Mohon tunggu...
Yasmin Kamila
Yasmin Kamila Mohon Tunggu... A dreamer

Sharing ilmu yang bisa didapatkan di luar lembaga pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bagaimana Rasanya Jadi Korban Banjir?

17 November 2019   19:45 Diperbarui: 17 November 2019   19:53 52 2 0 Mohon Tunggu...



Saya adalah salah satu dari sekian puluh ribu korban banjir pada tahun 2005. Waktu itu saya tinggal di Bekasi daerah Gunung Putri, Cibinong. Tempat tinggal itu masuk dalam lingkup Bogor sebenarnya, perbatasan antara Bekasi Barat dan Bogor. Saat itu saya masih seorang anak yang berumur 3 tahun, yang baru tahu banjir itu seperti apa. Ibu yang berasal dari jawa timur juga baru merasakan banjir pertama kali. Ketika itu banjir bandang, banjir yang datang tiba-tiba di tengah malam. Tidak ada persiapan apapun, semua barang akhirnya terkena banjir. Saya terbangun dan melihat sepatu saya yang mengapung di air coklat setinggi perut ibu saya. Ibu menggendong saya keluar dan memberikan saya ke bapak karena banjir semakin deras. Kulkas yang mengapung seperti kura-kura sudah tidak mencuri perhatian saat itu, semua orang bingung menyelamatkan barang berharga dan keluarganya. Bersyukur saat itu juga tetangga ada yang berbaik hati berkenan menerima saya dan keluarga untuk mengungsi hingga air surut. Semua barang yang tidak sempat diselamatkan rusak sia-sia dan tidak dapat dipakai lagi terpaksa untuk membeli yang baru. Bersyukur pula saya dan keluarga semua selamat tanpa ada luka.

Banjir membawa banyak dampak yang tidak baik bagi korban, mulai dari udara yang tercemar, tembok yang lembab, kehilangan harta bahkan kehilangan orang terdekat. Kejadian banjir sangatlah cepat, bukan bencana yang berhari-hari meresahkan masyarakat. Seperti gempa yang menghancurkan kota dalam 5 menit, banjir meratakan rumah dalam waktu kurang dari 1 jam. Datang lalu surut, meninggalkan lumpur dan menghancurkan barang-barang. Yang membuat bencana banjir dapat diingat adalah kejadian setelah banjir. Ketika harus membersihkan lumpur, mengungsi sementara rumah dibersihkan dan melihat barang yang berubah warna bahkan berubah wujud. Banjir juga akan selalu datang di daerah yang lebih rendah saat musim hujan. Yang dapat dilakukan masyarakat yang terbiasa menjadi korban banjir adalah persiapan penyimpanan barang berharga ditempat yang tinggi, waspada pada derasnya air sungai sehingga dapat di umumkan siaga satu hingga siaga tiga bahkan segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi setelah barang diamankan jika perlu. Di beberapa daerah yang sangat rendah, sudah dilarang oleh pemerintah setempat untuk dijadikan tempat tingggal, karena hal tersebut sangat bahaya bagi masyarakat yang bertempat tinggal di tempat tersebut. Banjir yang datang ke daerah sangat rendah tingginya mencapai atap rumah atau kurang lebih 4-6 meter. Perahu karet sudah disiapkan tentunya, akan tetapi tidak menutup kemungkinan korban kematian selalu saja ada karena kecepatan arus banjir yang tidak sebanding dengan kecepatan penyelamatan korban. Korban yang tidak bisa berenang dan panikaku tentunya terancam nyawanya.


Dengan lingkungan yang sering terkena banjir, masyarakat sekitar sangat mudah terkena penyakit. Mulai dari malaria, demam berdarah, diare hingga pneumonia. Termasuk saya pada saat itu sangat sering terkenan diare karena air yang tidak bersih. Beberapa tetangga juga mengalami penyakit kulit akibat air yang dipakai mandi tidak jernih. Tanaman yang tadinya indah menghiasi halaman rumah menjadi tanaman penuh lumpur yang tidak enak dipandang bahkan beberapa dari tanaman mati dan hilang terbawa arus banjir. Bahkan seringkali ditemukan binatang-binatang sungai di dalam rumah seperti biyawak, siput kali hingga ular air. Lain dengan bencana gunung meletus yang membawa dampak subur untuk tanah setelah 4-5 tahun kemudian, banjir sama sekali tidak membuat tanah menjadi subur.


Banjir terjadi karena volume air yang berlebih tidak bisa dibendung lagi karena penuhnya sampah di muara. Arus yang sangat deras dapat membuat tanggul di sungai jebol sehingga air sungai masuk ke pemukiman warga. Banjir yang datang dari dataran tinggi juga sering terjadi, ketika bendungan air di dataran tinggi sudah sangat penuh maka pintu air akan dibuka sehingga air sungai mengalir ke tempat yang lebih rendah. Salah satu upaya yang bisa dilakukan sebagai masyarakat yang berempati pada sesama adalah tidak membuang sampah di selokan, sungai bahkan muara. Terlebih sampah yang dibuang adalah sampah yang tidak dapat diuraikan oleh air seperti rambut, plastik, kaca dan bahan kedap air lainnya. Buanglah sampah pada tempat pembuangan karena setelah ditempat pembuangan akan dipilah dan diolah lebih lanjut oleh pihak pengolah sampah.

Semoga artikel ini bermanfaat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x