Mohon tunggu...
Yoga Prasetya
Yoga Prasetya Mohon Tunggu... Guru, Penulis, dan Santri

Yoga Prasetya adalah guru, penulis, dan santri Nurul Jadid Probolinggo. Dia merupakan alumnus Universitas Jember dan Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Saat ini mengabdi sebagai guru bidang studi bahasa Indonesia, karya ilmiah remaja, penulisan kreatif, dan teater di MTs Negeri 1 Kota Malang. Hidup berkah, selamat dunia akhirat adalah moto hidupnya.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Harapan Kompasianival 2020 dan Refleksi Artikel Ke-100

21 November 2020   06:01 Diperbarui: 21 November 2020   06:10 110 30 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Harapan Kompasianival 2020 dan Refleksi Artikel Ke-100
Dokumen Kompasiana

Saya mulai tulisan ini dengan harapan. Semoga acara Kompasianival 2020 berjalan dengan lancar dan membawa berkah. Amin. Sebagai partisipan, saya sudah ikut serta dengan memberikan voting kepada lima nomine Kompasiana Awards 2020.

Secara umum, semoga Kompasiana semakin jaya. Dengan mengusung tema "Mulai dari Kita", berarti semoga saja kita khususnya saya bisa ikut memberikan sumbangsih kepada Kompasiana dan umumnya menambah literasi bangsa ini. Yang paling penting, semoga tulisan-tulisan saya membawa berkah bagi penulis dan pembacanya.

Sejak tanggal 11 Agustus 2020 hingga sekarang, saya telah menjadi bagian Kompasiana. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap lingkungan saya. Keluarga, rekan kerja, hingga teman-teman saya setiap hari melihat postingan status wa saya.

"Rajin sekali kamu Yog. Tiap hari nulis. Bahkan sehari bisa lebih dari satu." Itulah salah satu respons teman saya terhadap kegiatan baru saya. Menulis di Kompasiana.

Selain harapan untuk Kompasianival 2020, tulisan ini juga menjadi sarana refleksi bagi saya. Karena artikel ini merupakan artikel ke-100 saya. Sayang sekali artikel ke-99 kurang mendapatkan apresiasi dari editor Kompasiana. Apakah tulisan ke-100 akan bernasib sama dengan artikel ke-99? Semoga saja lebih baik.

Saya beruntung, beberapa Kompasianer ada yang mengapresiasi tulisan saya sebelumnya tentang pelabelan. Terima kasih senantiasa saya ucapkan kepada siapa saja yang mengapresiasi tulisan Yoga Prasetya. Berikut ini komentar beliau-beliau dan tanggapan saya berkaitan dengan komentar mereka.

1. Pak Nursalam AR

"Menulislah dan biarkan tulisanmu mengikuti takdirnya." Begitulah kata Buya Hamka yang disampaikan kembali oleh Pak Nursalam AR. Sejauh ini, saya sudah menulis dan tetap akan menulis. Mau diapresiasi atau tidak, itu di luar kuasa saya. Meski, saya masih sedih bila tulisan saya tidak diapresiasi, Pak Nur.

2. Prof Felix Tani

"Saran saya, baris pertama artikel Mas Yoga diberi label sendiri. Begini #artikelpilihan biar min K terprovokasi," ucap Prof Felix Tani. Kali ini saran beliau saya pakai. Bahkan, saya modifikasi menjadi bukan hanya artikel pilihan tetapi artikel utama. Kalau judulnya tidak ada #artikelutama berarti sudah kena edit, Prof.

3.  Bu Yani Widaningsih

"Semoga Pak Yoga nantinya selalu AU atau HL ya," kata Bu Yani Widaningsih. Amin. Terima kasih Bu Yani. Namun, boro-boro jadi AU Bu. Wong masuk pilihan saja jarang-jarang. Sejujurnya, artikel berjudul "Film The Lazarus Effect dan Renungan di Hari Jumat" saya harap bisa menjadi AU. Namun, seperti kata Mas Ozy Alandika. Kalau sering berharap siap-siaplah untuk kecewa.

4. Pak Ludiro Madu

"Saya baru tahu arti penting dari labelisasi," ungkap Pak Ludiro Madu. Sebenarnya bergantung "maqom"nya Pak Ludiro. Saat ini saya masih berada di level terendah dalam menulis. Masih butuh yang namanya apresiasi. Semoga suatu saat saya bisa naik level tanpa butuh dan merasa labelisasi itu penting. Amin.

5. Mbak Hen Hen Hennie Triani

"Tetap semangat. Salam hangat Mas Yoga." Begitulah kata kakak online saya yang kini berada di Jejere Kauman. Iya Mbak Hen, saya akan tetap semangat. Terima kasih sudah selalu mengapresiasi tulisan saya. Semangat juga untuk pean. Oh, iya saya vote untuk Mbak Hen.

6. Pak Katedrarajawen

"Sebenarnya yang lebih penting sih jangan gegara label jadi ngambek menulis, Pak Yoga." Siap Pak Katedra. Saya gak mogok nulis kok. Cuma nulisnya sambil sedih saja. Hiks. Terima kasih Pak Katedra karena panjenengan selalu mengapresiasi tulisan saya.


7. Mbak Martha Weda

"Tetap semangat, Mas Yoga," ucap beliau. Siap Mbak Martha. Saya akan mencoba menulis dengan semangat. Terima kasih sudah mengapresiasi.

8. Bang Andri Mastiyanto

"Pelabelan tidak perlu dipikirkan yang penting berkarya," kata Bang Andri. Hmmm. Oke Bang. Pelabelan itu masalah sudut pandang. Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, bahwa setidaknya ada tiga tipe orang menanggapi pelabelan. Ada yang peduli, apatis, dan labil. Sementara ini saya masih di tipe labil kepeduli-pedulian Bang. Salam hangat.

 9. Mas Sam

"Mantap Mas Yoga. Salam hangat selalu." Terima kasih Mas Sam atas apresiasinya. Saling komunikasi di Kompasiana sepertinya memang wajib dilakukan. Itulah yang membuat saya betah nulis di Kompasiana.

10. Mbak Syarifah Lestari

"Santai mas. Semua ada waktunya," komen beliau. Mbak Tari, boleh saya tambahkan ya. Semua akan indah pada waktunya. Salam hangat dan sehat selalu.

Demikianlah, sepuluh kompasianer yang menyempatkan berkomentar di artikel saya sebelumnya yang berjudul "Pelabelan: Apresiasi dan Hak Prerogatif Kompasiana". Jadi, refleksi untuk saya di artikel ke-100 adalah tetap semangat menulis. Apapun yang terjadi, saya tetap menulis.

Terima kasih.

Salam hangat dan sehat selalu untuk para pembaca artikel ini.

Yang masih belajar dan menulis di Kompasiana, Yoga Prasetya.

Malang, 21 November 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x