Mohon tunggu...
zaldy chan
zaldy chan Mohon Tunggu... ASN (Apapun Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

NIK | "Speak Your Mind" [1]

27 Mei 2019   07:15 Diperbarui: 27 Mei 2019   07:16 0 19 6 Mohon Tunggu...
NIK | "Speak Your Mind" [1]
Illustrated by. pixabay.com

"Salam. Mas, Hari sabtu bisa temui Nunik di Pustaka Daerah? Mau, ya? Nik tunggu! Jam sepuluh. Wassalam. Nunikmu"

Kubaca lagi tulisanmu. Kulipat kembali kertas itu, kumasukkan lagi ke dalam amplop putih. Kusimpan dalam tumpukan suratmu. Kemaren, usai shalat jum'at. Suratmu diserahkan ibu kost padaku. Saat aku pulang sebentar dari rental komputer milik temanku. Aku tahu, tepat pagi sabtu ini. Empat minggu kau juga aku tak bertemu.

Belum lagi jam sepuluh, Aku sudah di Pustaka Daerah. Berbatasan dengan Museum Adityawarman. Berseberangan dengan Taman Budaya Padang. Juga kampus Fakultas Hukum Universitas Andalas. Dikenal dengan sebutan "Kampus Merah". Terletak di jalan Pancasila. Seratusan meter dari Pantai Padang.


Aku tak masuk pustaka. Memilih duduk di gerbang. Ada kantin kecil menjual makanan juga minuman. Hanya ada dua orang pelanggan. Pemiliknya tersenyum, sudah lama mengenalku. Aku membeli rokok dan meminta segelas kopi. Tak lama. Segelas kopi ditaruh di hadapku. Pemilik kantin duduk di depanku.


"Cari bahan skripsi, Bang?"

"Gak!"

"Hah?"

"Mau pacaran!"

"Pantas!"

"Kenapa?"

"Kulihat pacar Abang, udah duluan!"

"Eh? Udah lama?"

"Kira-kira setengah jam!"

"Oh!"

"Mau masuk pustaka? Biar kusimpan dulu, kopinya!"

"Gak! Aku ngopi dulu!"

Pemilik kios berlalu. Kureguk kopiku sedikit. Terasa panas. Kunyalakan sebatang rokok. Kunikmati asapnya. Aku mengingatmu. Sebulan tak bertemu. Tiga suratmu tak kubalas. Berkali telfonmu tak pernah bisa kuangkat. Kau tak bisa bicara denganku. Karena aku tidak di rumah.

"Udah lama, Mas? Kenapa tak masuk?"


Itu suaramu. Aku terkejut. Kau sudah berdiri di sampingku. Menyentuh bahuku. Kau duduk di sisi kananku. Meraih tangan kananku, menaruhnya di dahimu. Kuusap kepalamu dengan tangan kiriku. Itu jadi ritual wajib bagimu saat bertemu. Aku lupa, entah kapan kebiasaan itu dimulai. Aku tersenyum menatapmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3