Mohon tunggu...
Agung Setiawan
Agung Setiawan Mohon Tunggu... Penulis - Pengurus Yayasan Mahakarya Bumi Nusantara

Pribadi yang ingin memaknai hidup dan membagikannya. Bersama Yayasan MBN memberi edukasi penulisan dan wawasan kebangsaan. "To love another person, is to see the face of God." http://fransalchemist.com/

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Catatan Sejarah Klenteng Tertua di Jawa Justru Ada di Belanda

6 Juni 2019   07:00 Diperbarui: 7 Maret 2020   16:32 371
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagi saya, sudah cukup menjadi alasan untuk menyukuri bahwa mayoritas bangunan fisik Cu An Kiong ini masih asli. Apalagi sejak awal, klenteng ini turut merawat keragaman bangsa ini. 

Sebagai tanda sudah berbaurnya antara masyarakat Tionghoa dan pribumi, setiap hari ulang Thian Siang Seng klenteng akan merayakan sejumlah pergelaran wayang kulit, klonengan dan gamelan. 

Salah satu sudut di Klenteng Cu An Kiong. | Dokumentasi Cynthia Iskandar
Salah satu sudut di Klenteng Cu An Kiong. | Dokumentasi Cynthia Iskandar

Lasem Sebagai Jendela NKRI
Di halaman depan klenteng, terdapat Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa Melawan VOC khususnya dalam periode 1740-1743. Monumen ini ingin menunjukkan fakta sejarah, bahwa sejak awal masyarakat keturunan Tionghoa bersekutu dengan masyarakat Jawa (pribumi) melawan penjajahan Belanda. 

Pada periode itu tersebut tokoh Souw Phan Ciang/ Khe Panjang, Tan Sin Ko/ Singseh, Oey Ing Kiat/ Raden Tumenggung Widyaningrat/ Bupati Lasem, Tan Kee Wie,Pakubuwono II, Amangkurat V, Patih Margono, Pangeran Mangkubumi, dll.

Di masa jayanya, Lasem adalah pusat ekonomi dengan terdapatnya dermaga yang kini sudah tidak ada lagi. Tidak hanya mendatangkan rejeki bagi masyarakat Tionghoa tetapi juga penduduk pesisir lain. Satu sama lain guyub dalam hidup bermasyarakat, ekonomi, bahkan bersama mengusir penjajah.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Kini klenteng yang sama masih berdiri di tengah masyarakat heterogen. Tidak ada lagi aktivitas dermaga, tetapi kegiatan niaga diwakili oleh raungan bunyi kendaraan berat yang melewati Jalur Pantura, tak jauh dari klenteng.

Jendela inkulturasi tidak hanya tampak di Klenteng Cu An Kiong, tetapi juga dari warisan budaya lainnya, yakni Batik Tulis Lasem. Bagian ini akan saya bahas di tulisan berikutnya. Bagi saya, perjalanan ke Lasem menjadi refleksi untuk melihat pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Kita beragam, berbeda satu sama lain, tetapi sejak awal sudah belajar untuk menghargai satu sama lain demi menjaga persatuan negara tercinta ini menuju bangsa besar yang disegani negara-negara lain.

Akhir kata saya ucapkan, "Selamat Merayakan Idul Fitri 2019 bagi admin dan Kompasianer yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin untuk semua." Bagi yang liburan dan memungkinkan, silahkan mampir ke klenteng ini sembari merenungkan arti penting persatuan bagi bangsa kita, terutama pasca Pemilu 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun