Mohon tunggu...
Yanti Sriyulianti
Yanti Sriyulianti Mohon Tunggu... Berbagilah Maka Kamu Abadi

Ibu dari 3 anak yang sudah beranjak dewasa, aktif menggiatkan kampanye dan advokasi Hak Atas Pendidikan dan Perlindungan Anak bersama Sigap Kerlip Indonesia, Gerakan Indonesia Pintar, Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak, Kultur Metamorfosa, Sandi KerLiP Institute, Rumah KerLiP, dan Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan di Indonesia sejak 1999. Senang berjejaring di KPB, Planas PRB, Seknas SPAB, Sejajar, dan Semarak Indonesia Maju. Senang mengobrol dan menulis bersama perempuan tangguh di OPEreT.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Mengapa Kita Tidak Boleh Mempercayakan Pendidikan Dasar Ananda Tercinta kepada Guru SD Sepenuhnya

31 Januari 2020   06:56 Diperbarui: 31 Januari 2020   07:15 71 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Kita Tidak Boleh Mempercayakan Pendidikan Dasar Ananda Tercinta kepada Guru SD Sepenuhnya
Logo Semarak Indonesia Maju mengadopsi logo SRA san Kemenag

Tahukah Anda bahwa kata almamater bermakna ibu yang mengasuh?

Istilah almamater berjalin kelindan dengan istilah sekolah. Dulu, sekolah hanya mengambil alih sebagian  fungsi pengasuhan sampai usia tertentu  (scola matterna). Namun karena berbagai alasan, fungsinya berubah menjadi lembaga pengasuhan dan pembelajaran di luar rumah sebagai pengganti orang tua (scola in loco).  Tak mengherankan jika harapan sekolah menjadi rumah kedua dan guru menjadi orangtua di sekolah makin menguat. 

Pengharapan yang berlebihan dari orangtua dan beragam ukuran yang memberondong, memaksa sekolah meninggalkan makna "waktu luang". Guru dan tenaga kependidikan pun tegopoh-gopoh untuk memenuhi keduanya. Perubahan paradigma pendidikan dari teacher centered menjadi  student centered makin jauh panggang dari api.  

Upaya multipihak untuk mendorong penyelenggara pendidikan menyatakan mau menuju Sekolah Ramah Anak adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai rumah kedua bagi anak-anak kita. Kebijakan merdeka belajar dan guru penggerak membuka peluang lebih besar lagi bagi para penyelenggara pendidikan untuk berkomitmen menuju Sekolah Ramah Anak.

Kampanye Orangtua Belajar

Menyadari pentingnya memperkuat kemitraan tripusat pendidikan untuk mendukung kebijakan Mendikbud, Rumah KerLiP, kolaborasi Sigap Kerlip Indonesia, Keluarga Peduli Pendidikan,dan Sandi Kerlip Institute, bersama para pegiat pendidikan keluarga yang bergabung di Asosiasi Semua Murid Semua Guru menyiapkan kampanye #OrangtuaBelajar  mulai di Sulawesi Selatan. 

"Kami berupaya tumbuh bersama guru Agama Islam, guru dan tenaga kependidikan di madrasah untuk menggerakkan 20.000 keluarga di Sulawesi Selatan mengikuti kampanye #OrangtuaBelajar dengan mendaftar melalui aplikasi android SEMARAK Indonesia Maju. Keluarga-keluarga ini akan mendapatkan  bimbingan pengasuhan positif dari relawan terlatih.

Secara paralel, ayah akan didorong menjadi penggerak Kiblat dengan Gerakan Nasional Baca Buku (Gernas Baku) setiap Jumat, sedangkan ibu dilatih untuk menjadi Katana. Kegiatan perdana kami laksanakan bersama Kemenag Gowa dan pendampingannya si Desa Majannang bersama Forum Puspa Maros dan Desa Parigi Gowa bersama Sekolah Sungai Jeneberang, " ujar Yanti Sriyulianti, Pembina Sigap Kerlip Indonesia. 

Yanti menegaskan bahwa kita sebagai orangtua tidak boleh mempercayakan pendidikan dasar anak-anak sepenuhnya kepada guru SD/MI.  Saat ini Pemerintah baru saja bergegas untuk memerdekakan guru dari berbagai belenggu tersebut. 

Sudah seharusnya, sebagai orangtua, kita mengambil kembali hak prerogratif mendidik anak-anak tercinta. Menurutnya kampanye #OrangtuaBelajar ini adalah salah satu upaya Rumah KerLiP dan mitra untuk menambah sekolah, madrasah, masjid ramah anak atau SEMARAK Indonesia Maju.

VIDEO PILIHAN