Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... Penulis - memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Titik Balik SBY Mirip Soeharto

3 Juli 2019   05:32 Diperbarui: 4 Juli 2019   09:23 2952
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
SBY dan Soeharto. Foto : Ist 

  

Setelah sempat reda, desakan agar Partai Demokrat segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) dengan agenda menggusur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari kursi ketua umum, kembali mencuat. Benarkah tuah SBY sudah pudar setelah ditinggal Ani Yudhoyono sebagaimana Soeharto sepeninggal Bu Tien?

Desakan KLB yang disuarakan Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) memang cukup mengejutkan. Jika sebelumnya Max Sopacua, Ahmad Mubarok dan teman-temannya masih "halus" dalam menyampaikan tuntutan, bahkan mengusulkan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai penggantinya, kini Hencky Luntungan, Subur Sembiring dan lain-lain terang-teranagan menyebut SBY telah gagal sehingga harus segera menyerahkan mandat dan tidak berlindung di balik urusan pribadi.

Selain soal penurunan perolehan suara dari 20,04 persen di Pemilu 2009 menjadi 10,9 persen (Pemilu 2014) dan kini hanya tinggal 7,7 persen (Pemilu 2019), Hencky menuding SBY telah melanggar melanggar AD/ART partai dalam kongres di Bali tahun 2013 dan di Surabaya tahun 2010. Bahkan SBY disebut telah menjadikan PD sebagai partai dinasti.

Tudingan terakhir sekaligus mematahkan anggapan jika konflik di tubuh partai Mercy sengaja diseting sebagai upaya menaikkan posisi AHY. Sebab jika AHY menjadi ketua umum, tentu peluang untuk duduk di kabinet Jokowi -- Ma'ruf Amin terbuka lebar karena tidak hanya "membawa badan sendiri" tetapi gerbong Demokrat. Presiden Jokowi atau pun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan lebih leluasa merundingkan koalisi manakala AHY tidak hanya bertindak selaku "pengantar dan penerima" pesan SBY.

Gejolak di tubuh Partai Demokrat seolah menjadi titik balik kebesaran SBY. Benarkah tuah atau aura kekuatan dan kewibawaan SBY telah menguap sepeninggal Ani Yudhoyono? Sebab sepeninggal istrinya, Partai Demokrat langsung mengalami kemunduran luar biasa. Pertama, tentu anjloknya perolehan suara di Pemilu 2019. Kedua, kekalahan Prabowo Subianto -- Sandiaga Salahudin Uno, pasangan capres dan cawapres yang diusungnya dalam Pilpres 2019. Ketiga, kisruh internal yang sangat muskil terjadi jika SBY masih memiliki aura kewibawaan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Keberadaan Ani Yudhoyono sebagai penopang kekuatan SBY bukan rahasia lagi. Bahkan media-media luar negeri pernah memberitakan jika SBY sering meminta "nasehat" istrinya saat masih menjabat Presiden. Karena alasan itulah, telepon genggam Ani Yudhoyono pernah disadap oleh intelijen Australia.

Kesedihan SBY atas kepergian sang istri pun tidak pernah disembunyikan. Beberapa kali SBY tertangkap kamera tengah menangis. Siapa pun yang melihat kondisinya pasti bisa menangkap betapa rapuhnya SBY ketika kehilangan Ani Yudhoyono.

Kondisi demikian hampir sama ketika Soeharto baru ditinggal pergi Bu Tien. Dalam siaran televisi saat upacara pemakaman, Pak Harto yang dikenal tegar dan murah senyum, gagal menyembunyikan kepedihan hatinya. Banyak yang menduga, terutama para penganut paham Kejawen sebagai Pak Harto, Bu Tien merupakan penopang kekuatan Soeharto secara supramistik. Bu Tien lah- karena darah bangsawannya, yang memegang wahyu keprabon, bukan Pak Harto yang "hanya" anak seorang petani.

Situasi yang terjadi kemudian seolah menjadi penegas hal itu. Setelah Bu Tien wafat tahun 1996, kekuasaan Soeharto mulai goyah. Meski masih sempat diangkat kembali menjadi Presiden di tahun 1997, tetapi sudah kehilangan legitimasi dari masyarakat. Demo menuntut pengunduran dirinya, sesuatu yang sangat tabu dilakukan sebelum kematian Bu Tien, merebak di mana-mana dan mencapai puncaknya pada Mei 1998. Soeharto yang begitu perkasa tampak rapuh sehingga akhirnya mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan yang sudah digenggamnya selama 32 tahun. Dalam kondisi terpuruk, Soeharto pun ditinggalkan Golkar- orsospol yang dibinanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun