Pekerjaan Paling Hina dan Menjijikan adalah Wartawan Gadungan

03 September 2012 15:10:59 Dibaca :
Pekerjaan Paling Hina dan Menjijikan adalah Wartawan Gadungan
foto: arcom.co.id

Kota Bandung diserbu sekawanan wartawan gadungan, pemandangan yang menggelikan ini terjadi di kantor Kajati Jawa Barat jalan R.E. Martadinata Bandung, Senin, (3/9/2012), dalam acara pisah sambut Kajati Jawa Barat.

Lebih dari 15 wartawan gadungan berjaket kulit, dan sebagian memakai topi, mondar - mandir tidak karuan, mereka kasak - kusuk mencari  staf humas Kajati Jawa Barat, motif mereka hanya satu yaitu uang, Staf humas Kajati Jawa Barat tidak kalah gesit, mereka dengan lincah menghindari kawanan wartawan gadungan yang telah menyerbu kantor Kajati Jawa Barat, sebagian staf humas terjebak di ruangannya, dan menutup rapat - rapat pintu ruang Humas. Gerombolan wartawan gadungan yang telah kenyang menyantap hidangan untuk para tamu undangan, segera merapat ke ruangan humas, dan memenuhi kursi ruang tamu, mereka sesekali menengok ruang humas Kajati Jawa Barat, dan berharap staf humas Kajati merasa gerah dan terganggu, sehingga segera memberikan uang kepada gerombolan wartawan gadungan agar segera pergi dan menyingkir. Wartawan Gadungan di kota Bandung sudah semakin banyak, meresahkan dan merusak citra wartawan resmi, gerombolan wartawan gadungan mudah ditemui di setiap acara - acara resmi Gubernur, Walikota, Bupati, Kepolisian, launching perusahaan, bahkan acara Presiden dan para menteri. Polisi, tentara,  dan pihak berwenang lainnya tidak dapat berkutik menghadapi sepak terjang gerombolan wartawan gadungan ini, tetapi apabila ada polisi gadungan atau tentara gadungan, dengan cepat dan tangkas ditangkap dan diekspose. Wartawan senior dan wartawan resmi di kota Bandung sudah muak atas kelakuan gerombolan wartawan gadungan, tetapi apa daya, gerombolan wartawan gadungan lebih beringas dan nekat, karena motif mereka hanyalah uang. Pekerjaan tukang becak, loper koran, dan pemulung lebih terhormat daripada gerombolan wartawan gadungan, tukang becak, loper koran, dan pemulung bekerja keras memeras keringat, dan sekuat tenaga hanya untuk mendapatkan beberapa lembar uang ribuan. Gerombolan wartawan gadungan pekerjaannya hanya datang ke suatu acara, makan hidangan yang tersedia bagi  para tamu,  duduk  bergerombol di ruangan humas,  kemudian mendapatkan uang ratusan ribu rupiah, apakah mereka menulis dan membuat berita?, tentu saja tidak, gerombolan wartawan gadungan  di kota Bandung,dikenal dengan istilah wartawan bodrek, bangreng, CNN (Can Nulis - Nulis), wartawan muntaber (muncul tanpa berita), dan istilah hina lainnya. Entah sampai kapan gerombolan wartawan gadungan ini menguras uang iklan para humas pemerintahan, BUMN, dan perusahaan yang seharusnya menjadi hak dari media resmi dan wartawan resmi. Perusahaan media dan wartawan resmi yang ada di kota Bandung bergantung dan hidup dari uang iklan humas pemerintahan, BUMN, dan perusahaan swasta, tetapi mengapa gerombolan wartawan gadungan di Bandung dibiarkan hidup dan berkembang? dikarenakan gerombolan wartawan gadungan sebenarnya hanya mendapatkat uang recehan, jadi tidak menggangu cash flow (arus kas) perusahaan media. Gerombolan wartawan gadungan di kota Bandung sampai kapan pun akan terus ada, mereka bagaikan hantu, tidak terlihat tetapi menakutkan, mereka sangat jelas merusak citra wartawan resmi, tetapi apa daya, kota Bandung masih menerima mereka, karena gerombolan wartawan gadungan ini hanya orang - orang yang salah jalan, walaupun pekerjaan wartawan gadungan hina dan menjijikan, mereka tetaplah manusia, yang harus memberi makan anak dan  isterinya, lagi - lagi hati nuranilah yang mendinginkan emosi para wartawan resmi kota Bandung.

Bagoes Rinthoadi

/02081976

Content Director, Creator, Journalist, Photographer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?