Mohon tunggu...
Yumahest
Yumahest Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

CEO Penerbit Halim Pustaka Media. Wattpad, KaryaKarsa, Kaskus, Kwikku, gwp.id, Storial: @yumahest IG: @yumahest_writer & @yumahest

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Modal Nekat [Part 1 - Masa SMP]

15 Mei 2019   23:34 Diperbarui: 17 Mei 2019   08:55 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

"Kecewa dan menyesal memang selalu di akhir, tetapi bukan menjadi tanda berakhirnya sebuah mimpi."
-------------------------------

Virus malas mungkin saat ini bersorak-sorai, pun juga waktu yang hanya bisa menonton karena telah berlalu. Tak bisa diulang.

Bagiku, menangis merupakan cara terbaik untuk meluapkan apa yang kurasakan saat ini. Walau sebatas melepas beban dan melupakan luka yang baru saja kudapatkan pagi ini.

Tepat setelah berita menyakitkan yang keluar dari mikrofon itu masuk ke gendang telingaku, seolah pedang menghunus dadaku detik itu juga. Sesak. Tangisan pun pecah, membelah lautan kesunyian pagi itu. Tangisanku tak terlalu kuat, tapi dapat dipastikan seluruh teman sekelasku mendengarnya.

Berita itu mungkin berita pertama yang tertulis di lembar sejarahku dalam menggapai mimpi. Bukan masalah serius, hanya pengumuman peringkat kelas. Dan peringkatku menurun.

Isak tangis tak bisa kuhentikan kala itu, sebab peringkatku sebelumnya direbut oleh orang lain. Aku tak bisa mempertahankannya. Tapi aku bersyukur, karena dengan itu, aku tahu sulitnya berjuang dan mempertahankan, juga akan membuatku lebih kuat menjalani pahitnya perjuangan.

Bulir-bulir air mata masih membasahi pipiku saat kepala sekolah menyuruh siswa-siswinya kembali ke kelas masing-masing. Tiba-tiba Nikma memelukku, mengelus pundakku dan berusaha menghentikan isakanku.

Aku hanya diam.

Setelah bel pulang berbunyi dan hanya menyisakan aku dan Nikma di kelas, aku menceritakan semuanya kepada Nikma tentang ketakutan yang sedari tadi menggelayutiku.

"Nik, aku takut dimarah Mama. Aku takut kalau Mama gak ngizinin aku daftar ke SMA Unggulan." Air mataku kembali terjun bebas. Nikma menghapusnya dengan ibu jari miliknya.

"Udah, gak usah nangis, Hes. Nanti coba bujuk Mamamu aja deh. Insyaallah diizinin." Nikma mencoba menenangkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun