Mohon tunggu...
Zindagia Mutiyantami
Zindagia Mutiyantami Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Penyuka rasa strawberry

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Norbert Elias: Tata Krama dan Kesopanan dalam Teori Peradaban

28 September 2022   19:15 Diperbarui: 28 September 2022   19:16 247 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Saya lahir dan hidup di dalam keluarga yang sejak kecil mengajarkan saya menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa jawa. Lalu saya pindah ke Temanggung, dimana penggunaan bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Selain itu, saya juga diminta untuk menggunakan bahasa Jawa ketika berbicara dengan kakek dan nenek. Alhasil, ketika dirumah -karena saya tinggal bersama orang tua serta kakek dan nenek- saya mulai terbiasa menggunakan bahasa Jawa baik dirumah maupun diluar rumah ketika berbicara dengan yang lebih tua.

Berbeda dengan adik sepupu saya yang masih SD, karena pengaruh perkembangan teknologi -bahkan ibunya sendiri sudah memberikan ponsel pribadi- ketika berbicara dengan yang lebih tua, dia mengikuti gaya berbicara tokoh sinetron ataupun tayangan di Youtube, atau lebih tepatnya menggunakan bahasa gaul.

Menurut saya, pengalaman ini masuk kedalam contoh teori peradaban. Karena seperti penjelasan tentang teori peradaban, dimana pembentukan individu yang dianggap remeh ternyata berhubungan dengan tata-krama dan kesopanan. Dengan uraian pengalaman tersebut, membuktikan bahwa tata-krama tidak lagi penting di masyarakat, orang tua seakan menutup mata untuk mengajarkan bahasa yang baik kepada sang anak.

Ada beberapa sumbangan Norbert Elias untuk Sosiologi, diantaranya sosiologi figurasi, perubahan sosial, dan teori peradaban. Namun disini, penulis lebih berfokus untuk membahas mengenai teori peradaban.

Saya mengenal teori peradaban dari jurnal berjudul Sejarah Peradaban: Mengenalkan Norbert Elias Pada Sosiologi Indonesia (2011). Jurnal ini menjelasakan teori peradaban sebagai usaha pembentukan perilaku individual yang dipandang sepele dan remeh, ternyata sangat berhubungan dengan tata-krama, kesopanan, seperti membuang ingus, aturan di meja makan (tabble manner), hubungan seks, dan lain-lain. Elias mengkritik konsep peradaban Eropa yang merasa paling benar konsep peradabannya, yang kemudian seperti dijadikan patokan negara-negara untuk meniru konsepnya. Padahal pada kenyataannya, setiap negara sangat mungkin memiliki kebudayaan peradaban yang berbeda dengan negara lain. Masyarakat akan mengikuti peradaban atau akan meninggalkan peradaban.

Dalam pemahaman saya, teori peradaban menjadi proses menuju masyarakat yang beradab. Peradaban sangat berhubungan dengan tata-krama, norma, rasa malu, dan kesopanan. Maka dari itu, teori tersebut sangat relevan dengan contoh yang telah disebutkan diatas, bagaimana kesopaan berbicara atau berbahasa masih dianggap remeh oleh orang tua, dengan tidak mengajarkan penggunaan bahasa yang baik dan sopan. Karena Elias sendiri berfokus pada etika dan moralitas di masyarakat, bukan soal modernitas atau mengikuti kemajuan teknologi.

Teori peradaban diperkenalkan oleh Norbert Elias. Beliau merupakan sosiolog Jerman yang lahir di Breslau, Jerman pada 22 Juni 1897, dan meninggal di Amsterdam, Belanda pada 1 Agustus 1990. Dari sekian banyak karyanya, tulisan Elias yang paling dikenal yaitu Uber den prozeb der civilization (the civilizing process), diterbitkan di Jerman tahun 1939. Tokoh-tokoh yang terpengaruh oleh Norbert Elias, yakni Anthony Giddens, Pierre Bourdieu, Zygmunt Bauman, Michel Foucault, John Goldthrope, hingga Erving Goffman.

Referensi:

Novenanto, Anton. (2011). Sejarah Peradaban: Mengenalkan Norbert Elias Pada Sosiologi Indonesia. Vol. 24 No. 3: 183-191.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan