Mohon tunggu...
Yudi Rahardjo
Yudi Rahardjo Mohon Tunggu... Chemical Engineer | Amateur Runner | Coffe and Comic Lover [KBC-22]

Jika hidup hanya sekedar hidup maka monyet di hutan juga hidup, jika hidup hanya sekedar makan maka babi hutan juga selalu makan untuk hidup, hiduplah agar bisa berguna dan memberi inspirasi bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Beruntungnya Saya, Tidak Mendaftar di PPDB Tahun Ini

27 Juni 2020   19:41 Diperbarui: 29 Juni 2020   11:53 1087 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Beruntungnya Saya, Tidak Mendaftar di PPDB Tahun Ini
ilustrasi kekecewaan siswa yang gagal di PPDB | source : freepik.com

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini melahirkan banyak kekecewaan bagi calon siswa baru dan orang tua calon siswa baru.

PPDB yang memberlakukan syarat zonasi dan lebih memprioritaskan siswa yang berusia lebih tua  untuk mendaftar di sekolah yang baru, malah membuat banyak calon siswa terpaksa tak bisa bersekolah di sekolah yang di impikan.

Sebagai contoh saya akan menceritakan kejadian yang terjadi di sekolah SMA yang lokasinya sangat dekat dengan rumah saya, yaitu SMAN 1 Tanjung,  Kec. Tanjung, Kab. Brebes

Karena orang tua dan kakak saya bekerja sebagai tenaga kependidikan di sekolah tersebut, maka saya akan menyampaikan situasi PPDB yang terjadi di SMA tersebut.

PPDB yang Berbeda.

Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019, semua sekolah wajib menggunakan sistem zonasi, agar siswa mendaftar sekolah sesuai tempat tinggal.

Ada pengecualian untuk siswa yang memiliki prestasi, jika ada siswa yang memilik prestasi yang cukup bagus, maka dia dapat mendaftar ke sekolah yang jauh dari rumahnya. Selain prestasi untuk tahun ini ada pengecualian untuk tenaga medis dan TNI, bagi mereka yang merupakan anak dari tenaga medis atau TNI, bisa mendataftar di sekolah manapun yang mereka inginkan.

Semua aturan ini sudah masuk ke dalam sistem sehingga saat memasukan nama calon siswa dan NISN (Nomer Induk Siswa Nasional) maka akan dapat ditentukan calon siswa tersebut bisa diterima di sekolah mana.

Secara tujuan sistem zonasi ini memang terdengar baik, namun prakteknya tidak seperti yang diharapkan, ada seorang calon siswa baru yang berasal dari kecamatan Kersana, kecamatan yang bertetangga dengan kecamatan Tanjung, namun tak bisa diterima di SMAN 1 Tanjung karena sistem menyarankan untuk bersekolah di SMA lain yang lebih dekat dengan rumahnya.

“Saya ini dulu sekolah disini (SMAN 1 Tanjung), kakak-kakakny anak ini juga duku sekolah disini, kok anak saya yang ini nggak bisa sekolah disini ?” ungkap orang tua calon siswa tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x