Mohon tunggu...
Yusran Darmawan
Yusran Darmawan Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Tinggal di Pulau Buton. Belajar di Unhas, UI, dan Ohio University. Blog: www.timur-angin.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Epos Cinta di Perang Surabaya

21 Agustus 2015   07:47 Diperbarui: 21 Agustus 2015   07:47 2568
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="poster film (foto: battleofsurabaya)"]

[/caption]

Suatu hari Musa tertangkap akibat pengkhianatan dari Danu, seorang anggota Kipas Hitam yang memata-matai perjuangan tentara Indonesia untuk kepentingan tentara Inggris. Ia ditahan di penjara Kali Sosok, Surabaya. Bersama beberapa tentara republik, Yumna datang membebaskan Musa. Ia membawa pedang samurai dan menebas para anggota Kipas Hitam. Gerakannya lincah. Sayangnya, ia tewas dalam serangan itu. Mendung duka langsung terasa di saat perang tak lama lagi akan berkobar.

Di sisi lain, perundingan dengan Inggris gagal mencapai kata sepakat. Para pemimpin perjuangan di Surabaya yakni Residen Sudirman, Soemarsono, Moestopo, dan Bung Tomo lalu menyatakan perang. Mereka lebih memilih mati ketimbang kembali dijajah tentara Inggris. Melalui radio, Bung Tomo langsung membakar semangat semua orang, “Selama banteng-banteng Indonesia berdarah merah yang mampu membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka kita tidak akan menyerah,” teriaknya.

Perang lalu berkobar. Rakyat Surabaya bangkit dan menyabung nyawa di medan laga. Sebanyak 16.000 orang telah gugur dalam satu perang besar yang mengerikan. Dari pihak tentara sekutu, sebanyak 1.500 orang juga tewas. Perang merenggut banyak nyawa, memisahkan banyak bapak dengan anaknya, memisahkan ibu dan putranya, lalu menyisakan banyak perempuan yang hanya bisa meratapi keluarganya.

Musa ikut meratap. Ia kehilangan banyak orang dalam kehidupannya. Ia juga diderasa sedih kala membaca surat-surat para prajurit kepada keluarganya. Berhadapan dengan puing-puing Kota Surabaya, ia hanya bisa tertegun sembari meneteskan air mata. Perang memang kejam. Tak ada kemenangan di situ. Yang ada adalah kegetiran!

***

KISAH dalam film ini tak hanya heroik, tapi juga mengharukan. Sebagai penonton awam, saya larut dalam aliran kisah yang sangat menyentuh hati. Saya bisa merasakan bagaimana perang menyisakan getir saat masuk dalam pengalaman beberapa sosok seperti Musa dan Yumna.

Biasanya, film-film bertema perjuangan merebut kemerdekaan selalu mengangkat sisi heroik dan menjadikan perang sebagai panggung kehebatan bagi para militer. Film ini tak demikian. Film animasi ini memotret sisi paling kelam dari setiap perang, sehingga yang tersisa adalah kehancuran yang mengoyak nurani.

Film ini tak terjebak dalam logika hitam putih. Semua pihak memiliki sisi baik dan sisi buruk. Seorang tentara Inggris bernama Capt John Wright ternyata punya trauma ketika anaknya ditembak tentara Nazi. Saat menginterogasi Musa, ia mengeluarkan senjata itu sembari berkata kalau dirinya tak ingin menggunakannya. Saat Musa bebas, ia sempat menemui tentara ini sekarat, tapi ia justru tak membunuhnya. Hal yang sama dilakukan tentara ini saat berada dalam satu momen ketika senjata telah diarahkan ke Musa. Ia memilih membebaskan bocah itu.

Sosok lain yang juga baik adalah Yoshimura. Ia militer Jepang yang bersimpati pada republik. Ia pula yang menghadiahkan topi ala Jepang kepada Musa yang dikenakan di mana-mana. Yoshimura tewas di tangan tentara Inggris saat sedang berjalan di satu ruas jalan. Sebelum mati, ia masih sempat menyebut anaknya bernama Keiko yang berada di Jepang. Belakangan, sosok Keiko muncul, yang ternyata bekerja di PBB, serta aktif memperjuangkan diakuinya kemerdekaan Indonesia.

Film ini juga mengangkat beberapa perkumpulan rahasia yang tumbuh pada masa itu, salah satunya adalah Kipas Hitam. Saya pernah membaca kisah perkumpulan Kipas Hitam ini dalam buku Kuasa Jepang di Jawa yang ditulis Aiko Kurasawa. Dalam buku itu, Kipas Hitam disebut sebagai organisasi rahasia yang didirikan oleh Hitoshi Shimizu, pemimpin gerakan propaganda Jepang (sendenbu), dengan tujuan untuk membangkitkan spirit bangsa Asia demi menumbangkan Eropa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun