Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Penulis - Karyawan Swasta

Moviegoer | Best in Specific Interest Kompasiana Awards 2019

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Once Upon a Time in Hollywood" tentang Ambisi, Era Keemasan Hollywood, dan Tragedi Sharon Tate

24 Agustus 2019   18:12 Diperbarui: 25 Agustus 2019   15:57 1352
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Thewrap.com
Sumber: Thewrap.com
Tak lupa, kemunculan sosok Bruce Lee yang beberapa waktu lalu menjadi kontroversi dan ramai di media sosial itu pun menjadi salah satu adegan yang mencuri perhatian di film ini. 

Adegannya cukup lucu, menghibur, meskipun harus diakui memang Tarantino pantas digugat keluarga besar Bruce Lee, karena sedikit "merusak" reputasi Bruce Lee melalui selipan dark jokesnya tersebut.

Sementara dari sisi akting, deretan aktor kelas A-nya mampu menyajikan penampilan terbaiknya masing-masing. Mulai dari Brad Pitt, Leonardo DiCaprio hingga Margot Robbie, masing-masing mampu memberikan penampilan yang memorable dan tak terkesan memberi efek over shadow antara satu dengan lainnya. 

Pun begitu dengan penampilan singkat para aktor lainnya semisal Al Pacino, Dakota Fanning, dan Timothy Olyphant, mampu memberi warna tambahan yang membuat suasana dan dialog menjadi hidup. Meskipun memang harus diakui bahwa talenta Al Pacino nampak disia-siakan di film ini.

Sumber: Nme.com
Sumber: Nme.com
Pujian patut diberikan pada duet DiCaprio dan Pitt. Namun yang lebih mencuri perhatian tentu saja ada pada akting DiCaprio yang mampu menampilkan sosok aktor yang nampak hopeless menghadapi senjakalanya, setidaknya itu yang diyakininya. 

Bahkan terdapat satu adegan dimana DiCaprio melakukan monolog selama beberapa menit yang sangat emosional. Meskipun dilengkapi dengan celetukan kata-kata kotor yang mengundang gelak tawa, pada momen tersebut Leo berhasil membuat kita semakin percaya akan betapa rapuh dan galaunya Rick Dalton terhadap perjalanan karirnya sendiri.

Antara Ambisi, Tragedi, dan Kritik Sosial Era 60-an

Sumber: Movieweb.com
Sumber: Movieweb.com
Layaknya Inglourious Basterds yang digarap Quentin Tarantino di tahun 2009 silam, film ini pun menampilkan tokoh fiksi dalam wujud Rick Dalton dan Cliff Booth untuk kemudian disatukan dengan latar kejadian nyata. 

Karakter Dalton dan Booth yang dimaksudkan sebagai gambaran sebagian besar aktor-aktor Hollywood yang sedang berada dalam "persimpangan jalan" di masa itu, dimana ambisi terkait eksistensi terus menyeruak ke permukaan, kemudian bersanding dengan kejadian nyata terkait tragedi bintang muda berambut pirang, Sharon Tate.

Seperti kita tahu, sejarah mencatat bahwa Sharon Tate dibunuh oleh The Manson Family secara brutal. Dan dengan cerdasnya, Tarantino kemudian berhasil menyambungkan kerangka penceritaan yang nampak cukup berbeda pada awalnya tersebut kepada kisah tragedi Tate. 

Namun tentu saja bukan Quentin Tarantino namanya jika tidak menghadirkan kejutan dan kontroversi terkait penceritaan ulang tragedi Sharon Tate tersebut. Penceritaan ulang yang tentunya menggunakan konsep "what if" yang mengejutkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun