Yus Efendi
Yus Efendi

Menulis adalah syair hati yang menyembuhkan. Follow juga @yusefendy

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Menyisiri Malam

1 Maret 2011   05:19 Diperbarui: 13 Juli 2015   15:28 54 0 0

Malam nan larut menyisakan kesunyian dan suara desiran makhluk kecil yang sekedar mencari kesenangan hidup, malam nan gelap meredupkan semua cahaya yang menjadi penerang makhluk semesta ini. Nukilan malam selalu memberikan warna sunyi sebuah getaran hidup tanpa roda, entah karena banyak makhluk yang lelap tanpa melihat bintang nan indah.

Malam ini aku menjadi salah satu makhluk yang jengah memecam mata, mata ini seolah tanpa lelah menemaniku dalam kesunyian. Dimana mereka yang selalu lalu lalang dan meramaikan bumi di malam ini, apakah mereka tekun dalam nafas teratur mengistirahatkan seluruh sendi untuk aktivitas hidup yang menunggu jadwal diesok harinya.jadwal hidup yang memprosa dengan perbedaan nyata dalam redupnya malam, jadwal yang menunggu teratur dan berpola sama dalam jadwal tuhan.

Masih adakah yang mau menemaniku, menemani bergantinya siklus hidup dengan malam menjelang pagi yang selalu dalam pasangan matahari pagi nan asri, namun malam ini masih panjang tanpa hati dalam penantian kerinduan pagi. Ya Tuhan, berikan kenyamanan malam ini seperti penantian malam-malam sebelumnya dan berikan kekuatan bagi segenap makhluk untuk selalu diberikan kekuatan menunggu hilangnya malam.

Malam ini, seperti halnya burung hantu yang berkeliaran di malam hari aku menunggu detik pergantian malam ke periode terang benderang. Namun, rasa lelah yang hinggap dan menerpa mataku, membuatku akan mengakhiri petualangan menyisiri malam ini dan ikut "demo" dengan para penghuni malam lain yang telah lelap tanpa sadarkan diri.

Sebelum mata terbenam, aku berpesan dalam hati agar kelakuanku menemani malam ini tidak membuatku lalai menghadap keribaan illahi di esok subuh menyingsing (yef)