Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Movie Enthusiast | Awardee Best in Specific Interest Kompasiana Awards 2019

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Little Women", Kehangatan Keluarga, dan Kemerdekaan Memilih bagi Perempuan

9 Februari 2020   06:45 Diperbarui: 9 Februari 2020   15:01 213 12 3 Mohon Tunggu...
"Little Women", Kehangatan Keluarga, dan Kemerdekaan Memilih bagi Perempuan
Little Women | Sumber : TheDailyBeast.com

"Kalau anda mengakhiri buku anda dengan cerita bahwa tokoh utama perempuannya berakhir sebagai perawan tua, maka tidak akan ada yang membelinya." 

Kira-kira seperti itulah kata-kata dari sang penerbit buku ketika pada akhirnya sang tokoh utama yaitu Jo March (Saoirse Ronan), berhasil membuat cerita yang ditulisnya diterima untuk segera dibukukan.

Namun konsep happy ending suatu pernikahan yang menjadi standar kebahagiaan sebuah cerita bagi orang-orang di masa itu (bahkan hingga saat ini), lantas menjadi sebuah persimpangan yang akan menentukan keputusan sang tokoh utama terhadap kegelisahannya selama ini. Kegelisahannya sebagai seorang wanita yang independen.

Namun jauh sebelum kita atau penonton melangkah ke chapter tersebut, Greta Gerwig terlebih dahulu mengajak kita untuk berkenalan dengan 4 wanita cantik bersaudara dalam perjalanan masa remaja mereka hingga transisinya menuju seorang wanita dewasa. Mereka adalah Meg March (Emma Watson), Jo March (Saoirse Ronan), Amy March (Florence Pugh), dan Beth March (Eliza Scanlen).

Little Women | Sumber : vanityfair.com
Little Women | Sumber : vanityfair.com
Empat remaja yang hidup di sebuah desa kecil bersama sang ibu, Marmee March (Laura Dern), dan bersama-sama menjalani jatuh bangunnya kehidupan dengan saling menjaga anggota keluarga satu sama lain selama sang ayah (Bob Odenkirk) berada di medan perang.

Sekilas memang nampak tak ada yang spesial dari cerita dan konflik yang terbentuk. Bahkan bagi sebagian orang mungkin akan terasa membosankan melihat 2 jam 15 menit film yang konfliknya hanya seputar masalah keluarga. Namun, di situlah justru titik kuat daripada penceritaan Little Women yang tak pernah lekang oleh waktu, bahkan hingga berganti abad.

Bagi yang sudah pernah membaca buku semi-autobiografi klasik berjudul Little Women karya Louisa May Alcott yang terbit pertama kali di tahun 1886, pasti sudah tidak asing lagi dengan apa yang disajikan oleh Greta Gerwig di film ini. Mengingat versi 2019-nya juga sudah menjadi film adaptasi ke-7 dari buku tersebut, selain juga sudah 4 kali diadaptasi menjadi serial TV, 2 kali adaptasi ke dalam bentuk anime, 2 kali dalam format mini series, dan beberapa kali diadaptasi ke dalam bentuk stage atau teater.

Namun apa yang disajikan oleh Greta Gerwig disini adalah lebih dari sekadar film adaptasi. Greta Gerwig meramu cerita tradisional yang telah dinikmati berbagai generasi tersebut dengan cara mengkombinasikannya dengan tema modern yang mengangkat isu woman empowerment.

Little Women | Sumber : fandango.com
Little Women | Sumber : fandango.com
Apa yang disampaikan oleh Little Women sehingga membuatnya menjadi menarik adalah tidak melulu tentang wanita yang harus "melawan" dominasi pria seperti pada film dengan embel-embel woman empowerment lainnya. Little Women justru membagikan kita sebuah cerita yang hangat, bahagia, serta penuh makna, dalam proses seorang wanita menentukan pilihannya secara merdeka.

Little Women bahkan bukanlah film untuk menunjukkan toxic masculinity yang harus dihadapi wanita. Bukan juga film untuk meratapi ketidakberdayaan wanita dalam menjalani nasib hidupnya.

Little Women justru menjelma menjadi semacam perayaan atas kebebasan yang tak hanya mampu berbicara untuk wanita saja, namun juga untuk semua orang. Bahwasanya setiap orang bebas untuk menentukan pilihannya, bertanggung jawab pada mimpi besarnya, dan tak takut menghadapi perubahan hidup yang cepat, di mana semuanya kemudian terukir lewat kehidupan keluarga March tersebut.

Little Women | Sumber : radiotimes.com
Little Women | Sumber : radiotimes.com
Sementara karakter Jo March sendiri memang sudah lama menjadi lambang wanita independen yang berhasil menembus pergantian zaman, yang dalam film ini kemudian berhasil dihidupkan dengan mantap dan meyakinkan oleh Saoirse Ronan.

