Mohon tunggu...
Zehra
Zehra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pencari Ilmu 🔎📚🖊

Fethetmeden önce asla pes etme 🌻

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Apakah Berteman Hanya dengan Sebaya?

20 Oktober 2021   18:14 Diperbarui: 20 Oktober 2021   18:17 79 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Rata-rata dari kita pasti memiliki teman yang sebaya ketika kecil maupun ketika dewasa karena ada hal yang spesial yang akan dirasakan ketika kita berteman dengan yang seumuran dengan kita akan banyak kecocokan kan bahkan bisa menjadi sahabat sejati. Dan tidak sedikit dari kita pasti memiliki teman yang tidak sebaya memiliki teman yang tidak sebaya memiliki dampak positif dan negatif hal negatifnya nya anak akan meniru bahkan menjadi sifat yang melekat sampai dia dewasa yang dihadiri dari teman di atasnya atau bahkan ketika dia memiliki teman yang tidak seumuran dengannya pasti dia akan merasa hebat yang dapat menyuruh tambahkan membully teman yang dibawah umurnya. 

Hal positif yang dapat diambil ketika memiliki teman yang tidak supaya adalah ketika kita ketemuan denganku umur yang di atas kita kita akan memiliki banyak wawasan menjadikan pribadi yang kuat dengan tekanan tekanan negatif menjadikan pribadi yang memiliki public speaking yang baik.

Ketika saya memasuki awal sekolah aliyah temen saya bercerita tentang pengalaman masa kecilnya. Dia menceritakan ketika dia berteman dengan teman yang tidak sebaya, menceritakan bahwa dia memiliki teman yang di atas umurnya bisa dikatakan dia dalam anak yang paling mudah di antara kelompok itu mah pada saat itu mereka bermain ke sawah teman yang diatas usianya sudah merokok cara diam-diam ganteng man yang di atas usianya memberikan dia sebatang rokok untuk mencoba sedikit awalnya dia mengalami batuk batuk karena belum terbiasa setelah itu teman saya tidak mau merokok lagi karena dia sudah tahu mah pada saat percobaan menghisap rokok. Selain itu teman saya memiliki banyak pengalaman yang dia dapatkan dari teman yang tidak seumuran dengannya yaitu wawasan yang luas akan pertemanan dan saling berbagi cerita. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kita juga memerlukan teman yang seumuran yang sesuai dengan kita karena apa jika kita memiliki temuan yang tidak seumuran di akan lebih banyak dampak positif nya karena teman yang tidak mulan dengan gitarnya salahnya di atas umur kita mereka akan mengajak kita untuk melakukan hal yang hanya diperbolehkan untuk seumuran mereka karena jika kita mengikuti yang mereka lakukan persiapkan mendapat tampak negatifnya kepada kita. Dan jika kita berteman dengan yang di bawah umur kita pasti kita akan semena-mena untuk menyuruh maupun mengambil yang bukan kita kita akan leluasa meni ndas dan memperlakukan semena-mena kepada anak yang di bawah umur kita dan cara berpikirnya juga pasti akan berbeda dengan yang seumuran dengan kita. 

Pentingnya memiliki teman yang sebaya adalah . Kita akan memiliki perasaan yang sama dan kesukaan yang sama dengan kita dan kita juga bebas bermain apapun yang sesuai dengan umur kita kita tidak takut untuk tidak mendapatkan perlakuan baik. Dan ketika kita memiliki temuan yang seumuran pasti akan saling berbagi sambil melengkapi misalnya kita menyelesaikan masalah sejarah bersama-sama. 

Salah satu fungsi yang paling penting dalam teman sebaya ini adalah anak menerima umpan balik tentang kemampuan-kemampuan mereka dari kelompok teman sebaya sehingga anak dapat mengevaluasi apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama atau lebih jelek dari yang dilakukan oleh teman-teman sebaya lainnya. Mereka menggunakan orang lain sebagai tolok ukur untuk membandingkan dirinya. Proses perbandingan sosial ini merupakan dasar bagi pembentukan harga diri dan gambaran diri anak. 

Bentuk perilaku sosial yang paling penting diterapkan pada anak usia dini pada tahun pertama, yakni untuk penyesuaian sosial yang memungkinkan anak dapat bergaul dengan teman temannya. Karena pada periode ini merupakan tahap perkembangan yang kritis, dimana sikap sosial dan pola perilaku sosial dibentuk.

 Secara spesifik, Hurlock (Ahmad, 2009: 139) mengklasifikasikan pola perilaku sosial pada anak usia dini ke dalam pola-pola perilaku sebagai berikut: (1) meniru, yaitu agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat anak kagumi. Anak mampu meniru perilaku guru yang diperagakan sesuai dengan tema pembelajaran, (2) persaingan, yaitu keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain. Persaingan ini biasanya sudah tampak pada usia empat tahun. Anak bersaing dengan teman untuk meraih prestasi, menunjukkan antusiasme dalam mengerjakan sesuatu sendiri, (3) kerja sama, mulai usia tahun ketiga akhir, anak mulai bermain bersama dan kooperatif, serta kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat baik dalam frekuensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain, (4) empati, seperti halnya simpati, empati membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain, tetapi disamping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiridi tempat orang lain. Relatif hanya sedikit anak yang dapat melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak akhir, (5) dukungan sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak dukungan dari teman-teman menjadi lebih penting dari pada persetujuan orang-orang dewasa. (6) membagi. Anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan ialah membagi miliknya, terutama untuk anak-anak lainnya. Pada momen-momen tertentu, anak juga rela membagi makanan kepada anak lain dalam rangka mempertebal tali pertemanan mereka dan menunjukkan identitas keakraban antar mereka, (7) perilaku akrab. Anak memberikan rasa kasih sayang kepada guru dan teman. Bentuk dari perilaku akrab diperlihatkan dengan canda gurau dan tawa riang diantara mereka. Kepada guru, mereka memperlakukan sebagaimana layaknya pada orang tua mereka sendiri, memeluk, merangkul, digendong, memegang tangan sang guru, dan banyak bertanya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan