di leher sebelah kanan, sudah cukup saya tegaskan jika mereka baru saja menyelesaikan pertarungan sengit di puncak "gunung Apam". Berselang dua malam, saya kembali bertemu dengan si Reza di kamar hotel sewaannya. Dari awal kami sudah komitmen jika malam itu, kami hanya akan membahas bisnis yang sekarang ia geluti, dan rencana membuka cabang di Makassar. Tetapi Reza yang dulu tak banyak berubah. Ia adalah penipu ulung dengan seribu ide. Ia sosok lelaki yang senang "coba-coba". Saya masih ingat, Rezalah yang mengenalkan dentuman house musik di M Club atau Pharos saat kuliah dulu. Reza pula yang memperkenalkan racikan minuman keras ala mahasiswa pondokan: Alkohol 70% 100 Ml dicampur coca-cola kaleng, atau sebotol soda. Sangat jenius, dan inspiratif tentunya. Setelah ngomong panjang lebar, ide brilliannya kembali membiak. Sedikit berbisik (meskipun hanya kami berdua dalam kamar hotel) ia mulai menghasut. " Bro, sebentar lagi, ada dua orang tukang pijat ke kamar kita. Mereka sedang dalam penjalanan...!" " Maksudmu? apa tempo hari kau sempat tukaran nomor Hp?" " Tidak bro, saya dapat nomor mereka dari sini....!" sambungnya sambil menghempaskan selembar koran lokal edisi terbaru. Ya, betul. Belum sampai lima menit, dua wanita cantik sudah mengumbar senyum di depan pintu. Ia mengaku "tukang pijat" panggilan dengan target pelayanan tamu-tamu wisma atau hotel. Bahkan, menurut pengakuannya, mereka bisa di ajak keluar kota sampai seminggu atau sebulan sekalipun. " Tidak apa-apa mas! yang penting bayarannya sesuai!" Dari mereka pula akhirnya saya berhasil mendapatkan penjelasan secara rinci tentang geliat Panti Pijat yang sudah berada pada taraf bisnis esek-esek yang terselubung dengan berbagai modus. Selain terang-terangan "mangkal" di Panti Pijat, rupanya mereka cukup kreatif mengait pelanggang melalui iklan baris di koran-koran.  Menerima pijat panggilan, pijat spesial, pijat seluruh badan, 24 jam non stop pemijat cewek di jamin puas, pijat seluruh body siap di panggil kapan saja, dan puluhan bahkan ratusan " slogan" lain yang ujung-ujungnya menawarkan dagangan yang lain. Tentu tidak semua, tetapi sesuai dengan pengakuan mereka dan hasil wawancara saya dengan teman yang lain (heheheeee) bisa saya simpulkan jika pada umumya iklan Panti Pijat Plus di koran-koran hanya payung hitam yang menaungi dagangan lain: Birahi! Nah, jika sudah ada indikasi, apakah iklan-iklan serupa masih bisa bertebaran di koran-koran? padahal di sana jelas tertulis jika iklan tidak boleh menyinggung agama, ras dan sex. ( Makassar 2011) Sumber Gambar: ruly.blogdetik.com

Suka Coddo

/alampanrita

TERVERIFIKASI (HIJAU)

coddolah sebelum coddo itu dilarang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?