pilihan

Perjuangan Tidak Akan Mengkhianati Hasil

20 Maret 2017   16:11 Diperbarui: 20 Maret 2017   17:45 364 1 0

Perjuangan Tidak Akan Mengkhianati Hasil

Karya: Abie Syahrin Ghalib

            Aku adalah seorang gadis desa yang memiliki banyak kekurangan dan sedikit kelebihan. Aku terlahir dari rahim seorang penjual kue, dan ayahku bekerja sebagai penambal ban motor. Dengan kondisi yang seperti ini, mustahil bagiku untuk bersekolah hingga Universitas. Jangankan untuk bersekolah, makan sehari-hari pun keluargaku kesulitan untuk memenuhinya. 

Aku bersyukur mendapat beasiswa untuk bersekolah di SDN Citrodiwangsan 01 Lumajang. Jarak rumahku dengan sekolah yang cukup jauh, membuat ayahku harus rela mengayuh sepeda tuanya selama satu setengah jam. Dengan penuh nyali yang besar untuk bisa mengantarkanku ke sekolah, melewati jalan yang penuh bebatuan dan lubang-lubang. Tapi hal ini tidak menjadi hambatan bagiku untuk meraih impianku untuk bisa mengikuti olimpiade matematika. 

Alhamdulillah, Allah SWT memudahkan jalanku untuk bisa mengikuti olimpiade matematika. Di sekolah ini aku bertemu dengan Pak Muchtar, beliau adalah seorang guru olimpiade matematika di tingkat sekolah dasar. Pak Muchtar lah yang dengan sabar mengajariku dasar-dasar olimpiade matematika.

            3 bulan berlalu, ketika aku mendapat tawaran untuk bergabung dalam kelompok sosial yang bernama Tim Peduli Prestasi Pendidikan Lumajang atau sering disingkat menjadi TP3L. Tak peduli sudah berapa lama tim ini terbentuk, jika ini baik buatku aku akan bergabung. Kebetulan aku adalah murid angkatan pertama di TP3L. Dari sini, aku menemukan teman-teman baru dari berbagai sekolah, dan dari sini juga aku bertemu dengan pembimbing yang memiliki kelebihan dibidangnya masing-masing.

            Pembinaan ini dimulai dari pukul 15.00 sampai 17.00, dengan waktu sesingkat itu sulit untuk ayahku melakukan perjalanan bolak balik ke rumah. Maka dari itu ayahku memilih untuk beristirahat di depan kelasku. Hampir setiap kali  aku melihat ayaku tidur terlelap hanya dengan beralaskan kardus. Raut kelelahan terpancar jelas di wajahnya, kadang aku merasa iba, sering aku merasa sedih bahkan hingga menangis saat melihatnya. Sungguh besar pengorbanan ayahku.

            Kadang kala sering juga aku iri dengan teman-temanku yang memiliki baju bagus, tas bagus, diantar jemput menggunakan mobil pribadi, dan lain-lain. Sering pula aku ingin berhenti pembinaan, hanya karena teman-temanku yang mengejekku dan menjauhiku. Tetapi melihat pengorbanan ayahku yang sangat besar terhadapku, membuat aku ingin berjuang, berhasil, dan membuktikan bahwa aku bisa mengalahkan mereka yang hidup dengan berbagai kemewahan.

            Setelah sekian lama menunggu, tibalah saatnya olimpiade matematika pertamaku akhirnya datang, aku tidak berharap banyak dengan kompetisi ini. Ilmuku yang sedikit ini tidak akan mampu menandingi mereka. Alhasil aku kalah dalam olimpiade pertamaku ini. Aku merasa gagal kala itu, ingin aku keluar dari TP3L ini, tetapi guru-guru dan orang tuaku selalu memberiku dukungan. Hal inilah yang membuatku untuk tetap bertahan dan terus berjuang di TP3L ini.                  

            Kompetisi demi kompetisi terus aku lalui, tetapi selalu saja kekalahan yang aku dapatkan. Aku merasa mulai tidak bersemangat setiap mengikuti pembinaan. Banyak teman se-angkatanku yang sudah meraih juara, hanya aku yang belum pernah merasakan manisnya mendapat juara. Sampai suatu saat tibalah kompetisi matematika yang bergengsi di daerahku. Aku berjanji akan berhenti jika aku gagal lagi dalam kompetisi yang satu ini.