Penggambarannya yang tomboy, ambisius, namun juga peduli terhadap keluarga seakan menegaskan bahwa tak selamanya wanita identik dengan kata "lemah", tak peduli di tahun berapa dan di era apa ia hidup.

Soirse Ronan yang sebelumnya juga telah bekerja sama dengan Greta Gerwig lewat film Lady Bird memang nampak semakin menunjukkan kualitasnya di film ini. Saoirse Ronan telah bermetamorfosa menjadi aktris kelas atas yang kualitasnya kemudian bisa kita nikmati melalui kekuatan dialognya, detil emosinya, hingga faktor minor lain semisal perubahan mimik wajah kala menghadapi berbagai "petir kehidupan" yang menyambarnya berkali-kali.

Little Women | Sumber : chicagotribune.com
Little Women | Sumber : chicagotribune.com
Namun sejatinya tak hanya Saoirse Ronan yang sinarnya paling terang di film ini. Little Women semakin spesial karena karakterisasi setiap aktor dan aktrisnya begitu kuat dan detail, sehingga masing-masing memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Ya, bisa dibilang semuanya menjadi bintang dalam film ini.

Florence Pugh yang berhasil menjadi sosok Amy yang cantik, penuh rasa penasaran, namun juga rapuh sebagai adik. Emma Watson yang sukses menjadi seorang kakak yang tenang dan selalu menjadi penengah, juga tabah dalam menjalani pilihannya sebagai seorang istri dari pria dengan status ekonomi rendah.

Juga Eliza Scanlen yang believable sebagai adik terkecil yang pemalu, penuh bakat, namun juga sakit-sakitan, menjadi contoh bagaimana film ini begitu kuat dalam meramu penokohan setiap aktor dan aktrisnya hingga membuatnya mampu menampilkan ciri khasnya sendiri tanpa harus repot memberikan penjelasan berlebihan.

Little Women | Sumber : cinemablend.com
Little Women | Sumber : cinemablend.com
Belum termasuk supporting actor yang tak kalah mencuri perhatian seperti Timothee Chalamet dan Laura Dern. Peran Timothee sebagai Laurie yang merupakan pria yang terjebak pada kisah cinta segitiga kakak beradik tersebut, tentu saja begitu apik ditampilkannya. Bahkan chemistry-nya dengan Saoirse Ronan di film ini adalah tambahan poin yang semakin menegaskan statusnya sebagai aktor muda berbakat dan serba bisa.

Laura Dern sebagai ibunda dari keempat remaja wanita yang kadang kala akur namun tak jarang saling memicu keributan yang berakhir dengan tangisan tersebut, tentu saja menjadi supporting actor yang sangat berarti kehadirannya. Karena Laura Dern kemudian menunjukkan bagaimana peran seorang ibu yang kuat, rendah hati, namun juga harus sabar dan bijaksana dalam menyikapi tiap konflik yang dialami keluarganya.

Little Women | Sumber : thenewyorker.com
Little Women | Sumber : thenewyorker.com
Bahkan perannya disini sama kuatnya dan sama baiknya dengan apa yang ditampilkannya pada Marriage Story, yang juga kemudian memberikan ganjaran bagi dirinya berupa nominasi supporting actor di ajang Oscar 2020 ini.

Bahkan 2019 juga nampak menjadi tahunnya Florence Pugh. Karena ia juga berhasil bersinar pada dua filmnya yang lain yaitu Fighting With My Family dan Midsommar, di mana keduanya sama-sama mampu "memaksa" dirinya mengeluarkan potensi terbaiknya dalam tiap genre film yang berbeda.

Tak hanya aktor, film ini pun sejatinya memberikan paket lengkap cinematic experience yang membuat kita tak ragu untuk berdecak kagum.

Little Women | Sumber : imdb.com
Little Women | Sumber : imdb.com
Sinematografi jempolan garapan Yorick Le Saux yang berhasil memberikan nuansa klasik sekaligus melankolis bagi film ini, kemudian tim production design, art design, dan wardrobe departement yang berhasil mewujudkan nuansa Amerika klasik yang otentik, serta komposisi scoring dari Alexandre Desplat yang magis dan menggugah, tentu saja menjadi faktor kuat yang membuat cinematic experience film ini benar-benar maksimal dan berpadu apik dengan cerita utamanya.

Khusus untuk Alexandre Desplat, komposer yang sudah malang melintang di industri Hollywood untuk menggarap musik latar film-film semisal Argo, The Shape of Water dan Isle of Dogs ini juga sejatinya layak untuk dijagokan menang dalam kategori Best Original Music Score. Hanya saja, nampaknya ia memiliki saingan kuat dalam diri Hildur Gudnadottir, yang komposisi musiknya untuk Joker juga tak bisa dipandang sebelah mata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x