Mohon tunggu...
Zia Mukhlis
Zia Mukhlis Mohon Tunggu... Anak Ayam Yang Pengen Jadi Elang

Mahasiswa Universitas Al-Azhar- Pelajar Islam Indonesia- Forum Lingkar Pena- Komunitas Pelajar Aktif- Pikiran Yang Dipenakan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Refleksi 111 Tahun Buya Hamka

18 Februari 2019   13:17 Diperbarui: 18 Februari 2019   14:12 0 1 1 Mohon Tunggu...
Refleksi 111 Tahun Buya Hamka
Dokpri

Di tepian danau yang terbentuk dari bekas letusan gunung terdapat sebuah negeri yang bernama Maninjau. Pada tanggal 17 februari 1908 lahirlah seorang anak dari dunia perut ibunya yang gelap kepada dunia yang penuh dinamika dan kerumitan. Seorang anak yang ayahnya adalah ulama dan kakeknyapun juga ulama. Maka harapan yang besarpun terpatri pada kening anak ini agar menjadi ulama jua, tekad sang ayah saat menyaksikan bocah mungil yang baru menghirup udara segar dunia.

Kala umurnya bukan belia lagi ia dibawa kedua orangtuanya merantau ke negeri yang jauh. Negeri yang dikelilingi oleh gunung dan pebukitan sehingga udaranya lebih dingin dari Maninjau, Padang Panjang. Walau hidup dibawah asuhan sang ayah yang ulama namun anak ini terbilang anak yang nakal. Sering ia membuat onar hingga pitam ayahnya acap meledak. Suatu hari setelah pandai belajar bela diri silat ia tantang preman untuk adu kekuatan, "ongeh"nya membuat ia kena batunya, babak belur yang ia dapatkan.

Untuk belajar ia adalah orang yang paling anti dengan duduk memperhatikan guru menerangkan, ia lebih suka duduk di perpustakaan Zainuddin Labay El Yunusy, melahap buku yang diminatinya. Di sini ia merasa bebas membaca buku apapun, tak mesti membaca kitab-kitab seperti yang ada di sekolah ayahnya, Thawalib. Zaman itu belum boleh meminjam buku untuk dibawa pulang, angku Zainuddin pasti akan menolak dengan cepat. Namun bukan sifat anak ini yang cepat mengalah dan tak panjang akal. Dicarinya akal agar buku-buku itu bisa dilahapnya di rumah. Idepun terlintas dan segera ia menghadap angku Zainuddin, hendak membantu angku menyampul buku-buku ini di rumahnya sebab tak sempat baginya menyampul di perpustakaan karena sibuk membaca. Sempat membuat angku Zainuddin berpikir dan menimbang-nimbang dan akhirnya dibolehkan. Betapa girangnya anak ini dapat membaca buku di rumahnya.

Namun masalah belum selesai, di rumah telah menunggu sang ayah yang amat keras pada dirinya. Bisa dikata jiwa muda anak ini yang bebas terkukung oleh watak keras sang ayah yang besar keinginan menjadikan anak ini menjadi ulama. Membaca buku bukan pelajaran pasti akan membangkitkan pitam sang ayah jika sampai ketahuan. Beberapa hari sempat ia aman dari pengetahuan ayahnya, namun suatu malam ketika sedang terhanyutnya anak ini membaca roman Siti Nurbaya, terciduklah ia oleh sang ayah. Roman yang di tangan si anak langsung direbut bahkan di banting ke lantai.

Watak bebas anak ini selalu tak bersesuaian dengan watak keras sang ayah. Kejiwaan anak ini selalu diuji semenjak belianya. Saat sedang haus-hausnya ia akan kasih sayang orang tua, kedua orangtuanyapun bercerai. Batinnya menolak, dan untuk kali pertamanya ia menjawab perkataan ayahnya. Namun apalah yang diketahui oleh bocah kecil tentang adat yang memperceraikan orangtuanya.

Perasaan ingin bebas selalu terkukung oleh watak keras ayahnya. Pernah suatu hari kala si anak telah tumbuh remaja ia hendak untuk merantau ke tanah Jawa. Didengarnya pengetahuan di Jawa lebih maju daripada di kampungnya Minangkabau. Dengan modal nekat iapun kabur dari rumah, namun malang tak bisa ditolak, ketika sampai di ujung pulau Sumatera iapun terserang campak. Hampir mati ia oleh campak, dengan pertolongan Allah melalui pasangan suami istri ia diselamatkan.

Anak yang gagahpun tinggal nama, wajahnya bintik-bintik bekas campak. Pujaan hatinya yang selalu senang saat dikirimi surat oleh anak yang dahulunya gagah ini lari ketakutan melihat wajahnya, bahkan tak mengenalnya. Tak ada orang yang mau dekat dengannya, bahkan pernah saudara orangtuanya menghina wajahnya seperti kotoran kerbau yang kena hujan. Betapa remuk hatinya mendengarkan perkataan yang sangat kasar itu.

Tapi setelah sembuh total, niatnya untuk ke tanah Jawa masih belum padam. Kembali ia arungi kebebasan jiwanya yang memanggil. Kali ini beserta izin dari sang ayah ia merantau, harapan besar memenuhi dadanya untuk giat belajar di tanah Jawa dengan orang-orang besar. Masuklah ia pada pekumpulan Muhammadiyah dan Sarikat Islam (SI). Condongnya pada SI dan terpukau dengan retorika Cokroaminoto. Dan berkat nama ayahnya ia menjadi mudah untuk dekat dengan pujangga-pujangga zaman itu.

Dengan beriring waktu, kampungnya mulai disusupi paham PKI. Ayahnya kesulitan untuk bertindak sebagai ulama, murid-murid ayahnya mulai pandai melawan dan membatah. Hingga mengharuskan ayahnya berkunjung ke tanah Jawa hendak bertemu sahabat seperguruan di Makkah dulu, KH. Ahmad Dahlan. Anak ini diminta pulang untuk membantu sang ayah di kampungnya. Pinta ayah dikabulkan ia pun pulang.

Sesampainya di tanah kampungnya orang-orang mulai meliriknya sebab ia pandai berpidato, namun tak lama kekaguman orang padanya redup sebab orang tahu ia hanya pandai bercakap namun kosong ilmunya. Galau dan tertekan batinnya kembali, selalu ia mendapatkan penolakan dan cacian dari tanah kampungnya sendiri. Bercurah hatilah anak muda ini pada sang ayah, berharap mendapat dukungan dan pelipur hati nan luka malah dapat sebaliknya, sang ayah mengiyakan perkataan orang-orang. Ia dianggap masih belum mumpuni untuk berdakwah, seharusnya ia lebih giat belajar dari dulu dan mendalami kitab-kitab. Terbakarlah hatinya anak muda ini.

Esoknya dengan uang seadanya ia kabur kembali dari rumah ayahnya. Kali ini tujuannya bukan tanah Jawa, tapi tanah suci Makkah. Tak tahu akan bertemu siapa di Makkah yang penting tekatnya bulat untuk ke Makkah. Dan karena ia adalah anak ulama kenamaan pertolongan Allah datang kepadanya dari seorang dermawan. Terpenuhi hasrat belajarnya di Makkah, kitab apapun bebas ia kunyah-kunyah hingga terbesit pada hatinya untuk berlama-lama di Makkah sebab candu ilmu telah tumbuh pada hatinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x