            Tapi takdir berkata lain, untuk pertama kalinya aku meraih penghargaan sebagai juara 1, aku bangga dengan diriku. Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya ketika namaku dipanggil dan dinobatkan sebagai juara 1. Aku persembahkan piala ini terutama untuk ayah dan ibuku. Dari sinilah semangatku tumbuh lagi. Berkat penghargaan ini membuat aku selalu mengikuti kompetisi-kompetisi di kabupaten, kota, bahkan provinsi. Aku ingin menantang diriku di kancah nasional.

 Berkat kegigihan dan doa kedua orang tuaku. Akhirnya aku mengikuti salah satu kompetisi matematika yang diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan Matematika Bogor. Aku mengikuti dari Babak penyisihan, Dan Babak semifinal. Hasil yang baik di babak semifinal KMNR, membuatku lolos ke babak final yang akan diadakan di Bogor. Aku belajar giat untuk mempersiapkan itu, hingga pembinaan terakhir persiapan final KMNR aku jalani dengan semangat.

           Aku ingat hari Rabu adalah pembinaan terakhir persiapan, dan kala itu tidak ada seorang pun yang menjemputku untuk pulang. Aku memutuskan untuk naik angkutan kota, bersyukur aku masih menyimpan sisa uang jajanku. Sesampainya aku di depan rumah, aku dikagetkan dengan kondisi rumahku yang dipenuhi banyak orang, dan aku juga melihat bendera kuning bertengger di depan rumah. Aku berlari memasuki rumah, dan aku melihat ibuku sudah terbujur kaku di kasur dengan kain putih yang menutup hingga kepalanya. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tangisan pun mulai bergelinang membasahi pipiku ini.

           Ingin sekali rasanya aku berterteriak sekeras mungkin, kenapa dunia ini tak adil. Kenapa aku harus kehilangan sosok seorang ibu di usiaku yang masih kecil ini yang masih membutuhkan kehangatan seorang ibu. Seharusnya kini aku bersenang-senang karena nanti malam perjalananku menuju final KMNR dimulai. Dengan kondisi yang seperti ini, ayahku menyarankanku untuk mundur dari kompetisi ini. Tapi aku menolak sudah banyak waktu, biaya, dan tenaga yang aku kerahkan untuk kompetisi ini. Tapi apakah aku harus mundur hanya karena aku sedang berduka? Tidak, tidak boleh, impianku sudah hampir terwujud. 

Aku tetap saja berangkat setelah proses pemakaman ibuku. Di perjalanan aku selalu teringat pada ibuku. Ibuku yang menyuapiku di pagi hari, yang selalu membuatkan roti kesukaanku, yang selalu ada ketika aku senang maupun sedih, dan kini dia sudah tiada. Maafkan lah anakmu ini ibu, yang belum bisa membahagiakanmu ibu. Keesokan harinya, aku mengerjakan soal kompetisi itu dengan sebaik-baiknya aku yakin pasti bisa meskipun aku sedang berduka kala ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibuku, tapi doa ibu selalu menyertaiku. Proses pengerjaan soal sudah berlangsung lancar. Setelah berapa lama menunggu, tibalah waktunya pengumuman juara sekaligus penyerahan medali.

           Tidak ada namaku di kumpulan anak yang mendapat medali perunggu dan perak. Aku menangis, tidak mungkin aku mendapat medali emas, perjuanganku selama mempersiapkan kompetisi ini terbuang sia-sia. Aku lantas langsung keluar dari tempat itu, dan langsung berlari menuju mobil. Baru saja aku duduk di dalam mobil, tiba-tiba temanku datang dan menyeretku untuk memasuki gedung itu lagi ternyata aku mendapatkan medali emas, Sungguh diluar dugaanku.

           Aku tak percaya, karena kompetisi ini aku bergabung dengan KPM dan dengan kemenanganku pada kompetisi ini juga membuatku mengikuti IMSO sebagai delegasi indonesia yang dilaksanakan di perancis kala itu, tapi sayangnya aku gagal di ajang bergengsi itu. Meskipun aku gagal di perancis tetapi aku tetap bangga telah mewakili INDONESIA di kancah internasional.

           Kini aku menjadi mahasiswa UI, prestasiku dibidang matematika dan kegembiraanku terhadap matematika membuat aku dipercaya menjadi tangan kanan dosenku. Setelah lulus S1, aku ditawari untuk melanjutkan belajar ke Amerika atau menjadi dosen di Universitas Indonesia. Karena kecintaanku akan indonesia membuatku memilih menjadi dosen di UI. Kini aku telah menjadi seseorang yang disegani, tak ada satu orang pun yang mengejekku, dengan gajiku sebagai dosen aku bisa memperbaiki perekonomian keluargaku dan mengangkat derajat kedua orang tuaku.


                                                                                                                                                                  -SELESAI-