Mohon tunggu...
Ya Yat
Ya Yat Mohon Tunggu... Blogger

Penyuka MotoGP, fans berat Valentino Rossi, sedang belajar menulis tentang banyak hal, Kompasianer of The Year 2016, bisa colek saya di twitter @daffana, IG @da_ffana, steller @daffana, FB Ya Yat, fanpage di @daffanafanpage atau email yatya46@gmail.com, blog saya yang lain di www.daffana.com

Selanjutnya

Tutup

Muda

Kopdar Bebas Berbagi, Antara Passion dan Bisnis

26 September 2015   23:42 Diperbarui: 27 September 2015   02:25 0 8 7 Mohon Tunggu...

Passion.. atau ngetopnya disebut lentera jiwa bukan hanya jadi sekedar passion kalo kita mampu mengolahnya. Dulu.. orang tua saya memberi saya "jalan hidup" bahwa saya sekolah sampai tingkat tinggi adalah demi mendapat pekerjaan yang baik dengan gaji yang besar, yang bisa membuat saya dan keluarga hidup layak. Karena itu orang tua saya meminta saya ambil jurusan yang menurut pemikiran mereka saat itu, bisa memberi penghasilan besar, jurusan accounting. Di sekolah kejuruan dan kuliah saya ambil jurusan ini. Setelah lulus, iya saya mendapat pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya, accounting.

Apakah ini sesuai dengan keinginan saya? Tidak. Sayangnya sampai saat ini, setelah saya tidak lagi bekerja di bagian accounting, saya belum menemukan apa passion saya, apa pekerjaan yang sejiwa dengan saya, hingga saya enjoy menjalaninya. Apa maksudnya sih saya malem-malem begini curcol? Ini gara-gara saya mengikuti Kompasiana Coverage Kopdar Bebas Berbagi bersama FWD Life Sabtu, 19 September lalu.

FWD life punya hajatan memilih 3 terbaik dari 5 nominasi passionate people yang punya bisnis. FWD Life akan memberi hadiah berupa dana bagi passionate people yang bisnisnya kreatif, beda dari yang lain, merupakan passion dari pemiliknya. Saya terkagum-kagum dengan 5 anak muda dengan bisnisnya masing-masing. Semuda itu.. sudah punya ide dan dikembangkan dalam bentuk bisnis yang menguntungkan bagi banyak pihak.

Ada Anggia Rahendra dengan idenya membuat PLUA di mana orang-orang bisa menemukan banyak peluang d aplikasi ini. Lalu ada mbak Fitri Kumala, dengan Star Wannabe yang mewadahi orang-orang yang punya talenta dalam musik agar mendapat karir yang bagus di dunia entertainment. Alecia Van Akker dengan Rumah MC, mewadahi para MC yang biasanya mencari job sendiri. Rumah MC juga melatih orang-orang untuk menjadi MC. Kemudian ada Ignatius Leonardo dengan Kulit Kayu yang membuat barang-barang berbahan kulit kayu. Terakhir ada Rinda Gusvita dengan Star Books Coffee yang menjual Kopi Lampung dengan tujuan memajukan para petani kopi Lampung. Keren-keren kan idenya.

Founder Passionpreneur Academy, Deddy Dahlan, di acara itu mengatakan bahwa tidak semua orang mudah menemukan apa passionnya. Nggak apa-apa kalau kita belum menemukannya. Tapi saat passion itu muncul segera kembangkan dan buat jadi kenyataan. Misalnya passion kita adalah berbisnis sepatu. Maka segera bergeraklah berbisnis sepatu. Buat bisnis dengan kecil dulu untuk meminimalisir resiko kerugian apalagi jika modal yang kita miliki terbatas.

Namun jangan puas dengan bisnis yang kecil, setahap demi setahap buat bisnis kita jadi besar. Jika terkendala dengan dana maka carilah partner atau mitra bisnis. Partner bisa berupa orang lain yang punya kesukaan atas bisnis yang sama tapi bisa juga investor yang mau mendanai bisnis kita. Bila bisnis kita memang positif dan mempunya perkembangan yang baik maka investor nggak usah dicari, ia akan datang sendiri. Yang penting dalam menjalankan bisnis kita nggak boleh takut. Orang yang mengalahkan rasa takut adalah orang yang akhirnya berhasil, kata Deddy Dahlan.

Ini dialami oleh Yukka Harlanda, CEO Brodo footwear. Menarik banget mendengar mas Yukka yang cuek ini bercerita. Yukka membuat Sepatu Brodo karena ia kesulitan mencari sepatu ukuran 46. Iya ukuran 46 pemirsa. Seperti nomornya akang Valentino Rossi. Anda tau kan siapa Valentino Rossi. Sepatu dengan ukuran 46 tersebut jarang ada di pasaran. Sekalinya ada harganya mahal dan modelnya jelek. Nggak sesuai dengan selera mas Yukka. Kemudian mas Yukka yang jebolan Teknik Sipil ini mulai membuat sepatu untuk dirinya sendiri dengan modal dari tabungan yang dikumpulkannya bertahun-tahun.

Seiring berjalannya waktu, sepatu Brodo buatannya berkembang cukup pesat. Ia mulai diundang ke berbagai acara. Suatu hari bertemulah ia dengan investor yang mau memodali usahanya padahal saat itu mas Yukka lagi nggak cari investor. Sempat ditolak akhirnya sang investor bisa menjalin kerjasama dengan Yukka. Saat ini Brodo Footwear sangat berkembang. Di kalangan anak muda, siapa sih yang nggak kenal sepatu Brodo?

Ditanya apakah Brodo Footwear merupakan passion Yukka? Ia menjawab iya. Ia senang mendesain sepatu, memakai sepatu hasil desainnya dan ia senang orang-orang memakai sepatunya. Padahal jurusan Teknik Sipil bisa memberi penghasilan besar tapi ia lebih memilih buat jualan sepatu. Begitu juga dengan Adelia Leonora founder dan pemilik Travas Life. Ia membuat bisnis ini karena kesukaannya pada fashion dan travelling.

Jadi jangan takut untuk memulai bisnis yang berasal dari passion. Pak Paul Kartono (bukan Pakde Kartono lho heheheheh) dari FWD Life menambahkan. Jika ingin berhasil dalam bisnis maka kita harus memisahkan keuangan pribadi dan keuangan untuk operasional bisnis. Keduanya nggak boleh dicampurkan. Lalu jika kita punya pekerjaan lain saat ingin memulai bisnis, sebaiknya pekerjaan itu jangan ditinggalkan sebelum bisnis kita kuat. Ini untuk mencegah bisnis kita yang belum kuat hancur sementara semua modal sudah tertanam di situ. Istilahnya kita masih punya tiang untuk pegangan. Jangan berhenti untuk belajar dan jangan sungkan untuk bertanya ke yang lebih ahli, kata Pak Kartono lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x