Mohon tunggu...
Yuli Anita
Yuli Anita Mohon Tunggu... Guru - Guru

Jangan pernah berhenti untuk belajar

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas Artikel Utama

"Maaf Bu Guru, Saya Tidak Suka Matematika"

2 Maret 2021   16:20 Diperbarui: 9 Maret 2021   11:02 1933
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dengan mengaitkan keteraturan dalam alam semesta dengan bilangan Fibonacci dan Golden Ratio, kita bisa memahami bahwa ternyata penciptaan bumi dan isinya tidaklah acak dan sekadar terjadi begitu saja, melainkan ada perhitungan yang pasti dan konstan di dalamnya.

2. Operasi matematika kurang dikuasai
Penguasaan operasi dasar matematika yang meliputi kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) atau dalam istilah zaman dulu dinamakan Pipolondo (ping, poro, lan, sudo) adalah hal yang mutlak dimiliki para siswa sesuai jenjangnya. 

Tidak menguasai operasi matematika sama halnya seperti kita memberikan senjata pada pemburu untuk berburu di tengah hutan, jika pemburu itu tidak bisa mengoperasikan senjatanya, bisa dibayangkan sendiri apa yang akan terjadi.

3. Tidak memahami konsep mulai dasar
Konsep matematika yang dipelajari mulai awal harus dipahami, karena konsep dasar dipakai sebagai bekal untuk memahami materi berikutnya. 

Sebagai contoh, mustahil bisa memahami perkalian jika konsep penjumlahan tidak bisa. Seperti juga amat sulit memahami konsep volume bangun ruang, jika luas bangun datar tidak paham.

4. Guru yang kurang luwes
Guru harus memahami bahwa kemampuan individu berbeda-beda. Ada yang belajar satu kali sudah paham, ada yang harus diulang dua, tiga bahkan empat kali baru paham. Lalu, apakah mereka bodoh? 

Tidak, siswa hanya perlu waktu yang lebih panjang untuk memahami matematika, namun ada juga siswa yang diberi anugerah mempelajari hal lain lebih cepat. 

Dari pengalaman saya, banyak siswa yang berkemampuan matematika kurang, namun ternyata mempunyai keunggulan di bidang yang lain misalnya bahasa, menggambar, atau melukis.

Selain luwes dalam masalah waktu, guru juga sebaiknya mengajarkan keluwesan dalam memecahkan masalah. Biarkan siswa leluasa menyelesaikan masalah dengan menggunakan logikanya, baru kemudian kita luruskan sesuai konsep matematika. 

Melalui pemecahan masalah matematika kita juga mengajarkan anak bertoleransi, menghargai jalan pikiran orang lain. Belum tentu jalan pikiran yang berbeda dengan kita berarti salah.

Guru yang luwes bisa cepat memahami apakah pembelajarannya menjemukan atau tidak. Jika terlihat siswa mulai lelah, maka guru harus segera membuat manuver supaya pembelajaran tetap menyenangkan. Misalnya dengan sulap atau cerita untuk mengembalikan mood siswa agar bersemangat kembali dalam mengikuti pembelajaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun