HIGHLIGHT

Everyday Greatness : Menginspirasi Diri dan Orang Lain Dari Buku

22 Mei 2012 00:27:28 Dibaca :
Everyday Greatness : Menginspirasi Diri dan Orang Lain Dari Buku
Buku Everyday Greatness (Dok. pribadi)

Gadis itu begitu tidak menyukai orang tuanya. Bukannya tanpa sebab ia bersikap begitu. Masa kecilnya penuh cerita pedih tentang kekerasan dalam rumah tangga.

Kini gadis itu telah dewasa. Sikapnya sangat getir pada orang tuanya. Rasa sakit hatinya dia simpan dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Suatu hari sebuah keputusan berat harus mereka terima. Gadis itu dan ibunya didiagnosis mengidap kanker payudara. Keduanya harus menjalani hidup dengan tambahan beban penyakit fisik.

Namun gadis itu membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dia bertekad akan memaafkan orang tuanya. Dia tak peduli dengan masa kelamnya. Sakit hati pada ibunya dia letakkan di tanah berdebu, yang kini telah tertiup angin.

Setiap pagi, saat berangkat kerja, dia mencium tangan ibunya dengan tulus.

”Aku mencintaimu Mama.” Demikian ungkapan lirih gadis itu

Sang ibu hanya terdiam, tanpa sepatah katapun.

Gadis itu terus saja melakukan kebiasaannya tanpa henti, meski respon Sang Ibu belum memenuhi harapannya. Hingga suatu hari, setelah tiga bulan berlalu, gadis itu terlambat berangkat kerja. Gadis itu dengan terburu-buru keluar rumah. Tiba-tiba sebuah suara lembut yang sangat dirindukannya terlontar.

”Ada yang lupa, anakku,” seru Sang Ibu. ”Apa?” tanya gadis itu. ”Kamu lupa mengatakan aku mencintai Mama.”

Keduanya berpelukan dengan rasa haru. Keduanya menangis bahagia. Tak lama berselang setelah melalui terapi keduanya sembuh.

Sahabat....dendam hanya akan menyimpan luka abadi dalam jiwa kita. Sakit hati yang dipelihara akan menjadi duri yang akan terus menusuk hingga luka hati makin menganga dan menyebar ke seluruh diri. Memelihara sakit hati dan dendam hanya akan mengobarkan api dan akhirnya yang tersisa hanyalah abu.

Memaafkan adalah bentuk kekuatan dan kemuliaan jiwa. Saat kita berhasil menyingkirkan keinginan membalas dendam dan berani memaafkan, maka disitulah kita digelari sebagai orang terkuat.

Mungkin kita perlu membuat lubang tempat mengubur kesalahan orang lain. Atau memiliki sebidang tanah berdebu tebal untuk menuliskan sakit hati dan kekesalan kita pada orang lain. Sebaliknya batu marmer cantik tempat mengukir kebaikan sahabat-sahabat kita perlu dihadirkan dalam hati kita.

***

Cerita diatas berasal dari kisah yang saya adaptasi dari Buku Everyday Greatness: Inspirasi untuk mencapai kehidupan yang bermakna oleh David K. Hatch (2007) oleh Penerbit Gramedia. Buku ini sangat luar biasa isinya. Buku yang berisi kisah-sisah inspirasi dari kehidupan orang-orang inspiratif di seluruh penjuru dunia ikut membawa perubahan bagi hidup saya.

Kisah-kisah dalam buku diamana Steven Covey mengisi bagian pengantarnya berasal dari kehidupan orang kecil hingga orang terkenal. Ada kisah seorang anak korban perang Bosnia di Sarajevo yang selalu ceria memainkan Selo meski kakinya putus. Juga diceritakan sebuah perjuangan gigih seorang penderita Kanker Payudara yang akhirnya menginspirasi banyak orang untuk tetap bertahan hidup dan tabah menjalani cobaan berat itu. Terdapat pula kisah singkat bagaimana seorang tokoh film laga Hollywood Chuck Norris yang awalnya seorang kuli angkut akhirnya menjadi bintang dunia. Ada pula kisah seorang anak yang masa lalunya penuh penderitaan akibat lingkungan keluarga yang keras akhirnya meraih sukses.

Tidak hanya beisi kisah, buku tentang “Kehebatan Sehari-hari” ini juga memuat kutipan-kutipan singkat dari beragam tookoh dan sumber dari berbagai kultur masyarakat berbagai belahan dunia. Salah satu kutipan yang sangat saya sukai adalh kutipan yang terdapat pada Halaman 329 tentang Menilai Orang Lain :

133764629176768078
Saah satu kutipan di Buku Everyday Greatness (dok. pribadi)

Buku setebal 542 halaman ini awalnya saya temukan di sebuah rak di perpustakaan pusat Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya biasanya mencari buku-buku ringan untuk dibaca di sela-sela kepenatan mengerjakan tugas kuliah di perpustakaan. Saya sangat menyukai kutipan-kutipan (quotes) singkatnya. Saya kemudian share di jejaring sosial quotes dari buku ini. Ternyata banyak yang menyukainya dan ini membuat saya tambah semangat membacanya.

Saya kemudian beralih membaca kisah-kisahnya yang agak panjang. Luar biasa, dengan kalimat indah dan mengena, buku ini sungguh membuat saya ingin berbagi. Buku ini menjadi pintu inspirasi terbesar bagi saya untuk menulis kisah inspirasi. Bagi saya, yang mengeola grup Facebook “POHON INSPIRASI” mendapat energy besar dari buku ini. Lewat kisah-kisah dari buku ini, saya kemudian merenung dan membuat satu persatu kisah inspirasi yang diadaptasidan terinspirasi dari buku ini.

Berkat kisah-kisah di buku ini, grup yang saya kelola semakin banyak peminat. Saat ini anggota grup berjumlah 5.343. Tidak sedikit anggota yang merasa tergugah dan bangkit semangatnya setelah membaca kisah yang saya adaptasi dari buku tersebut. Saya sengaja adaptasi dan tidak mengutip bulat-bulat kisah dalam buku tersebut agar pembaca merasakan nuansa keseharian yang lebih nyata. Kisah dalam buku tersebut tak ada satu pun berlatar belakang budaya Indonesia sehingga saya pun berinisiatif membuat nuansa keseharian yang lebih terasa oleh pembaca.

Lewat inspirasi dan hasil adaptasi kisah dari Buku Everyday Greatness ini, saya bisa membuat naskah buku kedua saya. Bersama tiga penulis muda, saya mengumpulkan hampir seratus kisah Inspirasi yang kami adaptasi sebagaian besar dari buku ini. Saat ini, naskah buku kami sedang dalam proses penerbitan oleh penerbit di Jakarta. Semoga bisa terbit dalam waktu dekat ini.

Dari sebuah buku yang awalnya hanya untuk melepas kejenuhan, lahir gerakan berbagi dan menginspirasi untuk alam. Dari buku yang inspiratif tergugah banyak hati, terbangkit semangat ratusan jiwa dan tergerak ribuan orang untuk berbagi.

Salam berbagi dan lestari alamku!

Achmad Siddik

/achmadsiddikthoha

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Penelusur dan Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengelola Komunitas Pohon Inspirasi, Perawat Komunitas Kongkrit, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan dan Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?