Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Mencermati Kekuatan dari Polling dan Opini Publik

19 Januari 2019   22:55 Diperbarui: 20 Januari 2019   14:47 4151
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Opini publik merupakan ekspresi isu-isu atau wahana kejadian/dinamika sosial, ekonomi dan politik (jadi bukan hanya terjadi semasa ada kampanye atau menjelang dan saat berlangsungnya suatu pemilihan kepala negara atau kepala daerah).  

Ingat peristiwa yang memakan waktu 5 (lima) tahun atas peristiwa e-mail Prita Mulyasari dalam kasus ketidakpuasan layanan suatu rumah dakit, yang menyebabkan penulis e-mail itu dijatuhi hukuman penjara? Dengan spontan masyarakat menyatakan pendapat di berbagai media dengan mengumpulkan "Koin untuk Prita".

Pendapat spontan demikian yang difasilitasi berbagai media secara luas sebenarnya termasuk sebagai kajian opini publik. Tentulah kejadian tersebut lain pendekatannya, tanpa survei ataupun polling.

Polling dan Opini

John Locke (1632-1704), ahli filsafat, pendiri politik liberal, mengatakan bahwa, "Hukum berpendapat, memberi opini, merupakan faktor reputasi tertinggi bagi sesuatu isu atau kejadian akan pembentukan opini bagi masyarakat  yang menjadi kekuatan mempengaruhi, termasuk memberi acuan salah atas tindakan dan kelaikan norma-norma sosial."

Jurgen Habermas (1929), ahli filsafat teori kritis, berpendapat bahwa, "Pada waktu terjadinya isu atau pra-kejadian penting lainnya, suasana publik menentukan "apa" yang perlu dibahas sehingga membentuk suatu pemikiran, opini, tertentu. Dalam suasana publik yang ikut terlibat kejadian itu timbulah debat sosial, tanpa memandang tingkat sosial masyarakat."

Tokoh yang pertama melalukan polling adalah George Gallup (1901-1984) father of American polling".  Di tahun 1935, dia membentuk the American Institute for Public Opinion. Pendirian institusi ini karena keinginan-tahunya bagaimana ibu mertuanya akan dapat menang atau tidak, untuk menjabat kursi dalam suatu pemilihan daerah di Negara bagian Iowa.

Ibu mertuanya menghadapi incumbent yang sangat populer waktu itu. Gallup memberikan arahan pada ibu mertuanya, dan meskipun perkiraan orang kebanyakan, ibu ini bakal dikalahkan; berkat ketekunan Gallup, serta memberi arahan pada konstituennya bahwa bisa menang; itulah yang terjadi! Kejadian tersebut merupakan prediksi yang tepat di antara banyak polling selanjutnya di masa depan. Gallup is the founder of modern polling.

Daftar pertanyaan polling harus disusun dengan penuh kecermatan, dan dituliskan dalam kalimat yang jelas. Sample yang akan ditanyanya harus ditentukan secara acak. Responden dapat dihubungi secara hitungan biaya yang paling cost-efficient.

Pengumpulan jawaban polling harus dicermati agar betul menjelaskan jawaban yang diberikan dan agar ditabulasi secara akurat. Polling publik yang mengikuti disiplin demikian hampir selalu memberikan prediksi yang mendekati tepat.

Polling merupakan komponen yang tidak dapat diabaikan sewaktu akan berjalanannya kampanye pemilihan; karena dari analisis hasil polling kandidat dan konsultan, tim pemenangan, dapat segera mengambil tindakan strategis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun