Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Perihal Ngidam, Sarana Me-Time & Relaksasi Ibu Hamil

7 November 2013   03:42 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:30 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sesungguhnya, dari keempat kehamilan buah hati kami, istri saya tidak terlalu banyak memiliki masalah dengan kehendak ngidam seperti umumnya.

Maklum karena sebagai wanita bekerja, istri saya punya segudang pekerjaan yang luar biasa menyibukkan dirinya.

Disamping itu, sebagai Ibu hamil, istri saya juga banyak membaca buku pengetahuan seputar kehamilan dan hal krusial yang perlu diketahui serta dimengerti.

Mungkin juga karena hal tersebut, semakin dipahami bahwa ngidam adalah hasil fluktuasi mood psikologis sebagai gejolak hormonal dari seorang Ibu hamil, yang kemudian membutuhkan "me-time" dalam bentuk kehendak atau keinginan akan sesuatu, yang dikenal luas sebagai "ngidam".

Tetapi pada kelahiran anak ke empat, ya si bungsu, nampaknya istri saya memang tidak bisa tahan lagi, dia suka yang segar dan hangat dimalam hari, dan spesifik setelah periode kehamilan triwulan ketiga.

Beruntung, kompleks rumah kami dilewati pedagang bebas, maklum saja karena kompleks ini berbatasan dengan perkampungan disebelahnya dan memang terbuka karena sudah serah terima mandiri kepada warga.

Jadilah penganan "Kembang Tahu" sebagai pelampiasan ngidam yang sempurna bagi istri saya, kebetulan periode kelahiran si bungsu memang ada dipenghujung tahun yang dingin dan banyak turun hujan, sehingga klop suasana dan asupan yang dipilih.

Kombinasi wedang dari sari kedelai dan gula merah plus kehangatan nan segar yang muncul dari jahe serta aroma kayu manis memang cocok mengusir jauh dingin malam.

Awalnya saya ikutan juga pesan Kembang Tahu, tapi begitu rutin dan hampir setiap hari dan selalu pukul 21.00 akhirnya membuat saya menyerah, jadi hanya bisa menyaksikan istri saya menyantap Kembang Tahu dengan riangnya.

Sebagai pelanggan setia, si Akang Kembang Tahu-pun rajin mengingatkan Kalau kebetulan melewati Rumah kami dengan mengetuk keras mangkok jualannya dan berhenti sebentar didepan rumah menanti loyal customer-nya.

Pasca persalinan si Bungsu, lenyap pula kebiasaan itu. Dan si Akang Kembang Tahu-pun memahami, sehingga jarang terdengar menghampiri kediaman kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun