Mohon tunggu...
Zen Siboro
Zen Siboro Mohon Tunggu... Freelancer - samosirbangga

Terkadang suka membaca dan menulis. Pencumbu Kopi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Merayakan Kesaktian Pancasila: George Floyd, Django Unchained dan Bahaya Rasisme di Indonesia

3 Juni 2020   00:20 Diperbarui: 3 Juni 2020   00:19 179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kita Indonesia Sumber: google.com (parokivianney.org)

Tindakan aksi yang disertai dengan penjarahan dan tindakan anarkis tersebut tidak bisa dipungkiri sebagai ekspresi kemarahan sosial masyarakat Minneapolis atas tindakan rasisme. Sama halnya saat kita di Indonesia harus melihat kenyataan gelombang massa di Papua dan beberapa daerah Timur Indonesia pada Agustus 2019 silam. Dimana aksi massa tersebut dipicu tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya.

Kejadian di Surabaya berbuntut panjang. Kerusuhan merebak di beberapa daerah Timur Indonesia. Mulai dari aksi demonstrasi, penutupan jalan, hingga aksi pengrusakan pun tak luput dari wujud emosi masyarakat Timur saat itu. Reaksi ini tentu saja muncul akibat dari pelecehan rasial yang berbunyi “Papua Monyet” hingga menjadi pemicu ketersinggungan masyarakat Timur Indonesia lainnya.

Seperti kita ketahui bersama bahwa mahasiswa Papua yang berdomisili di Asrama Kamasan Surabaya mengalami persekusi rasial pada 17 Agustus 2019. Persekusi tersebut diawali dengan adanya dugaan bahwa mahasiswa disana melakukan pelecehan terhadap lambang negara (bendera Merah Putih), yang ditemukan pada posisi terjatuh pada selokan di depan asrama. Kejadian yang berlangsung sejak 16 Agustus ini berakhir dengan kericuhan dan terdapat perlakuan rasial dalam bentuk verbal (cacian dengan menyebut “monyet” dan binatang lainnya).

Beberapa pihak diduga terlibat dalam peristiwa tersebut termasuk institusi Polri dan TNI serta bebelapa kelompok masyarakat lainnya. Dalam peristiwa ini Polisi menetapkan tiga orang tersangka yang proses hukumnya masih berjalan hingga saat ini. Para tersangka dituntut dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan juga tindakan diskriminasi ras.

Kita Indonesia Sumber: google.com (parokivianney.org)
Kita Indonesia Sumber: google.com (parokivianney.org)

Melihat kasus George Floyd yang baru saja terjadi di Amerika beberapa saat lalu tentu memberikan pelajaran berharga bagi kita. Secara khusus Indonesia yang memiliki berbagai corak budaya, warna kulit, ras, agama, dan golongan. Contoh kasus di Surabaya tahun lalu memberikan bukti konkret bahwa masyarakat kita masih memiliki sikap egosentris yang sangat tinggi.

Kita harus memiliki kesadaran apabila terjadi tindakan rasial terhadap saudara sendiri, baik oleh institusi, masyarakat sipil, juga dari kelompok masyarakat, sejatinya kita sedang merakit bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Kita harus sepakat sejak dini bahwa tindakan rasial adalah salah satu metode yang digunakan oleh penjajah pada masa kolonial untuk memecah belah bangsa Indonesia. Sehingga tindakan tersebut tidak boleh lagi kita wariskan dengan melakukan tindakan yang sama terhadap saudara sebangsa dan setanah air.

Tragedi konflik etnis yang sudah berulang kali terjadi di Indonesia harus menjadi pelajaran berharga. Kejadian George Floyd di Amerika sejatinya membuat kita mengingat kembali bahwa perbedaan yang kita miliki di Indonesia dapat menjadi pemicu perang saudara apabila sikap diskriminatif di Indonesia masih terus berlanjut. Kita lihat saja pada saat peristiwa rasial di Surabaya tahun lalu, dimana saudara kita yang menjadi pendatang di Papua merasa terancam dan dihantui rasa takut karena ulah sebagian orang di Surabaya.

Kita sebagai warga negara Indonesia juga harus berhenti membangun dan menyebarkan narasi bermakna provokatif, baik melalui verbal, media sosial, ataupun sikap personal. Sudah saatnya kita harus membangun narasi positif di tengah masyarakat, secara khusus di momen Pandemi seperti ini. Momen ini sejatinya mampu menjadi golden moment bagi kita untuk saling membantu sesama yang lebih membutuhkan tanpa memandang latar belakang sosial antara kita dengan orang lain.

Harapan kita tentu sama dalam memperingati "Hari Kesaktian Pancasila" kali ini, bahwa kita semua tentu tidak ingin tragedi Sampit, Ambon, Poso, dan berbagai daerah lainnya terjadi lagi untuk kedua kalinya. Kita semua tentu sepakat bahwa peristiwa 1998 yang banyak memakan korban termasuk etnis Tionghoa, juga tidak boleh terjadi kembali. Kita semua juga tentu sepakat bahwa negara dan pemerintah harus menunjukkan sikap yang lebih tegas dan adil terhadap siapapun yang melakukan tindakan rasial di Indonesia.

Perbedaan yang ada di Indonesia harus dimaknai secara sungguh-sungguh sebagai sebuah kekayaan yang tidak dimiliki negara lain. Tidak boleh ada perbedaan kelas etnis maupun golongan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sebab tidak menutup kemungkinan perbedaan yang ada menjadikan kita menjadi penjajah atas saudara sendiri, atau bahkan menjadi pembunuh atas saudara sendiri bila sifat egosentris tetap ada di masyarakat Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun