Mohon tunggu...
Ayu Mahesti
Ayu Mahesti Mohon Tunggu... Penulis

Gadis pecinta literasi. CEO Penerbit Spekta.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Modal Nekat [Part 1 - Masa SMP]

15 Mei 2019   23:34 Diperbarui: 17 Mei 2019   08:55 0 0 0 Mohon Tunggu...

"Kecewa dan menyesal memang selalu di akhir, tetapi bukan menjadi tanda berakhirnya sebuah mimpi."
-------------------------------

Virus malas mungkin saat ini bersorak-sorai, pun juga waktu yang hanya bisa menonton karena telah berlalu. Tak bisa diulang.

Bagiku, menangis merupakan cara terbaik untuk meluapkan apa yang kurasakan saat ini. Walau sebatas melepas beban dan melupakan luka yang baru saja kudapatkan pagi ini.

Tepat setelah berita menyakitkan yang keluar dari mikrofon itu masuk ke gendang telingaku, seolah pedang menghunus dadaku detik itu juga. Sesak. Tangisan pun pecah, membelah lautan kesunyian pagi itu. Tangisanku tak terlalu kuat, tapi dapat dipastikan seluruh teman sekelasku mendengarnya.

Berita itu mungkin berita pertama yang tertulis di lembar sejarahku dalam menggapai mimpi. Bukan masalah serius, hanya pengumuman peringkat kelas. Dan peringkatku menurun.

Isak tangis tak bisa kuhentikan kala itu, sebab peringkatku sebelumnya direbut oleh orang lain. Aku tak bisa mempertahankannya. Tapi aku bersyukur, karena dengan itu, aku tahu sulitnya berjuang dan mempertahankan, juga akan membuatku lebih kuat menjalani pahitnya perjuangan.

Bulir-bulir air mata masih membasahi pipiku saat kepala sekolah menyuruh siswa-siswinya kembali ke kelas masing-masing. Tiba-tiba Nikma memelukku, mengelus pundakku dan berusaha menghentikan isakanku.

Aku hanya diam.

Setelah bel pulang berbunyi dan hanya menyisakan aku dan Nikma di kelas, aku menceritakan semuanya kepada Nikma tentang ketakutan yang sedari tadi menggelayutiku.

"Nik, aku takut dimarah Mama. Aku takut kalau Mama gak ngizinin aku daftar ke SMA Unggulan." Air mataku kembali terjun bebas. Nikma menghapusnya dengan ibu jari miliknya.

"Udah, gak usah nangis, Hes. Nanti coba bujuk Mamamu aja deh. Insyaallah diizinin." Nikma mencoba menenangkan.

Aku mengangguk.

"Ya udah, Hes. Ayo pulang."

Aku berdiri. Namun tetap mengunci mulut rapat-rapat.

"Mau kuantar?" Nikma menawari.
Aku menggeleng dengan cepat, "Gak usah, Nik. Ntar ngerepotin. Aku bisa pulang sendiri kok."

***

Sesampainya di rumah, aku berjalan gontai dibalut wajah memelas, berharap Mama tidak akan memarahiku. Kuceritakan perihal pengumuman tadi siang dan juga peringkatku yang menurun. Alhasil, Mama benar-benar marah. Aku tahu, Mama pasti kecewa. Karena aku pun merasakannya.

Seharian aku mengurung diri di kamar, pikiranku kalut. Di atas kasur kubaringkan tubuh mungilku, cairan bening masih mengalir di pipi. Sungguh pengalaman buruk yang kurasakan untuk kali pertama. Gagal. Bukan hanya gagal mempertahankan peringkat dan nilainya, tetapi juga gagal membahagiakan Mama. Aku menyesal telah menganggap enteng saingan-sainganku di kelas. Tepatnya pada hari ini, hari di mana hasil ujian seminggu yang lalu diumumkan. Dan peringkatku menurun.

Rencananya, aku ingin melanjutkan pendidikanku ke SMA Unggulan yang berada di kota, tapi Mama bilang bahwa akan diizinkan jika peringkatku bertahan. Syukur-syukur naik, yang penting tidak menurun. Kata Mama, kalau peringkatku menurun, aku tidak diperbolehkan mendaftar di sekolah itu. Entah apa alasannya. Intinya tidak diizinkan kalau nilaiku sampai anjlok.

Dulu, saat kelas delapan, aku mampu menyabet peringkat tiga di kelas, tetapi kini, saat nilai semester terakhir yang paling kuharapkan malah merosot menjadi peringkat empat. Padahal nilai yang dibutuhkan hanya sampai semester lima. Walau hanya turun satu tangga, itu sangat berarti buatku.

Setelah mengumpulkan keberanian, dan membulatkan keputusan untuk menanyakan kepada Mama perihal diperbolehkan atau tidak untuk mendaftar ke SMA Unggulan. Kuturun dari kasur dan bergegas mencari Mama. Berharap Mama akan mengabulkan permintaanku. Jika tidak, aku akan membujuk dan merayunya, dan akan menerima risiko apa pun nantinya.

"Ma, izinin Hesti buat coba daftar ke SMA Unggulan, ya, Ma. Kalau Hesti gagal, terserah Mama deh, mau sekolahin Hesti di mana."

Mama tetap teguh pada keputusan awal kalau aku tidak boleh mendaftar jika nilai maupun peringkatku turun.

Aku tak menyerah begitu saja, kulanjutkan memohon dengan tampang memelas, supaya permintaanku dituruti.

"Ma, bolehin Hesti daftar, ya?" Rengekku dengan kedua telapak tangan mengatup, memohon seperti anak kecil minta dibelikan permen.

Mama menghela napas gusar, sesaat kemudian membuka mulutnya.

"Oke, boleh." Ucapannya berhenti sejenak, "Tapi kalau kamu gak lulus seleksi, kamu harus pilih sekolah di desa. Terserah kamu mau ke mana," tutur Mama.

Aku refleks mengangguk dengan cepat tanda menyetujui persyaratan dari Mama. Seulas senyum mengembang, lalu kupeluk Mama erat-erat sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali.

***

Matahari siang ini begitu menyengat kulit. Setelah Mama merestui, kini aku sudah berada di SMA Negeri 3 Unggulan Kayuagung. Aku kemari ditemani Papa yang akan membantuku mendaftar.

Dari kota Palembang ke kota Kayuagung kurang lebih memakan waktu tiga jam perjalanan jika ditempuh menggunakan roda empat. Cukup jauh dari rumahku. Dari rumahku ke kota Palembang saja kurang lebih dua jam perjalanan jika ditempuh dengan speedboat.

Perjalanan yang melelahkan. Tapi rasa lelah seketika lenyap saat kulihat tulisan nama sekolah itu di gerbang. Sangat menggetarkan jiwa.

Paginya, aku menginjakkan kaki ke area sekolah untuk mendaftar. Lapangan yang begitu luas dan cukup jauh untuk sampai ke gedung serbaguna membuat napas tersengal-sengal.

Sembari menunggu dipanggil, aku duduk di ruang itu. Merapalkan doa demi menghilangkan ketakutanku. Takut jika ada berkas yang kurang. Walau kutahu, sebenarnya sudah memenuhi persyaratan. Tapi tak bisa dimungkiri, jantungku tetap saja berdegup kencang. Cemas.

"Hesti Olivia." Namaku dipanggil.
Sejenak kuhirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian menghampiri arah suara.

"Hesti Olivia, ya?"
"Iya, Bu." Aku mengangguk.
"Oh, begini, Hes. Nilai raport-mu lulus. Hesti mau ambil jurusan apa?"
"IPA, Bu," jawabku to the point.
"Oke. Kalau Hesti ambil jurusan IPS, Hesti lewat jalur tanpa tes. Kalau IPA, harus ikut tes tertulis."

Kutatap matanya sejenak setelah tadi fokus pada kertas yang diperlihatkan.

"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya ambil IPA," jawabku mantap.

Aku ingat pesan Mama sebelum pergi ke tempat ini. Katanya: "Sekolah jauh-jauh kalau mau ambil jurusan IPS, mending sekolah di sini aja. Ada yang dekat, gak perlu jauh-jauh."

Ya, Mama berharap aku sekolah SMA dari jurusan IPA, karena beliau sudah dari jurusan IPS. Aku anak tunggal, sedangkan Papa tidak mengenyam pendidikan SMA. Hanya sampai SMP saja. Maka dari itu, Mama sangat berharap aku yang mewakilinya.

Dulu, Mama ingin mengambil jurusan IPA, tetapi tidak lulus saat pemilihan jurusan. Alhasil, mau tak mau harus jurusan IPS.

Mama juga berharap akulah yang akan melanjutkan mimpinya yang tak sampai. Menjadi seorang dokter. Tapi, aku tak ingin jadi dokter. Sejauh ini, mimpiku masih mengambang. Gambaran masa depanku pun semu.
Kebetulan, aku juga menginginkan jurusan IPA. Jadi, kuturuti kemauan Mama. Dan itu tandanya, aku harus melewati satu rintangan lagi. Tes seleksi dengan sistem tertulis.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x