Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Dosen

Hakekat manusia adalah memiliki rasa ingin tahu. Semakin tinggi rasa ingin tahu manusia semakin berkualitaslah hidupnya. Karena melalui rasa ingin tahu, maka banyak misteri hidup bisa dibuka.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Silent is Gold" Tidak Berlaku dalam Dunia Politik

12 Oktober 2018   08:54 Diperbarui: 12 Oktober 2018   13:11 454 1 1
"Silent is Gold" Tidak Berlaku dalam Dunia Politik
https://nasional.kontan.co.id

Peribahasa kuno "Silent is Gold" nampaknya masih sangat kontektual menghadapi dinamika perubahan, perkembangan di era 4.0 yang penuh dengan disrupsi, dan selalu diidentikan dengan generasi atau era milenial dan serba digital minded.

Diam adalah emas nampaknya menjadi salah satu efektif menghadapi situasi yang bergejolak tanpa arah dan cenderung turbulent dan penuh ketidakpastian, kalaupun ada kepastian maka jangka waktunya sangat pendek. Nyari ilmu ramalan semakain berantakan karena tak mampu menjawab apa yang akan terjadi.

Tapi pameo "diam adalah emas", nampaknya tidak berlaku dalam dunia politik saat ini. Sebab kalau diam sama saja dengan bunuh diri, akan masuk lobang dan kejeblok alias akan kalah dalam menghadapi "lawan politik".

Dalam dunia politik nampaknya tidak boleh diam tetapi harus berteriak disana sini, kesana kemari. Bahkan tidak cukup hanya berteriak saja, musti memakai pengeras suara agar teriakannya semakin didengar oleh banyak orang. Bukan hanya memakai satu pengeras suara, tetapi beberapa pengeras suara dan kalau perlu pengeras suaranya harus tinggi-tinggi supaya bisa menjangkau banyak orang.

Cukupkah dengan permainan pengeras suara saja? Oh, tunggu dulu! Masih ada lagi, yaitu mengerahkan orang untuk sama-sama berteriak menyampaikan pesannya. Tidak hanya beberapa orang saja, tetapi banyak orang bahkan jumlahnya menjadi "massa" yang melakukan ritual berjalan bersama melintasi jalanan panjang, sambil berteriak-teriak menggunakan banyak pengeras suara dan terus melakukannya secara rutin dan tersu menerus. Yang terakhir ini banyak ditemui dalam masa adanya kontestasi politik baik dilevel daerah maupun level nasional.

Tidak ada diam dalam dunia politik. Semua yang ada dalam arak-arakan politik harus siap dan mampu untuk teriak dan berteriak. Dunia politik selalu diwarnai oleh "kegaduhan" dan "kehebohan" dan "arak-arakan" dijalanan, dilapangan.

Disana akan dan banyak orang, baik yang satu tujuan maupun yang tidak satu tujuan karena saking terbukanya sebuah arak-arakan. Wajarlah kalau dalam dunia politik sangat potensial dan rentan terjadinya gesekan, benturan, bahkan konflik hingga tawuran diantara orang-orang yang terus berteriak.

Inilah gambaran arena politik yang nyaris tidak ada suasana diam atau berdiam diri. Jualan politik selalu diwarnai dengan kemampuannya berteriak agar tujuannnya bisa tercapai. Kesan kuatnya, semakin besar massa teriakkan yang dilakukan dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu maka tujuan dan target politiknya akan tercapai. Dan dengan demikian, apapun cara dan strategi akan dilakukan untuk mengoalkan target politiknya.

Apabila Anda termasuk tipe orang yang pendiam, nampaknya Anda tidak cocok masuk dalam dunia politik yang penuh dengan teriakan dan hiruk pikuk serta rajin turun kejalan dan siap untuk bergesek dan berbenturan dengan siapa saja.

Bagaimana dengan dunia lain? Maksudnya adalah dalam dunia kerja atau duniaa organisasi korporasi? Tapi, pertanyaannya apakah ada perusahaan atau pekerjaan yang merekrut orang untuk hanya diam saja? Atau merekrut karyawan yang tugas pokoknya adalah berteriak-teriak?

Dan pada tataran pengembangan kepribadian dan potensi diri, apakah sikap diam itu lebih baik atau lebih banyak buruknya untuk sebuah keberhasilan?

Ada sebuah kisah legendaris, yang mungkin banyak orang sudah tahu, tentang bagaimana seorang tokoh yang karena mengambil sikap diam dan berdiam diri, dia selamat dari sebuah malapetaka atau kematian dalam sebuah kotak.

Nama tokoh ini adalah Henry Weiss yang telah mengubah namanya menjadi Houdini, seorang yang sangat terkenal dan dikenal sebagai ahli meloloskan diri dari berbagai perangkap. Apapun jebakan dia mampu melewatinya dengan mulus, walaupun penuh dengan ketegangan. Apakah jebakan tali, jebakan pintu sel, atau bahkan jebakan borgol sekalipun dia mampu lolos.

Kisahnya terkenalnya terjadi, suatu kali saat berada di penjara kecil bernama British Isles, ia kesulitan mengutak-ngatik kunci sel tersebut. Padahal seperti biasanya, hanya dalam waktu tiga puluh detik ia mampu membuka kunci selnya dan lolos dari dalamnya. Tapi kali ini sungguh lain dan berbeda, dia tidak bisa membuka pintu selnya. Apa yang terjadi pada Houdini?

Ternyata seorang tokoh inipun mulai merasa kelelahan, pikirananya mulai frustrasi, dan akhirnya dia sampai pada tahap hopeless, ya dia putus asa.

Dalam keputusasaannya, dia memutuskan untuk tidak lagi berbuat apa-apa, dan tidak ada lagi cara untuk membuka selnya. Houdini memutuskan untuk berdiam diri. Kemudian, Houdini menyandarkan diri ke pintu selnya. Tapi,anehnya, pintu itu segera terbuka! Karena ternyata, pintu selnya tidak terkunci!

Kisah terkenal ini memberikan pesan yang sangat kuat, mendasar, mendalam bahwa pada saat seseroang mampu berdiam diri, ia justru menemukan penyelesaian masalahnya. Sebab, sangat mungkin apabila Houdini panic, dan berteriak-teriak bahkan mungkin mulai menyesali segalanya, dan kalau bisa mencari kambing hitam, maka dia akan mati didalam sel itu.

Harus difahami bahwa hanya dalam situasi berdiam diri menemukan ketenangan, kedamaian dan pikiran serta hati dan semua psikis akan bekerja dengan maksimal untuk menemukan sesuatu yang dicari, bisa menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.

Berdiam diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan hati, pikiran bahkan jiwanya untuk memilih sesuatu yang ada manfaatnya bagi dirinya sendiri dan terlebih bagi orang lain dan lingkungan yang dihadapinya. Hasil berdiam diri selalu berefek luas bagi lingkungannya.

Berdiam diri menyangkut pengendalian sikap seseorang. Dan sikap akan mempengaruhi perilaku, dan perilaku akan sangat penting untuk menentukan hasil yang akan dicapai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2