Mohon tunggu...
Zabidi Mutiullah
Zabidi Mutiullah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Concern pada soal etika sosial politik

Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Selanjutnya

Tutup

Politik

Diplomasi Karambol "Rambut Putih" Ala Jokowi

28 November 2022   09:26 Diperbarui: 28 November 2022   09:30 390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Anda tahu karambol..? Itu loh permainan mirip biliar. Tekhnik paling sulit adalah pantulan. Yaitu cara tembak sasaran tidak secara langsung. Tapi lewat benturan. Misal tujuan ada di pojok kanan. Striker atau alat pukulnya tidak langsung diarahkan ke kanan. Tapi justru ke kiri. Namun bisa pula ke depan atau samping. Tergantung mana yang lebih punya peluang. Setelah terpantul, baru kena obyek yang di target.

Di YouTube, ada seorang pemain sangat ahli dari India. Hingga dapat julukan Indian Carrom King. Saya sering nonton. Pada salah satu triknya, dilepas beberapa biji karambol secara acak. Lalu The King minta penonton menunjuk kelubang mana biji hendak dimasukkan. Menariknya, The King sanggup melakukan sesuai arah dimaksud. Padahal sangat sulit. Hebat memang.

Dibidang diplomasi, Presiden Jokowi punya keahlian setara Indian Carrom King. Pilihan diksi dan kalimat yang dikeluarkan untuk mengirim sebuah pesan politik lewat pantulan seperti dilakukan The King, sangat efektif. Tepat sasaran tak meleset sedikitpun. Hebatnya lagi, orang yang dituju tak sadar. Bahwa dirinya telah kena tembak presiden Jokowi.

Saat acara G20 di Bali, salah satu pesan yang ingin disampaikan Jokowi buat dunia luar adalah soal keamanan di Indonesia yang sangat baik. Cuma tak secara langsung. Namun dengan cara pantulan. Yaitu ajak jalan-jalan para kepala negara peserta masuk hutan mangrove. Sebuah acara yang sebenarnya mengandung resiko tinggi. Namun ternyata sukses luar biasa. Bahkan seekor nyamukpun tak sanggup ganggu aktifitas itu.

Kali ini, lewat pernyataan “rambut putih” saat berlangsung acara Gerakan Nusantara Bersatu di stadion GKB Sabtu kemarin, Pak Jokowi kembali melakukan strategi sejenis. Yakni pantulan. Saya sebut dengan istilah Diplomasi Karambol Jokowi. Mengeluarkan satu pernyataan yang diarahkan kepada salah satu capres, namun punya implikasi terhadap masalah lain. Dimana ini juga merupakan target Jokowi.

Begitu baca dan dengar istilah “rambut putih”, orang-orang spontan berimajinasi sebagai dukungan politik. Khususnya kepada capres Ganjar Pranowo. Ya tak bisa disalahkan juga. Sebab rambut putih memang identik dan sangat pas kalau dihubungkan dengan Gubernur Jawa Tengah itu. Malah sudah jadi trade merk. Begitu ingat Ganjar, yang terbayang pertama kali ya memang rambut putih.

Padahal, dibalik “rambut putih” Jokowi tersembul maksud lain. Bukan hanya soal Ganjar. Apa itu..? Pak Jokowi sebenarnya ingin memancing reaksi dari para lawan politik. Bahwa rambut putih yang bersifat fisik itu tidak bisa dijadikan ukuran melihat kemampuan atau kualitas seorang pemimpin. Parameter yang paling representatif adalah hasil kerja. Bukan bentuk dan kondisi tubuh. Apalagi warna rambut.

Saya yakin. Pak jokowi bukannya tak tahu soal demikian. Bahkan beliau sangat-sangat paham. Tapi ya itu tadi, demi menarik keluarnya reaksi, tetap saja dimunculkan. Dan ternyata memang betul. Strategi pantulan karambol Jokowi efektif. Tanggapan langsung keluar dari salah seorang tokoh oposisi. Tak sadar tokoh ini. Bahwa dirinya telah kena sasaran target Sang Presiden.

Adalah Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra yang kena pancing “rambut putih” Jokowi. Disarikan dari Kompas.com edisi 27/11/2022. Dengan penuh jumawa Herzaky berpendapat, pemimpin itu dilihat dari rekam jejak, gagasan, ide dan karyanya. Juga solusi yang ditawarkan atas berbagai permasalahan yang menimpa bangsa dan negara. Bukan dari penampilan fisik.

Tanggapan Herzaky sontak mengingatkan saya pada kebiasaan para lawan dan pembenci Jokowi. Persis seperti penjelasan Herzaki. Ketika mereka melakukan koreksi atau kritik kepada Presiden kita itu, yang dijadikan sasaran tembak bukan kinerja. Tapi mengarah pada olok-olok fisik. Contoh yang sangat beken dan sering terucap dari mulut mereka adalah “plonga-plongo”.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun